Mengenai Saya

Foto Saya
Hallo. My formal education : SMPN 4 Bekasi, SMAN 4 Bekasi. I'm a university student in Gunadarma University. Faculty of Economics. Bachelor Degree of Management. Strata 1. Class 3 EA 10 ( superior class ). NPM 10208241 Please visit http://10208241.student.gunadarma.ac.id/kursus.html http://10208241.student.gunadarma.ac.id/tugas.html My handphone number +62 856 9755 2992. Give priority to education. Competence, idea, initiative, optimist, logical, spirit. Working with professionalism. I really believe with my ability.. I love my Friends & family.. Friends and family are everything.. :)

Jumat, 05 November 2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MIE INSTAN MEREK SEDAAP

 



Mata Kuliah Softskill : Perilaku Konsumen.


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MIE INSTAN MEREK SEDAAP




DAFTAR ISI


ABSTRAKSI .....................................................................................................      
BAB   I     PENDAHULUAN
                  A.  Latar Belakang Masalah Penelitian......................................     1
                  B.  Perumusan Masalah...............................................................     3
                  C.  Tujuan Penelitian.....................................................................     3
                  D.  Kegunaan Penelitian..............................................................     4
BAB   II    LANDASAN TEORI
                  A.  Teori Yang Melandasi Permasalahan..................................     5
                        1.   Pengertian Pemasaran.....................................................     5
2.   Manajemen Pemasaran...................................................     6
                        3.   Pengertian Produk.............................................................     6
                        4.   Pengertian perilaku konsumen.......................................     7
                        5.   Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen                 9
                        6.   Peran konsumen dalam membeli...................................   19
                        7.   Jenis-jenis tingkah laku keputusan pembelian............   20
                        8.   Proses Keputusan Membeli.............................................   23
                        9.   Hasil Penelitian Terdahulu Yang Relevan....................   28
                  B.  Hipotesis....................................................................................   29

BAB   III   METODE PENELITIAN

                  A.  Identifikasi dan Definisi Konseptual Variabel.....................   30
                  B.  Definisi Operasional Variabel................................................   32
                  C.  Ruang Lingkup Penelitian.....................................................   33
                  D.  Lokasi Penelitian......................................................................   34
                  E.  Populasi, dan Sampel.............................................................   34
                  F.   Jenis Sumber Data..................................................................   35
                  G.  Teknik Pengumpulan Data....................................................   36
                  H.  Uji Validitas dan Reliabilitas...................................................   37
                  I.    Teknik Analisis Data................................................................   39
BAB   IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL
                  PENELITIAN
                  A.  Hasil Penelitian........................................................................   43
                        1.   Sejarah Universitas Merdeka Malang.............................   43
                        2.   Gambaran umum mahasiswa konsumen
                              produk mie sedap...............................................................   48
                  B.  Pembahasan Hasil Penelitian...............................................   50
                        1.   Deskripsi Responden........................................................   50
                        2.   Deskripsi Variabel Penelitian...........................................   52
                        3.   Pengujian Instrumen Penelitian
                              (Uji Validitas dan Realibilitas)..........................................   62
                        4.   Analisis Data.......................................................................   65
                  C.  Implikasi Hasil Penelitian.......................................................   72
BAB   V   KESIMPULAN DAN SARAN
                  A.  Kesimpulan...............................................................................   73
                  B.  Saran..........................................................................................   74

 

DAFTAR PUSTAKA












ABSTRAKSI

            Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu produk makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak digemari masyarakat karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar berdomisili jauh dari orang tua, produk ini merupakan makanan cepat saji yang biasa dikonsumsi karena harganya yang terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang tahan lama. Dengan semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola pembeliannya. Dengan banyaknya merk mie instan yang ada di pasaran akan mendorong perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi yang tepat, misalnya mengubah kemasan, warna, aroma, promosi dan harga. Lebih jauh lagi produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar konsumen berusaha agar produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.
      Dari uraian tersebut di atas maka judul penelitian ini adalah: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Produk Mie Instan Merek Sedaap (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang).
      Penelitian ini bertujuan untuk:1) Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh perilaku konsumen yang terdiri dari faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis  terhadap keputusan untuk membeli produk mie instan merek sedaap,  2) Untuk mengetahui diantara faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologi yang berpengaruh dominan terhadap keputusan mahasiswa untuk membeli produk mie instan merek sedaap. Dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan menggunakan sampel sebanyak 40 responden mahasiswa didapatkan hasil sebagai berikut: Dari hasil analisis didapatkan bahwa variabel faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap dan variabel psikologis mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap.














BAB I

PENDAHULUAN

 


A.        Latar Belakang Permasalahan Penelitian

                   Perkembangan teknologi dan industri membawa dampak bagi kehidupan manusia terutama dunia usaha pada saat ini. Di samping itu banyaknya usaha yang bermunculan baik perusahaan kecil maupun besar  berdampak pada persaingan yang ketat antar perusahaan baik yang sejenis maupun yang tidak sejenis. Oleh karena itu pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam menghadapi persaingan, pengembangan usaha dan untuk mendapatkan laba, sehingga perusahaan dapat mengembangkan produknya, menetapkan harga, mengadakan promosi dan mendistribusikan barang dengan efektif.
      Pada umumnya perusahaan mengalami kesulitan dalam memonitor, memahami dan menganalisis perilaku konsumen secara tepat dan benar, mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dan adanya perbedaan perilaku untuk masing-masing individu. Dengan  demikian perusahaan dituntut untuk dapat memantau perubahan-perubahan perilaku konsumennya, termasuk perilaku konsumen untuk mendapatkan atau memilih produk.
Produk mie instan sebagaimana diketahui adalah salah satu produk makanan cepat saji yang semakin lama semakin banyak digemari masyarakat karena kemudahan dalam hal penyajiannya. Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar berdomisili jauh dari orang tua, produk ini merupakan makanan cepat saji yang biasa dikonsumsi karena harganya yang terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang tahan lama. Dengan semakin banyaknya mie instan yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih merk yang sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu perlu bagi perusahaan untuk menganalisis perilaku konsumen mie instan untuk mengetahui pola pembeliannya. Dengan banyaknya merk mie instan yang ada di pasaran akan mendorong perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi yang tepat, misalnya mengubah kemasan, warna, aroma, promosi dan harga. Lebih jauh lagi produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar konsumen berusaha agar produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.
Keanekaragaman konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari diri konsumen maupun luar konsumen. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen diantaranya adalah faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis.Dari uraian tersebut di atas maka judul penelitian ini adalah: Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Produk Mie Instan Merek Sedaap.

B.  Perumusan Masalah
                   Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat ditarik perumusan masalah sebagai berikut:
      1.   Bagaimana pengaruh faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis terhadap keputusan mahasiswa untuk membeli produk mie instan merek sedaap?
2.    Dari faktor Budaya, sosial, pribadi, dan psikologis diatas, faktor mana yang berpengaruh dominan terhadap keputusan untuk membeli produk mie instan merek sedaap?

C.        Tujuan Penelitian

                   Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat disusun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.    Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh perilaku konsumen yang terdiri dari faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis  terhadap keputusan untuk membeli produk mie instan merek sedaap         
2.    Untuk mengetahui diantara faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologi yang berpengaruh dominan terhadap keputusan mahasiswa untuk membeli produk mie instan merek sedaap.
D.  Manfaat Penelitian
      1.   Bagi perusahaan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dan masukan bagi pihak perusahaan untuk mengetahui faktor dominan yang menjadi pertimbangan  konsumen untuk mengkonsumsi produk yang ditawarkan sehingga pihak perusahaan akan dapat senantiasa menyusun strategi dalam rangka memenuhi harapan konsumen.
      2.   Bagi penulis, selain sebagai syarat menyelesaikan pendidikan, juga dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bidang ilmu manajemen pemasaran, dan melatih penulis untuk dapat menerapkan teori-teori yang diperoleh dari perkuliahan.
      3.   Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dan referensi untuk penelitian selanjutnya.


BAB II

LANDASAN TEORI


A.   Teori Yang Melandasi Permasalahan
                   Dalam rangka memperoleh suatu pedoman guna lebih memperdalam masalah, maka perlu dikemukakan suatu landasan teori yang bersifat ilmiah. Dalam landasan teori ini dikemukakan teori yang ada hubungannya dengan materi-materi yang digunakan dalam pemecahan masalah yaitu  teori-teori tentang perilaku konsumen dan keputusan pembelian.
      1.   Pengertian Pemasaran
                        Pengertian pemasaran mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar penjualan dan periklanan. Tjiptono (2002:7) memberikan definisi pemasaran adalah:
                                          Suatu proses sosial dan manajerial dimana individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, pewarnaan, dan pertukaran segala sesuatu yang bernilai dengan orang atau kelompok lain.

                        Sedangkan Assauri (1999:4) mendefinisikan pemasaran: “Sebagai usaha menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat”.
                        Dari definisi di atas menunjukkan bahwa pemasaran merupakan serangkaian prinsip untuk memilih pasar sasaran (target market), mengevaluasi kebutuhan konsumen, mengembangkan barang dan jasa, pemuas keinginan, memberikan nilai kepada konsumen dan laba bagi perusahaan.
      2.   Manajemen Pemasaran
                        Manajemen pemasaran merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan yang ditujukan untuk mengatur proses pertukaran.
                        Menurut Tjiptono (2002:16) adalah:
                                          Manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi penentuan harga, promosi dan distribusi barang, jasa dan gagasan untuk menciptakan pertukaran dengan kelompok sasaran yang memenuhi tujuan pelanggan dan organisasi.


                        Sedangkan menurut Rismiati (2001:33) adalah:
                                          Sebagai analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian atas program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan menjaga pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan organisasional.


      3.   Pengertian Produk
                        Pada dasarnya sebagian besar keuntungan yang didapat oleh perusahaan berasal dari kepuasan konsumen dalam menikmati produknya. Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang berkualitas dengan harga yang relatif murah. Untuk itu perusahaan dalam proses kegiatan produksi haruslah mengerti dan tahu dengan benar akan arti dari produk itu sendiri.
                        Kotler et.al (2000:212) mengemukakan bahwa produk adalah: “Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan”.
                        Selanjutnya produk itu dijelaskan lebih lanjut oleh Lamb, Charles et. al (2001:414): “Produk didefinisikan sebagai segala sesuatu baik yang menguntungkan maupun tidak yang diperoleh seseorang melalui pertukaran”.
                        Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa produk adalah segala sesuatu yang memiliki nilai untuk dipasarkan untuk dibeli, dipergunakan atau dikonsumsi untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan.
      4.   Pengertian perilaku konsumen
                        Perilaku konsumen menyangkut masalah keputusan yang diambil seseorang dalam persaingannya dan penentuan untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa.
                        Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli setiap hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa mereka membeli. Pemasar dapat mempelajari apa yang dibeli konsumen untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengenai apa yang mereka beli, dimana dan berapa banyak, tetapi mempelajari mengenai alasan tingkah laku konsumen bukan hal yang mudah,  jawabannya     seringkali tersembunyi jauh dalam benak konsumen.
                        Pengertian perilaku konsumen seperti diungkapkan oleh Mowen (2002:6) mengatakan: “Studi tentang unit pembelian (buying unit)  dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan, barang, jasa, pengalaman serta ide-ide”.
                        Swastha dan Handoko (2000:10) mengatakan:
                        Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan menentukan kegiatan-kegiatan tertentu.

                        Dari pengertian di atas maka perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan dan hubungan sosial yang dilakukan oleh  konsumen perorangan, kelompok maupun organisasi untuk menilai, memperoleh dan menggunakan barang-barang serta jasa melalui proses pertukaran atau pembelian yang diawali dengan proses pengambilan keputusan yang menentukan tindakan-tindakan tersebut.
      5.   Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
                        Dalam memahami perilaku konsumen perlu dipahami siapa konsumen, sebab dalam suatu lingkungan yang berbeda akan memiliki penelitian, kebutuhan,  pendapat, sikap dan selera yang berbeda.


                        Menurut Kotler (2001:144):
                                          Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah kebudayaan, faktor sosial, pribadi, psikologis. Sebagian faktor-faktor tersebut tidak diperhatikan oleh pemasar tetapi sebenarnya harus diperhitungkan untuk mengetahui seberapa jauh faktor-faktor perilaku konsumen tersebut mempengaruhi pembelian konsumen.       

Gambar 1
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku Konsumen
Kebudayaan
 
Sumber : (Kotler, 2001:144)
                        Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
            a.   Faktor kebudayaan
                              Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari lembaga-lembaga penting lainnya.
                              Faktor kebudayaan memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada tingkah laku konsumen. Pemasar harus mengetahui peran yang dimainkan oleh:


                  1)   Budaya
                                    Budaya adalah kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan tingkah laku  yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.
                                    Menurut Kotler dan Amstrong (1997:144) termasuk dalam budaya ini adalah pergeseran budaya serta nilai nilai dalam keluarga.
                  2)   Sub budaya
                                    Sub budaya adalah sekelompok orang dengan sistem nilai terpisah berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang umum.
                                    Sub budaya termasuk nasionalitas, agama, kelompok ras, dan wilayah geografis.
                  3)   Kelas sosial
                                    Kelas sosial adalah divisi masyarakat yang relatif permanen dan teratur dengan para anggotanya menganut nilai-nilai, minat dan tingkah laku yang serupa.
            b.   Faktor sosial
                              Kelas sosial merupakan Pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
                              Kelas sosial ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan dan variabel lain. Dalam beberapa sistem sosial, anggota dari kelas yang berbeda memelihara peran tertentu dan tidak dapat mengubah posisi sosial mereka.
                              Tingkah laku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, yaitu:
                  1)   Kelompok
                                    Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama. Beberapa merupakan kelompok primer yang mempunyai interaksi reguler tapi informal-seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan sekerja. Beberapa merupakan kelompok sekunder, yang mempunyai interaksi lebih formal dan kurang reguler. Ini mencakup organisasi seperti kelompok keagamaan, asosiasi profesional dan serikat pekerja.
                  2)   Keluarga
                                    Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan telah diteliti secara mendalam, pemasar tertarik dalam peran dan pengaruh suami, istri dan anak-anak pada pembelian berbagai produk dan jasa.
                  3)   Peran dan status
                                    Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan dilakukan seseorang menurut orang-orang yang ada disekitarnya. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Orang seringkali memilih produk yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.
            c.   Faktor pribadi
                              Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan.
                              Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu:
                  1)   Umur dan tahap daur hidup
                                    Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli selama masa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot dan rekreasi sering kali berhubungan dengan umur. Membeli juga dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga, tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan kedewasaannya. Pemasar seringkali menentukan sasaran pasar dalam bentuk tahap daur hidup dan mengembangkan produk yang sesuai serta rencana pemasaran untuk setiap tahap.
                  2)   Pekerjaan
                                    Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Pemasar berusaha mengenali kelompok pekerjaan yang mempunyai minat di atas rata-rata akan produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan dapat melakukan spesialisasi dalam memasarkan produk menurut kelompok pekerjaan tertentu.
                  3)   Situasi ekonomi
                                    Situasi ekonomi sekarang akan mempengaruhi pilihan produk. Pemasar produk yang peka terhadap pendapatan mengamati kecenderungan dalam pendapatan pribadi, tabungan dan tingkat minat. Bila indikator ekonomi menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, memposisikan kembali dan mengubah harga produknya.
                  4)   Gaya hidup
                                    Pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam aktivitas (pekerjaan, hobi, berbelanja, olahraga, kegiatan sosial), minat (makanan, mode, keluarga, rekreasi) dan opini yang lebih dari sekedar kelas sosial dan kepribadian seseorang, gaya hidup menampilkan pola bereaksi dan berinteraksi seseorang secara keseluruhan di dunia.
                  5)   Kepribadian dan Konsep Diri
                                    Kepribadian setiap orang jelas mempengaruhi tingkah laku membelinya. Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologi unik yang menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan dirinya sendiri. Kepribadian biasanya diuraikan dalam arti sifat-sifat seperti rasa percaya diri, dominasi, kemudahan bergaul, otonomi, mempertahankan diri, kemampuan menyesuaikan diri, dan keagresifan. Kepribadian dapat bermanfaat untuk menganalisis tingkah laku konsumen untuk pemilihan produk atau merek tertentu.
            d.   Faktor psikologis
                              Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang
                              Pilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh faktor psikologi yang penting:
                  1)   Motivasi
                                    Kebutuhan yang cukup untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan.
                                    Dalam urutan kepentingan, jenjang kebutuhannya adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan pengaktualisasian diri. Mula-mula seseorang mencoba untuk memuaskan kebutuhan yang paling penting. Kalau sudah terpuaskan, kebutuhan itu tidak lagi menjadi motivator dan kemudian orang tersebut akan mencoba memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya. Misalnya orang yang kelaparan (kebutuhan fisiologis) tidak akan tertarik dengan apa yang terjadi dalam dunia seni (kebutuhan mengaktualisasikan diri), tidak juga pada bagaimana orang lain memandang dirinya atau penghargaan orang lain (kebutuhan sosial atau penghargaan), bahkan tidak tertarik juga pada apakah mereka menghirup udara bersih (kebutuhan rasa aman).
                                    Menurut Engel (2000:285): “Kebutuhan yang diaktifkan akhirnya menjadi diekspresikan dalam perilaku dan pembelian dan konsumsi dalam bentuk dua jenis manfaat yaitu : 1) manfaat utilitarian dan 2) Manfaat hedonik/pengalaman”.
                                    Dalam motif pembelian produk menurut Engel (2000:285) adalah dengan mempertimbangkan dua manfaat yaitu:             “Manfaat utilitarian merupakan atribut produk fungsional yang obyektif. Manfaat hedonik, sebaliknya mencakup respon emosional, kesenangan panca indera, mimpi dan pertimbangan-pertimbangan estetis”.


Gambar 2
Hirarki Kebutuhan Menurut Maslow
                  Sumber : (Kotler, 2001:197)
                                   
                  2)   Persepsi
                                    Persepsi adalah proses yang dilalui orang dalam memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti mengenai dunia.
                                    Seseorang yang termotivasi siap untuk bertindak. Bagaimana orang tersebut bertindak dipengaruhi oleh persepsinya mengenai situasi. Orang dapat membentuk persepsi berbeda dari rangsangan yang sama karena 3 macam proses penerimaan indera, yaitu:
                        a)   Perhatian selektif
                                          Kecenderungan bagi manusia untuk menyaring sebagian besar informasi yang mereka hadapi, berarti bahwa pemasar harus bekerja cukup keras untuk menarik perhatian konsumen.
                        b)   Distorsi selektif
                                          Menguraikan kecenderungan orang untuk meng-intepretasikan informasi dengan cara yang akan mendukung apa yang telah mereka yakini.
                        c)   Ingatan selektif
                                          Orang cenderung lupa akan sebagian besar hal yang mereka pelajari. Mereka cenderung akan mempertahankan atau mengingat informasi yang mendukung sikap dan keyakinan mereka. Karena adanya ingatan selektif.
                  3)   Pengetahuan
                                    Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam tingkah laku individual yang muncul dari pengalaman. Pentingnya praktik dari teori pengetahuan bagi pemasar adalah mereka dapat membentuk permintaan akan suatu produk dengan menghubungkannya dengan dorongan yang kuat, menggunakan petunjuk yang membangkitkan motivasi, dan memberikan peranan positif.


                                    Menurut Kotler (2000:157) menyatakan:
                                    Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam tingkah laku individual yang muncul dari pengalaman. Ahli teori pembelajaran mengatakan bahwa kebanyakan tingkah laku manusia dipelajari. Pembelajaran berlangsung melalui saling pengaruh dorongan, rangsangan, petunjuk respon dan pembenaran.


                  4)   Keyakinan dan sikap
                                    Melalui tindakan dan pembelajaran, orang mendapatkan keyakinan dan sikap. Keduanya ini, pada waktunya mempengaruhi tingkah laku membeli. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang mengenai sesuatu. Keyakinan didasarkan pada pengetahuan yang sebenarnya, pendapat atau kepercayaan dan mungkin menaikkan emosi atau mungkin tidak.
                                    Pemasaran tertarik pada keyakinan bahwa orang yang merumuskan mengenai produk dan jasa spesifik, karena keyakinan ini menyusun citra produk dan merek yang mempengaruhi tingkah laku membeli yang mempengaruhi tingkah laku membeli. Bila ada sebagian keyakinan yang salah dan menghalangi pembelian, pemasar pasti ingin meluncurkan usaha untuk mengkoreksinya.
                                    Sikap menguraikan evaluasi, perasaan dan kecenderungan dari seseorang terhadap suatu obyek atau ide yang relatif konsisten. Sikap menempatkan orang dalam suatu kerangka pemikiran mengenai menyukai atau tidak menyukai sesuatu mengenai mendekati atau menjauhinya.
                                    Menurut Kotler (2000:157) :
                                    Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang mengenai sesuatu. Keyakinan ini mungkin didasarkan pada pengetahuan sebenarnya, pendapat atau kepercayaan dan mungkin menaikkan emosi dan mungkin tidak.
                       
      6.   Peran konsumen dalam membeli
                        Menurut Engel et. Al (2000:31)  Keputusan pembelian adalah proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna  menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian.
                        Pemasar perlu mengetahui siapa yang terlibat dalam keputusan membeli dan peran apa yang dimainkan oleh setiap orang untuk banyak produk, cukup mudah untuk mengenali siapa yang mengambil keputusan.
                        Menurut Engel et. Al (2000:33) beberapa peran dalam keputusan membeli:
            a.   Pemrakarsa orang yang pertama menyarankan atau mencetuskan gagasan membeli produk atau jasa tertentu.
            b.   Pemberi pengaruh: orang yang pandangan atau sarannya mempengaruhi keputusan membeli.
            c.   Pengambil keputusan : orang yang akhirnya membuat keputusan membeli atau sebagian dari itu, apakah akan membeli, apa yang dibeli, bagaimana membelinya atau di mana membeli.
            d.   Pembeli : orang yang benar-benar melakukan pembelian
            e.   Pengguna : orang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa.


                        Mengetahui peserta utama proses pembelian dan peran yang mereka mainkan membantu pemasar untuk menyesuaikan program pemasaran.
      7.   Jenis-jenis tingkah laku keputusan pembelian
                        Semakin kompleks keputusan yang harus diambil biasanya semakin banyak pertimbangannya untuk membeli. Menurut (Kotler, 2000:160): adapun jenis-jenis tingkah laku membeli konsumen berdasarkan pada derajat keterlibatan dan tingkat perbedaan antara merek, yaitu:
            a.   tingkah laku membeli yang komplek
            b.   tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan.
            c.   tingkah laku membeli yang mencari variasi
            d.   tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan.
                  Penjelasan jenis-jenis tingkah laku tersebut adalah sebagai berikut:
            a.   Tingkah laku membeli yang kompleks
                              Tingkah laku membeli konsumen dalam situasi yang bercirikan keterlibatan tinggi konsumen dalam pembelian dan perbedaan besar yang dirasakan diantara merek.
                              Pembeli ini akan melewati proses pembelajaran, pertama mengembangkan keyakinan mengenai produk, kemudian sikap, dan selanjutnya membuat pilihan membeli yang dipikirkan masak-masak. Pemasar dari produk yang banyak melibatkan peserta harus memahami tingkah laku pengumpulan informasi dan evaluasi dari konsumen yang amat terlibat. Mereka perlu membantu pembeli belajar mengenai atribut kelas produk dan kepentingan relatif masing-masing, dan mengenai apa yang ditawarkan merk tertentu, mungkin dengan menguraikan panjang lebar keunggulan mereka lewat media cetak.
            b.   Tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan
                              Tingkah laku membeli konsumen dalam situasi yang bercirikan keterlibatan konsumen yang tinggi tetapi sedikit perbedaan yang dirasakan diantara merek. Tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan terjadi ketika konsumen amat terlibat dalam pembelian barang yang mahal, jarang dibeli dan beresiko tetapi melihat sedikit perbedaan diantara merek.
            c.   Tingkah laku membeli yang merupakan kebiasaan
                              Tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan  terjadi di bawah kondisi keterlibatan konsumen yang rendah dan perbedaan merek yang dirasakan besar.
                              Konsumen tampaknya mempunyai keterlibatan yang rendah dengan kebanyakan produk yang mempunyai harga murah dan sering dibeli.
                              Dalam hal ini, tingkah laku konsumen tidak diteruskan lewat urutan keyakinan – sikap – tingkah laku yang biasa. Konsumen tidak mencari informasi secara ekstensif mengenai merek mana yang akan dibeli. Sebaliknya, mereka secara pasif menerima informasi ketika menonton televisi atau membaca majalah. Pengulangan iklan menciptakan pengenalan akan merek bukan keyakinan pada merek. Konsumen tidak membentuk sikap yang kuat terhadap suatu merek; mereka memilih merek karena sudah dikenal. Karena keterlibatan mereka dengan produk tidak tinggi, konsumen mungkin tidak mengevaluasi pilihan bahkan setelah membeli. Jadi, proses membeli melibatkan keyakinan merek yang terbentuk oleh pembelajaran pasif, diikuti dengan tingkah laku membeli, yang mungkin diikuti atau tidak dengan evaluasi.
                              Karena pembeli tidak memberikan komitmen yang kuat pada suatu merek, pemasar produk yang kurang terlibat pada beberapa perbedaan merek seringkali menggunakan harga dan promosi penjualan untuk merangsang konsumen agar mau mencoba produk.
            d.   Tingkah laku membeli yang mencari variasi
                              Konsumen menjalani tingkah laku membeli yang mencari variasi dalam situasi yang ditandai oleh keterlibatan konsumen rendah, tetapi perbedaan merk dianggap berarti.
                              Dalam kategori produk seperti ini, strategi pemasaran mungkin berbeda untuk merk yang menjadi pemimpin pasar dan untuk merk yang kurang ternama. Perusahaan akan mendorong pencarian variasi dengan menawarkan harga rendah, penawaran khusus, kupon, sampel gratis, dan iklan yang menunjukkan alasan untuk mencoba sesuatu yang baru.
      8.   Proses Keputusan Membeli
                              Menurut (Kotler, 2000:204) tahap-tahap yang dilewati pembeli untuk mencapai keputusan membeli melewati lima tahap, yaitu:
                              a.   Pengenalan Masalah
                              b.   Pencarian Informasi
                              c.   Evaluasi alternatif
                              d.   Keputusan Membeli
                              e.   Tingkah laku pasca pembelian.

                              Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
            a.   Pengenalan masalah
                        Proses membeli dimulai dengan pengenalan masalah dimana pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.
            b.   Pencarian informasi
                              Seorang konsumen yang sudah terkait mungkin mencari lebih banyak informasi tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan konsumen kuat dan produk yang dapat memuaskan ada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan akan membelinya. Bila tidak, konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut.
                              Pengaruh relatif dari sumber informasi ini bervariasi menurut produk dan pembeli. Pada umumnya, konsumen menerima sebagian besar informasi mengenai suatu produk dari sumber komersial, yang dikendalikan oleh pemasar. Akan tetapi, sumber paling efektif cenderung sumber pribadi. Sumber pribadi tampaknya bahkan lebih penting dalam mempengaruhi pembelian jasa. Sumber komersial biasanya memberitahu pembeli, tetapi sumber pribadi membenarkan atau mengevaluasi produk bagi pembeli. Misalnya, dokter pada umumnya belajar mengenai obat baru cari sumber komersial, tetapi bertanya kepada dokter lain untuk informasi yang evaluatif.
            c.   Evaluasi alternatif
                              Tahap dari proses keputusan membeli, yaitu ketika konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk alternatif dalam perangkat pilihan. Konsep dasar tertentu membantu menjelaskan proses evaluasi konsumen. Pertama, kita menganggap bahwa setiap konsumen melihat produk sebagai kumpulan atribut produk. Kedua, konsumen akan memberikan tingkat arti penting berbeda terhadap atribut berbeda menurut kebutuhan dan keinginan unik masing-masing. Ketiga, konsumen mungkin akan mengembangkan satu himpunan keyakinan merek mengenai dimana posisi setiap merek pada setiap atribut. Keempat, harapan kepuasan produk total konsumen akan bervariasi pada tingkat atribut yang berbeda. Kelima, konsumen sampai pada sikap terhadap merek berbeda lewat beberapa prosedur evaluasi. Ada konsumen yang menggunakan lebih dari satu prosedur evaluasi, tergantung pada konsumen dan keputusan pembelian.
                              Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif barang yang akan dibeli tergantung pada masing-masing individu dan situasi membeli spesifik. Dalam beberapa keadaan, konsumen menggunakan perhitungan dengan cermat dan pemikiran logis. Pada waktu lain, konsumen yang sama hanya sedikit mengevaluasi atau tidak sama sekali; mereka membeli berdasarkan dorongan sesaat atau tergantung pada intuisi. Kadang-kadang konsumen mengambil keputusan membeli sendiri; kadang-kadang mereka bertanya pada teman, petunjuk bagi konsumen, atau wiraniaga untuk memberi saran pembelian.
                              Pemasar harus mempelajari pembeli untuk mengetahui bagaimana sebenarnya mereka mengevaluasi alternatif merek. Bila mereka mengetahui proses evaluasi apa yang sedang terjadi, pemasar dapat membuat langkah-langkah untuk mempengaruhi keputusan membeli.


            d.   Keputusan membeli
                              Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat merek dan membentuk niat untuk membeli. Pada umumnya, keputusan membeli konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor dapat muncul antara niat untuk membeli dan keputusan untuk membeli. Faktor pertama adalah sikap orang lain, yaitu pendapat dari orang lain mengenai harga, merek yang akan dipilih konsumen. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak diharapkan, harga yang diharapkan dan manfaat produk yang diharapkan. Akan tetapi peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan bisa menambah niat pembelian.
            e.   Tingkah laku pasca pembelian
                              Tahap dari proses keputusan pembeli, yaitu konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas atau tidak puas. Yang menentukan pembeli merasa puas atau tidak puas dengan suatu pembelian terletak pada hubungan antara harapan konsumen dengan prestasi yang diterima dari produk. Bila produk tidak memenuhi harapan, konsumen merasa tidak puas, bila memenuhi harapan konsumen merasa puas, bila melebihi harapan konsumen akan merasa puas.
                              Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi yang mereka terima dari penjual, teman dan sumber-sumber yang lain. Bila penjual melebih-lebihkan prestasi produknya, harapan konsumen tidak akan terpenuhi dan hasilnya ketidakpuasan. Semakin besar antara kesenjangan antara harapan dan prestasi, semakin besar ketidakpuasan kosumen. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli harus membuat pernyataan yang jujur mengenai prestasi produknya sehingga pembeli akan puas.

9.   Hasil Penelitian Terdahulu Yang Relevan


                  Rianawati (2005) judul “Analisis Pengaruh Faktor Dari Perilaku Konsumen Terhadap Pembelian Produk Aqua (Studi pada Masyarakat Desa Slimbung Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
             1)   Apakah faktor Kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi, faktor psikologis secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku konsumen  dalam penghambilan keputusan mengkonsumsi produk Aqua?
             2) Dari pengaruh faktor Kebudayaan, faktor sosial, faktor pribadi, faktor psikologis diatas mana yang berpengaruh dominan terhadap penghambilan keputusan mengkonsumsi produk Aqua?.
                        Dari hasil analisis didapatkan hasil uji hipotesis pertama bahwa variabel kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologis  secara simultan atau bersama-sama mempengaruhi keputusan konsumen dalam mengkonsumsi produk air minum merek Aqua dapat diterima atau teruji.
                        Hasil hipotesis kedua menunjukkan bahwa faktor psikologis secara parsial berpengaruh signifikan dan dominan terhadap keputusan mengkonsumsi produk air minum merek Aqua.
     

B.  Hipotesis

                  Hipotesis ini merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.
                  Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan telah dituangkan dalam kerangka pikir, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
      1.   Diduga bahwa faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap
      2.   Diduga bahwa pengaruh psikologis berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap. 


BAB III

METODE PENELITIAN



      A.   Identifikasi dan Definisi Konseptual Variabel
             1.   Identifikasi variabel
                   a.   Variabel bebas atau independent dalam penelitian ini adalah:
                        (x1)      Kebudayaan
                        (x2)      Sosial
                        (x3)      Pribadi
                        (x4)      Psikologi
b.    Variabel terikat (dependent) ini adalah: Keputusan menggunakan produk (y).
             2.   Definisi konseptual variabel
                   a.   Variabel bebas perilaku konsumen
                                      Menurut Kotler (2001: 144-157)
                        1)   Kebudayaan (X1)
                              Mendefinisikan : “Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari lembaga-lembaga penting lainnya”.


2)    Sosial (X2)                                              
                        Mendefinisikan : “Pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai-nilai, minat, dan perilaku yang serupa”.
3)    Pribadi (X3)   
            Mendefinisikan: “Karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan”.
                        4)   Psikologi (X4)
                              Mendefinisikan: “Sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang”.
                   b.   Variabel bebas keputusan pembelian
                                      Menurut Engel et.all, (2000:31): “Keputusan pembelian adalah proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna  menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian”.


      B.  Definisi Operasional Variabel
            1.   Kebudayaan (X1)
                  Merupakan suatu ciri khas dari sekumpulan orang yang diterapkan secara turun-temurun sebagai penuntun dari kehidupan mereka sehari-sehari.
                  Indikator dari  variabel tersebut terdiri dari:
                  a.   Pergeseran budaya
                  b.   Wilayah geografis
                  c.   Kelas sosial 
            2.   Sosial (X2)
                  Merupakan tingkat status sosial masyarakat atau keadaan ekonomi seseorang yang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan, tabungan dan milik kebanyakan, pekerjaan serta variabel-variabel yang lainnya:
                  Indikatornya adalah:
                  a.   Mengikuti lingkungan
                  b.   Pengalaman dari anggota keluarga
                  c.   Mengikuti teman
            3.   Pribadi (X3)
                              Merupakan suatu keadaan dimana seseorang mempunyai sifat untuk bisa menentukan keputusannya sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan dari pihak lain.
                  Adapun indikator dari variabel tersebut adalah:
                  a.   Uang saku
b.  Situasi ekonomi
b.   Gaya hidup
            4.   Psikologis (X4)
                              Merupakan suatu keadaan dimana seseorang mempunyai keinginan-keinginan yang berasal dari diri pribadinya untuk  menentukan keputusannya sesuai dengan keinginannya.
                  Indikatornya terdiri dari:
                  a.   Motivasi
                  b.   Persepsi
c.   Pengetahuan
            5.   Keputusan pembelian produk (Y)
                              Merupakan suatu tindakan konsumen dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya mengkonsumsi mie instan diikuti oleh kepuasan yang dirasakan oleh konsumen tersebut.
                  Dari variabel ini dapat ditentukan indikatornya antara lain:
                  a.   Menjatuhkan pilihan atau alternatif pada produk yang terbaik
                  b.   Pengambilan keputusan dilakukan secara sadar, rasional, obyektif dan terencana.
                  c.   Pembelian kembali


      C.  Ruang Lingkup Penelitian
                        Fokus penelitian ini lebih dititikberatkan pada bidang pemasaran yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam melakukan keputusan untuk melakukan pemberian produk mie instan merk Sedaap.
D.   Lokasi Penelitian
                        Lokasi penelitian ini dilakukan pada Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Malang.
E.  Populasi dan Sampel
                        Populasi adalah keseluruhan subyek/obyek penelitian. Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.
                  Populasi adalah totalitas dari semua obyek atau individu yang akan diteliti yang mana memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu, jelas, dan lengkap yang dianggap bisa mewakili populasi.
                  Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Fakultas Ekonomi Unmer Malang yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi produk mie instan merk sedaap, karena besar populasi tidak dapat diketahui secara pasti berapa jumlahnya,  oleh karena itu sulit mencari berapa jumlah populasi yang tepat.
                        Namun berdasarkan pendapat ahli seperti yang dikemukakan oleh Gay (dalam Hasan, 2002:68): “ukuran sampel minimum yang dapat diterima bisa dilihat berdasarkan pada desain atau metode penelitian yang digunakan. Jika desain penelitiannya deskriptif-korelasional, maka sampel minimum adalah 30”. Dan Menurut Supranto (1997:239) menyatakan bahwa: “Sampel penelitian meliputi sejumlah elemen (responden) yang lebih besar dari persyaratan minimal sebanyak 30 elemen atau responden”.
                        Dalam penelitian ini jumlah sampel yang ditentukan oleh peneliti adalah sebesar  40 orang dengan pertimbangan terbatasnya waktu, dana dan tenaga.
                        Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik accidental sampling. Teknik accidental sampling adalah teknik penarikan sampel secara kebetulan yaitu siapa saja yang kebetulan ditemui peneliti di lokasi penelitian yaitu pada FE Unmer Malang dimana kuesioner dibagikan kepada mahasiswa yang kebetulan pernah mengkonsumsi produk mie sedaap dengan melalui wawancara awal yang dilakukan penulis.
            F.         Jenis Sumber Data
            1.   Sumber data
                              Sumber data yang digunakan adalah data primer. Adapun data primernya dalam hal ini adalah data yang diperoleh dari jawaban responden  yang diteliti, yaitu berupa data mengenai pendapat atau fenomena dari obyek.
            2.   Skala Pengukuran
                              Penulis memperoleh langsung data-data yang dibutuhkan berdasarkan  dari keterangan dan informasi yang diberikan responden melalui angket (Kuesioner) yang telah disebarkan dengan metode skor, pemberian skor ini digunakan sistem skala lima, yaitu:
                  a.   Jawaban  a (Sangat setuju)            diberi skor 5
                  b.   Jawaban  b (Setuju)                                    diberi skor 4
                  c.   Jawaban  c (Cukup Setuju)           diberi skor 3
                  d.   Jawaban  d (Tidak Setuju)             diberi skor 2
                  e.   Jawaban  e (Sangat Tidak Setuju) diberi skor 1
      G.  Teknik Pengumpulan Data
                                                Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara acak untuk memperoleh sampel dari populasi yang dimaksud, agar diperoleh data yang baik maka dipilih dengan menggunakan metode:
            1.   Wawancara
                              Penulis mengadakan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang bersangkutan, yaitu para mahasiswa yang terpilih sebagai responden guna mendapatkan data-data yang diperlukan.
            2.   Kuesioner
                              Kuesioner yang dibagikan secara langsung oleh penulis kepada responden yang ditemui secara langsung di FE Unmer Malang
            3.   Dokumentasi
                        Dokumentasi, merupakan teknik pengumpulan data dengan cara membaca dan mengamati, mengolah laporan-laporan serta catatan yang menunjang penelitian ini.
      H.  Uji Validitas dan Reliabilitas
            1.   Uji Validitas
                              Uji validitas adalah untuk mengetahui tingkat kevalidan dari instrumen (kuesioner) yang digunakan dalam pengumpulan data. Uji validitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah item-item yang tersaji dalam kuesioner benar-benar mampu mengungkapkan dengan pasti apa yang akan diteliti.
                              Uji validitas ini diperoleh dengan cara mengkorelasi setiap skor indikator dengan total skor indikator variabel, kemudian hasil korelasi dibandingkan dengan nilai kritis pada taraf siginifikan 0,05. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud.
       Menurut Sugiyono (2004:138) : “Cara yang digunakan adalah dengan analisa Item, dimana setiap nilai yang ada pada setiap butir pertanyaan dikorelasikan dengan total nilai seluruh butir pertanyaan untuk suatu variabel dengan menggunakan rumus korelasi product moment”. Syarat minimum untuk dianggap valid adalah nilai r hitung > dari nilai r tabel.
Adapun perhitungan korelasi product moment, dengan rumus seperti yang dikemukakan oleh Arikunto (1998 : 220):
      Dimana:
      r     = Koefisien korelasi variabel bebas dan variabel terikat
      n    = Banyaknya sampel
      X   = Skor tiap item
      Y   = Skor total variabel
            2.   Uji Reliabilitas
                      Sedangkan uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui adanya konsistensi alat ukur dalam penggunaannya, atau dengan kata lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan berkali-kali pada waktu yang berbeda.
                              Menurut Arikunto (1998:145): “Untuk uji reliabilitas digunakan Teknik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan handal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan atau alpha sebesar 0,6 atau lebih.
     Pada penelitian ini perhitungan reliabilitas menggunakan rumus alpha (Arikunto, 1998: 138) sebagai berikut:
Dimana:
r11 = reliabilitas instrumen
k    = banyaknya butir pertanyan
= jumlah varians butir
                  = jumlah varians total
      I.    Teknik Analisis Data
                        Untuk mempermudah analisis digunakan aplikasi pengolah data SPSS.
            1.   Analisis Regresi Berganda
                              Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya menurut Sanusi, Anwar (2003:309) digunakan rumus analisis regresi linier berganda sebagai berikut:
                  y    =    a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e
                  dimana :
                  y                =    dependent variabel (pembelian)
                  a                =    konstata
                  b1, b2, b3,b4     =    koefisien regresi
                  n                =    banyaknya sampel
                  x1, x2, x3,x4      =    independent variabel.                    
            2.   Uji Hipotesis I (Uji F)
                              Untuk menguji kebenaran hipotesis pertama digunakan uji F yaitu untuk menguji keberartian/signifikansi regresi secara keseluruhan dengan rumus hipotesis sebagai berikut:
                  H0  :     b1 = b2 = b3 = b4 = 0, 
                              Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)
                  Ha  :     b1 ¹  b2 ¹ b3 ¹ b4 ¹  0
                              Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara  keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)
                              Pengujian dengan uji F variansnya adalah dengan membandingkan Fhitung (Fh) dengan Ftabel (Ft) pada a = 0,05 apabila hasil perhitungannya menunjukkan:
                  a.   Fh > Ft, maka H0 ditolak dan Ha diterima
                                    Artinya variasi dari model regresi berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)
                  b.   Fh < Ft, maka H0 diterima dan Ha ditolak
                                    Artinya variasi dari model regresi tidak berhasil menerangkan variasi variabel bebas secara  keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel tidak bebas (variabel terikat)


            3.   Uji Hipotesis II (Uji t)
                              Untuk menguji kebenaran hipotesis kedua langkah pertama yang dilakukan adalah pengujian secara parsial melalui uji t. Adapun rumusan hipotesis dengan menggunakan Uji t adalah sebagai berikut:
                  H0  :     b1 = b2 = b3 = b4 = 0
                              Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh diantara kedua variabel yang diuji
                  Ha  :     b1 ¹  b2 ¹ b3 ¹ b4 ¹  0
                              Artinya variasi variabel bebas tidak dapat menerangkan variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh antara dua variabel yang diuji.
                              Pengujian dilakukan melalui uji t dengan membandingkan thitung (th) dengan t tabel (tt) pada a 0,05. Apabila hasil perhitungan menunjukkan:
                  a.   th  ≥ tt  maka H0 ditolak dan Ha diterima
                        Artinya variasi variabel bebas dapat menerangkan variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh diantara kedua variabel yang diuji
                  b.   th < tt maka H0 diterima dan Ha ditolak
                        Artinya variasi variabel bebas tidak dapat menerangkan variabel tidak bebas (variabel terikat) dan terdapat pengaruh antara dua variabel yang diuji.
                        Untuk membuktikan hipotesis pertama, yaitu untuk mengetahui besarnya pengaruh secara keseluruhan dihitung koefisien determinasi multiplenya (R2). Jika R2 yang diperoleh dari hasil perhitungan mendekati 1 (satu), maka semakin kuat model tersebut dapat menerangkan  variabel tergantungnya. Kemudian dilakukan pengujian variansnya  dengan uji f.
                                    Hipotesis diterima apabila titik lebih besar dari t tabel    (th > tt) atau diperoleh harga p < 0,05.
                                    Untuk membuktikan hipotesis kedua, masing-masing koefisien regresinya diuji dengan uji t. Hasil uji t bermakna apabila diperoleh  t­hitung lebih besar dari ttabel (th > tt) atau diperoleh harga probabilitas signifikannya < 0,05 (a). Untuk pengaruh yang dominan ditentukan oleh koefisien regresi terbesar.



BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


A.            Hasil Penelitian
      1.   Sejarah Universitas Merdeka Malang
                        Sejarah Universitas Merdeka Malang dimulai dengan adanya suatu gagasan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang diilhami oleh sebaris kalimat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Modal utamanya adalah kemauan keras. Kemauan yang menjadi niat untuk menjawab tantangan zaman, berupa tuntutan masyarakat adanya Pendidikan Tinggi di Kota Malang.
                        Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Moch. Yamin, bulan Oktober 1954, di Kota Malang, merupakan dorongan perlunya suatu Perguruan Tinggi yang dapat melayani kebutuhan Warga Kota Malang yang jauh lebih luas. Dalam situasi demikian, gagasan mendirikan Perguruan Tinggi Swasta mendapat bentuknya sejak akhir tahun 1963.
                        Cikal bakal Universitas Merdeka Malang pada dasarnya adalah sebuah perguruan tinggi yang bernama Universitas Sawerigading yang berdiri pada tahun 1957. Universitas ini berpusat di Makassar dan membuka cabang di kota-kota besar di Jawa salah satunya di Kota Malang. Universitas ini membuka Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, dan Fakultas Ekonomi. Dalam mempertahankan eksistensinya, Perguruan Tinggi Swasta tersebut menarik banyak minat warga masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikannya. Waktu itu tuntutan masyarakat terhadap suatu Perguruan Tinggi Swasta masih sederhana. Gedung kuliah dan perlengkapan akademis tidaklah menjadi tuntutan utama. Keberadaan Perguruan Tinggi Swasta waktu itu hanyalah sebuah Papan Nama, dan tempat kuliah yang dapat disewa atau dipinjam dan Gedung Sekolah yang ada.
                        Denyut kehidupan Perguruan Tinggi Swasta itu baru nampak pada saat-saat Mahasiswanya diterima melalui perploncoan. Saat itulah Mahasiswanya dengan atribut tertentu mudah dikenali dan dibedakan dengan pelajar Sekolah Menengah. Keteraturan perkuliahan serta kelengkapan sarana Akademis belum menjadi kriteria yang penting. Dalam perjalanannya, Universitas Sawerigading menghentikan kegiatannya karena suatu sebab yang tidak dapat diatasi pengurusnya, sehingga mahasiswanya sebagian pindah ke Perguruan Tinggi Kotapraja Malang.
                                    Memasuki tahun enam puluhan, merupakan tahun optimisme bagi sejumlah orang yang bercita-cita untuk membangun kembali Pendidikan Tinggi Swasta. Pada suatu kunjungan ke beberapa cabang Universitas Sawerigading di Jawa, Presiden Universitas Sawerigading, Nuruddin Sjahadat, singgah di Surabaya. Dalam pertemuan itu, diputuskan pembukaan kembali Universitas Sawerigading cabang Malang pada tahun ajaran 1962-1963. Sebagai persiapan pembukaan kuliah itu, Sukiman Dahlan Saleh, dari Universitas Sawerigading Cabang Surabaya dan S. Dharma dari Cabang Semarang, ditunjuk untuk mengadakan persiapan. Pusat Perkantoran dan Sekretariat, dilaksanakan di rumah Jalan Kunir 15 Malang. Fakultas yang akan dibuka adalah Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, dan Fakultas Ekonomi.
                        Pembukaan kembali Universitas Sawerigading Cabang Malang ternyata menarik minat para anggota Angkatan Bersenjata, khususnya anggota Angkatan Darat, dan para Pegawai Negri dan Pegawai Swasta yang berhasrat menambah pengetahuannya.
                        Untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik, dibentuklah Dewan Pembina yang diketuai Edwin Soedardji, dengan persetujuan Presiden Sawerigading di Makasar. Sebagai tindak lanjut, disusunlah Pengurus Baru Universitas Sawerigading Cabang Malang, yang dikukuhkan dengan Surat Keputusan tanggal 30 November 1962. Sejak itu pusat kegiatan Perkantoran Universitas dari Jalan Kunir No. 15 dipindahkan ke Jalan Celaket No. 7 Malang (kini menjadi Jalan Jaksa Agung Suprapto No.7 Malang).
                        Berdasarkan Undang-Undang Perguruan Tinggi Nomor 22 tahun 1961, suatu Perguruan Tinggi Swasta yang dibentuk harus didirikan oleh suatu Badan Hukum. Oleh sebab itu, dibentuklah Yayasan Perguruan Tinggi Universitas Sawerigading, yang disyahkan dengan akta Notaris tanggal 20 Mei 1963.
                        Dengan adanya Yayasan itu, kedudukan Universitas Sawerigading di Malang oleh pendirinya dianggap otonom dalam arti pengelolahan Administratif dan Akademik, tidak tergantung lagi dengan Universitas Sawerigading yang berpusat di Makasar. Kehadiran Universitas Sawerigading di Malang tahun 1962 mendapat sambutan masyarakat dengan banyaknya Mahasiswa yang mendaftarkan diri. Dalam perjalanan selanjutnya, suatu masalah baru muncul ketika Pimpinan Universitas Sawerigading yang berpusat di Makasar, tidak dapat menerima kenyataan adanya keinginan Pendiri Universitas Sawerigading Cabang Malang, yang berdiri otonom. Masalah Status dan hubungan Organisatoris yang menyangkut kedua belah pihak, tidak dapat diselesaikan secara memuaskan. Sebagai akibatnya, maka para pendiri Universitas Sawerigading di Malang membubarkan diri, dengan cara pembatalan akta pendirian dan dinyatakan bubar sejak tanggal 28 Januari 1964.
                        Kemelut yang melanda Universitas Sawerigading Malang berakibat pembubaran universitas untuk yang kedua kalinya. Sehari setelah Yayasan Universitas Sawerigading Malang dinyatakan bubar, maka pada tanggal 29 Januari 1964, beberapa pengurus Yayasan mengadakan rapat di Jalan Celaket No. 7 Malang guna memperoleh Keputusan untuk menampung bekas Mahasiswa Universitas Sawerigading.
                        Untuk maksud tersebut, maka perlu didirikan Lembaga Pendidikan Tinggi baru, kemudian Lembaga Pendidikan Tinggi tersebut diberi nama “Universitas Merdeka”.
                        Serentak dengan Keputusan mendirikan universitas yang baru, para peserta rapat sepakat untuk segera membentuk Yayasan sebagai syarat yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1961. Untuk maksud itu, disusunlah konsep akta pendiriannya untuk memenuhi ketentuan perundangan Perguruan Tinggi. Akta Pendirian Yayasan barulah diresmikan pada tanggal 5 Juli 1964. Pada awal berdirinya, Yayasan bernama: Yayasan Perguruan Tinggi Universitas Merdeka, Pusat Malang, nama yang dipakai sampai tahun 1972, diketuai oleh M. Dhawam Abdul Ghani. Dalam akta itu berisi pernyataan berdirinya Yayasan Perguruan Tinggi Merdeka Malang, Mukadimah Anggaran Dasar, Peraturan-Peraturan yang terdiri dan Pasal 1 sampai Pasal 8.
                        Sejak akta yang pertama, dibuat hingga dewasa ini, telah diadakan perubahan, penyempurnaan, dan tambahan, melalui akta Nomor 32 tahun 1972, dan akta Nomor 122 tahun 1983, yang diilhami oleh kalimat-kalimat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Diantaranya adalah tujuan untuk mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas. Pada periode ini Yayasan berhasil menjalin hubungan Struktural dengan Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Malang. Sebagai tindak lanjut hubungan itu adalah berupa pengakuan kepada Universitas Merdeka, pengakuan itu tertuang dengan Surat Keputusan tanggal 18 Mei 1964 Dengan Surat Pengakuan itu, berarti adanya pengakuan Pemerintah Daerah kepada Universitas Merdeka, sebagai suatu lembaga Pendidikan Tinggi Swasta. Dengan itu pula menjadi tanggung jawab Pemerint.ah Daerah untuk memberi bimbingan dan pengawasan atas penyelenggaraannya.
      2.   Gambaran umum mahasiswa konsumen produk mie sedaap
                        Saat ini ada kecenderungan pada sebagian masyarakat terutama di kalangan mahasiswa dalam kebutuhan akan karbohidrat tidak hanya terpenuhi dengan mengkonsumsi nasi. Adanya tuntutan bahwa segala sesuatu harus serba cepat dan praktis, maka mie instan menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan pangan tersebut. Hal ini terjadi karena selain praktis, harga mie instan relatif lebih murah dan tersedia dalam berbagai macam pilihan rasa.
                         Mie instant merupakan salah satu jenis makanan yang paling populer di Asia Timur dan di Asia Tenggara. Dengan berkembangnya produk mie dan teknologi pembuatan mie, salah satunya adalah mie instan yang merupakan mie yang tiap helainya telah mengalami pengerasan serta dilengkapi dengan bumbu, minyak sayur serta sayur kering yang terpisah kemasannya. Mie instan bisa langsung dikonsumsi setelah dituangi air panas (untuk mie instan yang ada dalam kemasan sterofoam) atau dimasak dahulu ± 3 menit untuk mie instan yang berada dalam kemasan plastik.
                        Di Indonesia, saat ini telah beredar berbagai macam mie instan dengan berbagai macam rasa. Satiap merk memiliki karakteristik tersendiri. Biasanya setiap merk menawarkan dua jenis mie instan yaitu mie rebus dan mie goreng, dan masing-masing jenis memiliki rasa yang berbeda. Harga dari setiap merk bervariasi.
                        Buat mahasiswa, mie bisa jadi merupakan menu tetap saat kalang kabut kelaparan tengah malam. Selain murah dan mudah memasaknya, mie juga mengandung gizi yang diperlukan tubuh, apalagi kalau diramu dengan sayur-sayuran.
                        Diantara bermacam produk mie yang beredar di pasaran terdapat dua merek terkenal yang merajai pasaran dan banyak dikonsumsi oleh mahasiswa diantaranya adalah Indomie (Indofood) dan Mie Sedaap Goreng (Wings food). Mie Sedaap yang fenomenal berhasil menggebrak dan sempat merebut pasar mie gorengan instant Indonesia, karena dengan rasa yang enak dan porsi yang bisa dibilang lebih banyak sedikit daripada merk mie yang lain. Hal ini membuat produk mie sedaap bukan cuma makanan favorit mahasiswa Unmer, tetapi juga mahasiswa dari hampir semua negara Asia.
                 


B.         Pembahasan Hasil Penelitian
      1.   Deskripsi Responden
                        Responden mahasiswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 responden adalah mahasiswa yang pernah mengkonsumsi produk mie instan merek sedaap.Gambaran mengenai responden yang menjadi sampel penelitian adalah sebagai berikut:
                   Jenis kelamin responden penelitian dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 1

Jenis Kelamin Responden Mahasiswa

Konsumen Produk Mie Instan Merk Sedaap

Jenis Kelamin
Jumlah Responden (Orang)
Persentase (%)
Laki-Laki
30
75,0
Perempuan
10
25,0
JUMLAH
40
100
Sumber: Data primer diolah, 2006
                        Tabel di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang menjawab kuesioner adalah responden yang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 30 responden atau (75,0%) dan sisanya adalah responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 10 responden (25%).
                        Sedangkan responden menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut ini:


Tabel 2

Usia Responden Mahasiswa

Konsumen Produk Mie Instan Merk Sedaap

Usia Responden
Jumlah Responden (Orang)
Persentase (%)
Kurang dari 20 tahun
6
15,0
20 tahun
15
37,5
diatas 20 tahun
19
47,5
JUMLAH
40
100
Sumber: Data primer diolah, 2006

                        Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa responden  yang menjadi responden dalam penelitian ini sebagian besar adalah yang berusia lebih dari 20 tahun yaitu sebanyak 19 orang responden (47,5%).
                        Sedangkan responden menurut kiriman orang tua per bulan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3

Kiriman orang tua per bulan Responden Mahasiswa

Konsumen Produk Mie Instan Merk Sedaap

Kiriman Orang Tua Per Bulan
Jumlah Responden (Orang)
Persentase (%)
Dibawah Rp. 500.000,-
4
10.0
Rp. 500.000,- s/d Rp. 1.000.000,-
20
50.0
Rp. 1.000.000,- s/d Rp. 1.500.000,-
6
15.0
Diatas Rp. 1.500.000,-
10
25.0
JUMLAH
40
100
Sumber: Data primer diolah, 2006

                        Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa responden  yang menjadi responden dalam penelitian ini sebagian besar adalah yang mendapat kiriman antara Rp. 500.000,- s/d Rp. 1.000.000,-dari orang tuanya yaitu sebanyak 20 orang responden (50,0%).
      2.   Deskripsi Variabel Penelitian
                        Dari hasil penelitian yang dilakukan, tanggapan responden terhadap kuesioner yang disebarkan berdasarkan variabel dapat dilihat sebagai berikut:
            a.   Variabel Budaya (X1)
                  Dengan indikator atau pertanyaan:
X1.1 :    Pergeseran budaya
X1.2 :    Wilayah geografis
X1.3 :     Kelas sosial
                              Adapun jawaban dari responden penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut ini:


Tabel 4

Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Budaya (X1)
Terhadap Keputusan Pembelian (Y)
                 
Item
Kuesioner/Jawaban
Jumlah
Frekuensi
(%)
1.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena sudah terbiasa mengkonsumsi produk sebagai pengganti nasi
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju



13
5
22
-
-



32.5
12.5
55.0
-
-
2.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena mudah di peroleh di wilayah tempat tinggal
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


11
8
21
-
-


27.5
20.0
52.5
-
-
3.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena dapat mencerminkan kelas sosial
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


16
5
19
-
-


40.0
12.5
47.5
-
-
      Sumber: Data primer diolah, 2006
                              Dari tabel diatas dapat diketahui item pertama didominasi oleh jawaban cukup setuju, yaitu sejumlah 22 responden atau 55,0%. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena sudah terbiasa mengkonsumsi produk sebagai pengganti nasi.
                                                                        Pada item kedua jawaban cukup setuju merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 21 orang atau  52,5%  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena mudah di peroleh di wilayah tempat tinggal
                                                                        Pada item ketiga jawaban cukup setuju juga merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 19 orang atau  47.5%  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena dapat mencerminkan kelas sosial
                              Dari item pertanyaan yang ditanyakan kepada responden sebagian besar menyatakan cukup setuju sehingga dapat dijelaskan bahwa faktor kebudayaan akan dapat meningkatkan keputusan pembelian konsumen terhadap produk mie merek sedaap.
            b.   Variabel Sosial (X2)
                  Dengan indikator atau pertanyaan:
X2.1 :    Mengikuti lingkungan
X2.2 :    Pengalaman dari anggota keluarga
X2.3 :    Mengikuti teman
                  Adapun jawaban dari responden penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut ini:


Tabel 5

Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Sosial (X2)
Terhadap Keputusan Membeli (Y)
                 
Item
Keterangan
Jumlah
Frekuensi
(%)
1.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena kebiasaan mengkonsumsi mie instan di sekitar lingkungan anda saat ini
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju



14
4
22
-
-



14
4
55.0
-
-
2.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya pengalaman dari anggota keluarga sebelumnya
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju



12
7
21
-
-



30.0
17.5
52.5
-
-
3.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya pengaruh dari teman
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


14
6
20
-
-


35.0
15.0
50.0
-
-
      Sumber: Data primer diolah, 2006.
                              Dari tabel diatas dapat diketahui item pertama didominasi oleh jawaban cukup setuju, yaitu sejumlah 22 orang atau 55.0%. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena kebiasaan mengkonsumsi mie instan di sekitar lingkungan anda saat ini.
                              Pada item kedua jawaban cukup setuju  merupakan jawaban yang paling banyak didapatkan dengan jumlah 21 orang atau  52.5%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden cukup setuju jika  mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya pengalaman dari anggota keluarga sebelumnya.
                                                                        Pada item ketiga jawaban cukup setuju merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 20 orang atau  50,0%  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya pengaruh dari teman.
                              Dari ketiga item pertanyaan yang diajukan kepada responden didapatkan jawaban sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika faktor sosial yang mendorong konsumen untuk membuat keputusan pembelian adalah berasal dari pengaruh lingkungan, pengalaman anggota keluarga  dan mengikuti teman.
            c.   Variabel Pribadi (X3)
                  Dengan indikator atau pertanyaan:
X3.1 :    Uang saku
X3.2 :    Situasi ekonomi
                  X3.3 :    Gaya hidup
                  Adapun jawaban dari responden penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut ini:


Tabel 6

Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Pribadi (X3)
Terhadap Keputusan Membeli (Y)
                 
Item
Keterangan
Jumlah
Frekuensi
(%)
1.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena menyesuaikan dengan uang saku anda
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


12
7
21
-
-


30.0
17.5
52.5
-
-
2.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena menyesuaikan dengan situasi ekonomi
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


12
9
19
-
-


30.0
22.5
47.5
-
-
3.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena dapat mencerminkan gaya hidup anda
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


14
7
19
-
-


35.0
17.5
47.5
-
-
      Sumber: Data primer diolah, 2006.
                              Dari tabel diatas dapat diketahui item pertama didominasi oleh jawaban cukup setuju, sejumlah 21 orang atau 52.5%. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena menyesuaikan dengan uang saku responden
                                                                        Pada item kedua jawaban cukup setuju merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 19 orang atau  47.5%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena menyesuaikan dengan situasi ekonomi
                                        Pada item ketiga jawaban cukup setuju juga merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 19 responden (47,5%)  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena dapat mencerminkan gaya hidup.
                              Dari ketiga item pertanyaan yang diajukan kepada responden didapatkan jawaban cukup setuju adalah jawaban yang paling mendominasi sehingga dapat dijelaskan bahwa faktor pribadi yang mendorong konsumen untuk membuat keputusan pembelian adalah berasal dari uang saku, situasi ekonomi, dan gaya hidup.
            d.   Variabel Psikologis (X4)
                  Dengan indikator atau pertanyaan:
X4.1 :    Motivasi
X4.2 :    Persepsi
                  X4.3 :    Pengetahuan
                  Adapun jawaban dari responden penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut ini:


Tabel 7

Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Psikologis (X4)
Terhadap Keputusan Membeli (Y)
                 
Item
Keterangan
Jumlah
Frekuensi
(%)
1.
Anda termotivasi mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena praktis dan mudah di dapat
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


11
10
19
-
-


27.5
25.0
47.5
-
-
2.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya persepsi atas iklan produk mie instan tersebut
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju



10
10
20
-
-



25.0
25.0
50.0
-
-
3.
Anda mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya pemahaman atas kandungan gizi produk
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju


11
10
19
-
-


27.5
25.0
47.5
-
-
      Sumber: Data primer diolah, 2006.
                              Dari tabel diatas dapat diketahui item pertama didominasi oleh jawaban cukup setuju, sejumlah 19 orang atau 47,5%. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan cukup setuju jika termotivasi mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena praktis dan mudah di dapat
                                        Pada item kedua jawaban cukup setuju merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 20 orang atau  50,0%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika  mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya persepsi atas iklan produk mie instan tersebut
                                        Pada item ketiga jawaban cukup setuju merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 19 orang atau  47,5%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika  mengkonsumsi produk mie instan Merek Sedaap karena adanya pemahaman atas kandungan gizi produk.
                              Dari ketiga item pertanyaan yang ditanyakan kepada responden didapatkan bahwa jawaban cukup setuju adalah jawaban yang paling mendominasi sehingga dapat dijelaskan bahwa faktor psikologis yang mendorong konsumen untuk membuat keputusan pembelian adalah berasal dari faktor motivasi, persepsi dan pengetahuan.
            e.   Variabel Terikat Keputusan Pembelian Produk (Y)
                  Dengan indikator atau pertanyaan:
Y1 :      Menjatuhkan pilihan atau alternatif pada produk yang terbaik
Y2 :      Pengambilan keputusan dilakukan secara sadar, rasional, obyektif dan terencana.
                  Y3 :      Pembelian kembali
                  Adapun jawaban dari responden penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut ini:


Tabel 8

Distribusi Jawaban Dari Berbagai Item Keputusan Pembelian (Y)

Item
Keterangan
Jumlah
Frekuensi
(%)
1.
Dengan membeli mie instan merk Sedaap berarti anda telah menjatuhkan pilihan atau alternatif pada produk yang terbaik
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju



11
8
21
-
-



27.5
20.0
52.5
-
-
2.
Dengan membeli mie instan merk Sedaap berarti anda telah melakukan pengambilan keputusan dilakukan secara sadar, rasional, obyektif dan terencana.
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju




12
10
18
-
-




30.0
25.0
45.0
-
-
3.
Dengan membeli mie instan merk Sedaap dan merasakannya anda akan terdorong untuk melakukan pembelian kembali
a.    Sangat Setuju
b.    Setuju
c.    Cukup Setuju
d.    Tidak Setuju
e.    Sangat Tidak Setuju



15
7
18
-
-



37.5
17.5
45.0
-
-
      Sumber: Data primer diolah, 2006
                              Dari tabel diatas dapat diketahui item pertama didominasi oleh jawaban cukup setuju, sejumlah 21 orang atau 52,5%. Hal ini menunjukkan bahwa responden pada umumnya menyatakan cukup setuju jika dalam pengambilan keputusan untuk membeli produk mie instan merek Sedaap karena merasa telah menjatuhkan pilihan atau alternatif pada produk yang terbaik.
                                                                        Pada item kedua jawaban cukup setuju juga merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 18  orang atau  45,0%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika dalam pengambilan keputusan untuk membeli produk mie instan merek Sedaap karena telah melakukan pengambilan keputusan dilakukan secara sadar, rasional, obyektif dan terencana..
                                                                        Pada item ketiga jawaban cukup setuju juga merupakan jawaban yang paling banyak muncul dengan jumlah 18 orang atau  45,5%.  Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan cukup setuju jika setelah merasakan produk mie instan merek Sedaap akan melakukan pembelian kembali.
      3.   Pengujian Instrumen Penelitian (Uji Validitas dan Realibilitas)
            a.   Uji validitas
                              Sebuah instrumen dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang hendak diukur dari variabel yang diteliti. Teknik yang digunakan untuk uji validitas ini adalah “korelasi product moment” dari Pearson dengan tingkat kepercayaan 95% (a = 0,05) dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor masing-masing item dengan skor totalnya.
                              Adapun hasil uji validitas dengan menggunakan bantuan aplikasi program SPSS dapat disajikan dalam tabel berikut ini:


Tabel 9
Hasil Uji Validitas Butir Kuesioner

No
Butir Dalam Kuesioner
Koefisien Korelasi (r)
Nilai Kritis (r-tabel)
Sig.2ta iled         (p-level)
Taraf Sig.   (α = 0,05)
Keterangan
1.
X1.1
0.933
0,312
0.000
0,05
Valid
2.
X1.2
0.923
0,312
0.000
0,05
Valid
3.
X1.3
0.965
0,312
0.000
0,05
Valid
4.
X2.1
0.945
0,312
0.000
0,05
Valid
5.
X2.2
0.924
0,312
0.000
0,05
Valid
6.
X2.3
0.976
0,312
0.000
0,05
Valid
7.
X3.1
0.954
0,312
0.000
0,05
Valid
8.
X3.2
0.985
0,312
0.000
0,05
Valid
9.
X3.3
0.978
0,312
0.000
0,05
Valid
10.
X4.1
0.992
0,312
0.000
0,05
Valid
11.
X4.2
0.981
0,312
0.000
0,05
Valid
12.
X4.3
0.980
0,312
0.000
0,05
Valid
13.
Y1
0.923
0,312
0.000
0,05
Valid
14.
Y2
0.975
0,312
0.000
0,05
Valid
15.
Y3
0.968
0,312
0.000
0,05
Valid
Sumber : Data Primer yang diolah, 2006
                             
                              Sesuai dengan Arikunto (1998:136) bahwa apabila r hitung > r tabel, maka dapat dikatakan bahwa suatu instrumen adalah valid. Dari hasil pengujian validitas pada tabel 9 dapat dilihat bahwa keseluruhan item variabel penelitian mempunyai r hitung > r tabel yaitu pada taraf signifikan 95% ( a=0,05) dan n = 40 diperoleh r tabel = 0,312, maka dapat diketahui r hasil tiap-tiap item > 0,312 sehingga dapat dikatakan bahwa keseluruhan item variabel penelitian adalah valid untuk digunakan sebagai instrument dalam penelitian atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti.
            b.   Uji Reliabilitas
                              Sedangkan uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui adanya konsistensi alat ukur dalam penggunaannya, atau dengan kata lain alat ukur tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan berkali-kali pada waktu yang berbeda.
                              Menurut Arikunto (1998:145): “Untuk uji reliabilitas digunakan Teknik Alpha Cronbach, dimana suatu instrumen dapat dikatakan handal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan atau alpha sebesar 0,6 atau lebih.
                              Adapun hasil uji reliabilitas yang dilakukan terhadap instrumen penelitian ini dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 10
Hasil Pengujian Reliabilitas
No
Butir Dalam Kuesioner
Nilai Alpha
Status
1.
X1
0.9344
Reliabel
2.
X2
0.9442
Reliabel
3.
X3
0.9708
Reliabel
4.
X4
0.9841
Reliabel
5.
Y
0.9517
Reliabel
                          Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
                              Teknik pengujian reliabilitas item menggunakan metode alpha cronbach. Hasil pengujian reliabilitas diperoleh nilai koefisen Alpha untuk variabel (X1) sebesar 0,9344, (X2) sebesar 0,9442, (X3) sebesar 0,9708, (X4) sebesar 0,9841 dan (Y) sebesar 0,9517. Hal tersebut dapat dikatakan nilai koefisien reliabilitas berkisar antara 0 sampai dengan 1 semakin mendekati 1 menunjukkan bahwa item semakin reliabel. Hal ini berarti bahwa item pertanyaan yang digunakan akan mampu memperoleh data yang konsisten dalam arti jika pertanyaan tersebut diajukan lagi akan diperoleh jawaban yang relatif sama dengan jawaban pertama.                         
      4.   Analisis Data

                        Rekapitulasi hasil analisa korelasi dan regresi linier berganda selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 11
Rekapitulasi Hasil Analisa Regresi Berganda

Variabel
Koefisien Regresi
t hitung
Prob.     (sig. t)
(a = 0,05)
 X1 (Kebudayaan)
 X2 (Sosial)
 X3 (Pribadi)
 X4 (Psikologis)
0.117
0.155
0.266
0.464
0.810
1.441
3.400
5.201
0.424
0.159
0.002
0.000
Konstata
F hitung
Adjust R2
R Square (R2)
R
0.102
550.850
0.984
0.983
0.992


Variabel terikat = Y (Keputusan Pembelian produk)
         Sumber : Data primer yang diolah, 2006.                         
            a.   Analisis Regresi Linier Berganda
                  Y =       0,102 + 0,117X1 + 0,155X2 + 0,266X3 + 0,464X4
                  a =  0,102 adalah bilangan konstanta yang berarti apabila variabel bebas yaitu X1, X2, X3, dan X4 sama dengan nol, maka besarnya variabel Y (Keputusan pembelian produk) adalah 0,102. Dengan kata lain jika variabel bebas perilaku konsumen nilainya dianggap nol berarti besarnya adalah 0,102. Karena besarnya keputusan pembelian produk tidak dapat digambarkan secara kuantitatif, jika tidak ada variabel perilaku konsumen (budaya, sosial, pribadi dan psikologis) masih ada kecenderungan.
                  b1 =   0,117 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X1 Kebudayaan yang berarti setiap peningkatan (penambahan) variabel X1 kebudayaan berupa peningkatan pergeseran budaya, wilayah geografis, dan kelas sosial akan meningkatkan variabel terikat Y (keputusan pembelian produk) sebesar 0,117. Dengan asumsi variabel bebas lainnya (X2, X3, dan X4) konstan. Jika variabel kebudayaan, ada kecenderungan meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat. Jika variabel kebudayaan ada kecenderungan menurun maka keputusan konsumen juga akan menurun.
                  b2 =   0,155 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X2 sosial yang berarti setiap peningkatan (penambahan) variabel X2 sosial berupa mengikuti lingkungan, pengalaman anggota keluarga dan mengikuti teman akan meningkatkan variabel terikat Y (keputusan pembelian produk) sebesar 0,155. Dengan asumsi variabel bebas lainnya (X1, X3, dan X4) konstan. Jika variabel sosial, ada kecenderungan meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat. Jika variabel sosial ada kecenderungan menurun maka keputusan konsumen juga akan menurun.
                  b3 =   0,266 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X3 pribadi yang berarti setiap peningkatan (penambahan) variabel X3 pribadi berupa uang saku, situasi ekonomi  dan gaya hidup akan meningkatkan variabel terikat Y (keputusan pembelian produk) sebesar 0,266. Dengan asumsi variabel bebas lainnya (X1, X2, dan X4) konstan. Jika variabel pribadi, ada kecenderungan meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat. Jika variabel pribadi ada kecenderungan menurun maka keputusan konsumen juga akan menurun.
                  b4 =   0,464 adalah besarnya koefisien regresi variabel bebas X4 psikologis yang berarti setiap peningkatan (penambahan) variabel X4 psikologis berupa motivasi, persepsi  dan pengetahuan akan meningkatkan variabel terikat Y (keputusan pembelian produk) sebesar 0,464. Dengan asumsi variabel bebas lainnya (X1, X2, dan X3)  konstan. Jika variabel psikologis, ada kecenderungan meningkat maka keputusan pembelian akan meningkat. Jika variabel psikologis ada kecenderungan menurun maka keputusan konsumen juga akan menurun.
                                    Dari persamaan regresi tersebut dapat dilihat bagaimana pengaruh variabel bebas (X1, X2, X3, X4) terhadap variabel terikat (Y). Pengaruh positif menunjukkan bahwa perubahan variabel bebas (X1, X2, X3, X4) akan searah dengan perubahan keputusan pembelian konsumen (Y)
                  a)   Uji F (Pengujian Hipotesis I)
                                    Hasil analisis data dengan menggunakan program SPSS 11.0 for windows dapat disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 12
Tabel Anova Hasil Analisis Data
            Sumber : Data Diolah        

                        Dari tabel di atas didapatkan hasil F hitung sebesar 550,850 dengan tingkat signifikan  0.000, serta df penyebut 4 dan df pembilang sebesar 35.
                                    Untuk menguji hipotesis pertama: diduga bahwa faktor kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap digunakan Uji F. Uji F dilakukan dengan membandingkan F hitung dengan F Tabel pada taraf nyata a = 0,05
                        Berdasarkan tabel 12 dapat disimpulkan bahwa F hitung sebesar 550,850 > dari F tabel 2,63 yang berarti bahwa pada taraf nyata a = 0,05 variabel faktor budaya (X1), sosial (X2), pribadi (X­3) dan psikologis (X4) secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap (Y) dapat diterima atau teruji pada taraf nyata a = 0,05. Selain itu untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel terikat terhadap variabel bebas secara bersama-sama dengan membandingkan antara probabilitas signifikan (0,000) dengan a (0,05). Dimana, jika probabilitas < a maka variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Dengan demikian hipotesis I teruji secara statistik.
            c.   Uji t (Pengujian Hipotesis II)
                              Untuk menguji hipotesis kedua yang menyatakan bahwa diduga variabel psikologis (X4) mempunyai pengaruh yang dominan terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap (Y), maka dalam penelitian ini melihat besarnya masing-masing nilai t hitung dari variabel bebas. Adapun signifikasi dari masing-masing koefisien diuji dengan menggunakan uji parsial t-test tampak pada tabel sebagai berikut:


Tabel 13

Perbandingan t-hitung dengan taraf signifikan (α = 5%)
Variabel
Nilai                 t-hitung
Nilai              t-tabel
Prob.
Sig. t
Keterangan
X1
X2
X3
X4
0.810
1.441
3.400
5.201
2.021
2.021
2.021
2.021
0.424
0.159
0.002
0.000
Tidak signifikan
Tidak signifikan
Signifikan
Signifikan
Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
      Sumber : Data primer yang diolah, 2006.
                              Dari tabel 13 dapat diketahui hasil koefisien t hitung menunjukkan bahwa variabel budaya (X1) mempunyai nilai t hitung sebesar (0,810) lebih kecil dibandingkan dengan nilai t tabel pada taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan budaya (X1) tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instant merek Sedaap (Y).
                              Hasil koefisien t hitung menunjukkan bahwa variabel sosial (X2) mempunyai nilai t hitung sebesar (1,441) lebih kecil dibandingkan dengan nilai t tabel pada taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan variabel sosial (X2) tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instant merek Sedaap (Y).
                              Hasil koefisien t hitung variabel pribadi (X3) mempunyai nilai t hitung sebesar (3,400) lebih besar dibandingkan dengan nilai t tabel pada taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan variabel pribadi (X3) mempunyai pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk mie instant merek Sedaap (Y).
                              Hasil koefisien t hitung variabel psikologis (X4) mempunyai nilai t hitung sebesar (5,201) lebih besar dibandingkan dengan nilai t tabel pada taraf nyata sebesar (2,021), atau dapat dikatakan variabel psikologis (X4) berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk mie instant merek Sedaap (Y).
                              Dari tabel di atas dapat dijelaskan juga bahwa variabel psikologis (X4)  mempunyai nilai t-hitung yang paling besar jika dibandingkan dengan nilai t hitung variabel lainnya. Selain itu juga diketahui koefisien regresi variabel psikologis (X4)  yang lebih besar dibandingkan koefisien regresi lainnya. Sehingga hipotesis kedua yang menyatakan bahwa variabel psikologis berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap teruji secara statistik.
            d.   R square (R2)
                              Dari hasil analisis diperoleh nilai adjusted R square (R2) sebesar 0,983 hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas (X1, X2, X3, dan X4) secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap variabel terikat Y (keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap) sebesar 98,3% dan setelah disesuaikan nilai sisanya sebesar 1,7% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

C.  Implikasi Hasil Penelitian

                  Dari hasil analisis data yang dilakukan di atas, didapatkan hasil bahwa keempat variabel perilaku konsumen (kebudayaan, sosial, pribadi dan psikologis) pada mahasiswa FE Unmer Malang secara simultan ternyata berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk mie instant merek Sedaap. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian konsumen pada bergantung pada keempat faktor perilaku konsumen terdiri dari budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Namun dari uji parsial hanya variabel pribadi dan psikologis yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
                  Dengan diketahui bahwa variabel psikologis mempunyai pengaruh yang siginifikan dan dominan terhadap keputusan pembelian maka dalam hal ini  yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh perusahaan atau produsen untuk meningkatkan penjualannya dengan selalu berupaya untuk memahami psikologis konsumen maupun calon konsumen melalui motif membeli, persepsi tentang produk maupun pengetahuan tentang produk.
                  Produk mie instant yang  dijual dengan berbagai macam rasa  terbukti mampu memotivasi konsumen untuk membeli. Hal ini terlihat dari respon konsumen (mahasiswa) terhadap kuesioner yang diberikan,  melalui variabel perilaku konsumen yang terdiri faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis”.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


A.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan berikut disampaikan kesimpulan:
      1.   Dari hasil analisis didapatkan bahwa variabel faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap keputusan pembelian produk mie instan merek Sedaap.
      2.   variabel psikologis mempunyai pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk mie instan merk Sedaap.
B.   Saran
                  Dari hasil penelitian, analisis dan kesimpulan di atas, berikut beberapa saran yang dapat disampaikan:
      1.   Mengingat keberadaan mie Sedaap dikalangan mahasiswa FE Unmer Malang mudah didapat, harga terjangkau, iklan, dan kandungan gizi hendaknya kondisi tetap terjaga agar konsumen tidak berpindah ke merek lain. Dengan demikian saluran distribusi perlu di jaga.
      2.   Karena pengaruh faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi  dan pengetahuan menjadi pertimbangan konsumen dalam melakukan keputusan pembelian pada produk mie instant merek Sedaap, maka perusahaan (produsen mie instan merek Sedaap) lebih hati-hati  karena dari konsumen yang diteliti yaitu mahasiswa terlihat keputusan beli mereka tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain, daya beli sedang dan kebanyakan belum berpenghasilan sehingga faktor perimbangan harga dan kualitas menjadi pertimbangan tersendiri
      3.   Dari besarnya nilai koefisien determinasi maupun kontribusi yang diberikan oleh faktor perilaku konsumen terhadap keputusan pembelian menunjukkan bahwa masih diperlukan adanya penelitian lanjutan bagi peneliti lain untuk meneliti  variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini, karena munculnya sebuah perilaku pembelian konsumen merupakan akibat dari banyak faktor antara lain marketing mix (produk, harga, promosi dan distribusi), situasional (lingkungan sosial, lingkungan fisik, dampak sementara, dan keadaan sebelumnya).



DAFTAR PUSTAKA




Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi. Cetakan Kesembilan. Rineka Cipta. Jakarta.

Assauri, Sofjan. 1999. Manajemen Pemasaran. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada Jakarta.

Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Statistik II: Statistik Inferensial. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

J. Paul, et.al. 2000. Consumer Behavior. Jilid Satu. Edisi Keempat.

Kotler, Philip dan AB. Susanto. 2001. Manajemen Pemasaran Indonesia. Buku 2.  Salemba empat. Jakarta.

Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Jilid 2. Bumi Aksara. Jakarta.

Lamb, Charles. W. et.al. 2001. Pemasaran. Buku I Edisi Pertama. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.

Mowen. H. 2002. Perilaku Konsumen. Jilid I. Penerbit. Andi. Yogyakarta.

Rianawati, Eka Ana, 2005. Analisis Pengaruh Faktor Dari Perilaku Konsumen Terhadap Pembelian Produk Aqua (Studi pada Masyarakat Desa Slimbung Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Skripsi. Universitas Merdeka Malang.

Rismiati, Catur. dan Bondan Sutrisno. 2001. Pemasaran Barang dan Jasa. Kanisius. Jakarta.

Sanusi, Anwar. 2003. Metodologi Penelitian Praktis Untuk Ilmu Sosial dan Ekonomi. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Penerbit Buntara Media. Malang

Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Pertama. Penerbit CV. Alpha Beta. Bandung.

Supranto, J. 1997. Metode Peramalan Kuantitatif Untuk Perencanaan Ekonomi dan Bisnis. Rineka Cipta. Jakarta.






Swasta, Basu dan Handoko, T. Hani. 2000. Manajemen Barang dalam Pemasaran. Cetakan Kedua BPFE, Yogjakarta.

Tjiptono, Fandy. 2002. Strategi Pemasaran. Edisi Kedua. Cetakan Keenam. Penerbit. Andy. Yogyakarta.








































Summarize



Frequencies
Frequency Table


Frequencies
Frequency Table


Frequencies
Frequency Table


Frequencies
Frequency Table


Frequencies
Frequency Table


Correlations
Correlations


Correlations
Correlations


Correlations


Reliability
 ****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_



  R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S   -   S C A L E   (A L P H A)

  1.     X1.1
  2.     X1.2
  3.     X1.3

                             Mean        Std Dev       Cases

  1.     X1.1              3.7750          .9195        40.0
  2.     X1.2              3.7500          .8697        40.0
  3.     X1.3              3.9250          .9443        40.0

                                                   N of
Statistics for       Mean   Variance    Std Dev  Variables
      SCALE       11.4500     6.6128     2.5715          3


Item-total Statistics

               Scale          Scale      Corrected
               Mean         Variance       Item-            Alpha
              if Item        if Item       Total           if Item
              Deleted        Deleted    Correlation        Deleted

X1.1           7.6750         3.0455        .8481           .9177
X1.2           7.7000         3.2410        .8352           .9280
X1.3           7.5250         2.8199        .9148           .8638



Reliability Coefficients

N of Cases =     40.0                    N of Items =  3

Alpha =    .9344


Reliability
 ****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_



  R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S   -   S C A L E   (A L P H A)

  1.     X2.1
  2.     X2.2
  3.     X2.3

                             Mean        Std Dev       Cases

  1.     X2.1              3.8000          .9392        40.0
  2.     X2.2              3.7750          .8912        40.0
  3.     X2.3              3.8500          .9213        40.0

                                                   N of
Statistics for       Mean   Variance    Std Dev  Variables
      SCALE       11.4250     6.8147     2.6105          3


Item-total Statistics

               Scale          Scale      Corrected
               Mean         Variance       Item-            Alpha
              if Item        if Item       Total           if Item
              Deleted        Deleted    Correlation        Deleted

X2.1           7.6250         3.0609        .8739           .9265
X2.2           7.6500         3.3103        .8357           .9543
X2.3           7.5750         2.9686        .9442           .8707



Reliability Coefficients

N of Cases =     40.0                    N of Items =  3

Alpha =    .9442


Reliability
 ****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_



  R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S   -   S C A L E   (A L P H A)

  1.     X3.1
  2.     X3.2
  3.     X3.3

                             Mean        Std Dev       Cases

  1.     X3.1              3.7750          .8912        40.0
  2.     X3.2              3.8250          .8738        40.0
  3.     X3.3              3.8750          .9111        40.0

                                                   N of
Statistics for       Mean   Variance    Std Dev  Variables
      SCALE       11.4750     6.7686     2.6017          3


Item-total Statistics

               Scale          Scale      Corrected
               Mean         Variance       Item-            Alpha
              if Item        if Item       Total           if Item
              Deleted        Deleted    Correlation        Deleted

X3.1           7.7000         3.1385        .8981           .9845
X3.2           7.6500         3.0538        .9664           .9362
X3.3           7.6000         2.9641        .9481           .9490



Reliability Coefficients

N of Cases =     40.0                    N of Items =  3

Alpha =    .9708


Reliability
 ****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_



  R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S   -   S C A L E   (A L P H A)

  1.     X4.1
  2.     X4.2
  3.     X4.3

                             Mean        Std Dev       Cases

  1.     X4.1              3.8000          .8533        40.0
  2.     X4.2              3.7500          .8397        40.0
  3.     X4.3              3.8000          .8533        40.0

                                                   N of
Statistics for       Mean   Variance    Std Dev  Variables
      SCALE       11.3500     6.2846     2.5069          3


Item-total Statistics

               Scale          Scale      Corrected
               Mean         Variance       Item-            Alpha
              if Item        if Item       Total           if Item
              Deleted        Deleted    Correlation        Deleted

X4.1           7.5500         2.7667        .9827           .9639
X4.2           7.6000         2.8615        .9567           .9821
X4.3           7.5500         2.8179        .9558           .9827



Reliability Coefficients

N of Cases =     40.0                    N of Items =  3

Alpha =    .9841


Reliability
 ****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ******
_



  R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S   -   S C A L E   (A L P H A)

  1.     Y1.1
  2.     Y1.2
  3.     Y1.3

                             Mean        Std Dev       Cases

  1.     Y1.1              3.7500          .8697        40.0
  2.     Y1.2              3.8500          .8638        40.0
  3.     Y1.3              3.9250          .9167        40.0

                                                   N of
Statistics for       Mean   Variance    Std Dev  Variables
      SCALE       11.5250     6.4096     2.5317          3


Item-total Statistics

               Scale          Scale      Corrected
               Mean         Variance       Item-            Alpha
              if Item        if Item       Total           if Item
              Deleted        Deleted    Correlation        Deleted

Y1.1           7.7750         3.1019        .8328           .9771
Y1.2           7.6750         2.8917        .9435           .8956
Y1.3           7.6000         2.7590        .9228           .9108



Reliability Coefficients

N of Cases =     40.0                    N of Items =  3

Alpha =    .9517


Regression