Mengenai Saya

Foto Saya
Hallo. My formal education : SMPN 4 Bekasi, SMAN 4 Bekasi. I'm a university student in Gunadarma University. Faculty of Economics. Bachelor Degree of Management. Strata 1. Class 3 EA 10 ( superior class ). NPM 10208241 Please visit http://10208241.student.gunadarma.ac.id/kursus.html http://10208241.student.gunadarma.ac.id/tugas.html My handphone number +62 856 9755 2992. Give priority to education. Competence, idea, initiative, optimist, logical, spirit. Working with professionalism. I really believe with my ability.. I love my Friends & family.. Friends and family are everything.. :)

Jumat, 05 November 2010

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERILAKU KONSUMEN YANG MEMPENGARUHI FREKUENSI BELI KONSUMEN PADA SUPERMAKET PAMELLA I YOGYAKARTA






Mata Kuliah Softskill : Perilaku Konsumen.


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERILAKU KONSUMEN YANG MEMPENGARUHI FREKUENSI BELI KONSUMEN PADA SUPERMAKET PAMELLA I YOGYAKARTA




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Setiap manusia selalu berusaha memenuhi keinginan dan kebutuhan hidup dengan sebaik-baiknya. Usaha pemenuhan kebutuhan dan keinginan tersebut akan menyebabkan penawaran barang semakin komplek baik dari segi macam maupun jumlahnya. Keadaan tersebut berdampak positif bagi dunia eceran yang ada di Indonesia mulai dari pertokoan sampai supermaket. Sekarang banyak pertokoan yang merubah tokonya menjadi sepermaket dengan tujuan agar memudahkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pokok sehari-harisecara praktis.
Perilaku konsumen merupakan suatu tindakan yang diambil konsumen dalam melaksanakan keputusan untuk membeli barang atau jasa. Dalam mempengaruhi keputusan beli akan dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern. Maka dari itu perusahaan harus dapat mengambil tindakan yang tepat dalam memotivasi konsumen untuk memenuhi produk yang dihasilkan dan dapat menciptakan kepuasan bagi konsumen.
Banyak supermaket yang ada sekarang ini menyebabkan timbulnya persaingan yang ketat antara supermaket yang lainnya. Dalam hal ini, pemasaran mempunyai peranan penting untuk menggugah dan menarik konsumen. Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain (Kotler, 1997:8).
Di Yogyakarta sudah banyak terdapat beberapa supermaket diantaranya Supermaket Matahari, Supermaket Hero, Supermaket Super Ekonomi, Supermaket Ramai, Mirota Kampus, termasuk supermarket Pamella I dan masih banyak yang lainnya. Dengan munculnya berbagai supermaket ini menyebabkan persaingan antara supermaket yang lainnya semakin ketat sehingga mendorong setiap supermaket untuk berusaha meningkatkan kualitas strategi mixnya untuk menjaring luas permintaan pasar. Marketing mix merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran dimana variabel dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi reaksi para pembeli atau konsumen. Variabel marketing mix terdiri dari strategi produk, strategi harga, penyaluran atau distribusi dan promosi (Sofyan Assauri, 1992:180).
Pada dasarnya setiap perusahaan ingin terus meningkatkan laba, adapun untuk meningkatkan harus disertai dengan peningkatkan volume penjualan. Persaingan yang semakin ketat terutama antara usaha yang sejenis menyebabkan perusahan harus menentukan strategi pemasaran dengan tepat.
Strategi pemasaran dari setiap perusahaan merupakan suatu rencana keseluruhan untuk mencapai tujuan. Penentuan strategi ini dapat dilakukan oleh manajer pemasaran dengan membuat tiga macam keputusan, yaitu:
1.      Konsumen mana yang dituju?
2.      Kepuasan seperti apakah yang diinginkan konsumen?
3.      Marketing mix seperti apakah yang dipakai?
Supermaket Pamella I merupakan salah satu supermaket yang memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Dimana manajer harus bisa meningkatkan kualitas pemasarannya agar bisa menarik dan mempertahankan pelanggan atau konsumen. Dengan adanya supermarket ini bisa membantu konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga dan mutu yang sama dengan pengecer biasa. Belum lagi kenyamanan-kenyamanan yang ditawarkan, seperti penyejuk ruangan (AC), lokasi yang tidak becek, ruangan yang membuat pembeli dengan leluasa dapat memilih barang yang ditawarkan, ini semua menyebabkan para konsumen lebih memilih lari ke supermarket.
Berdasarkan keterangan di atas, maka peneliti melakukan penelitian awal dengan menyebarkan try out penelitian pada responden sebanyak 10 orang pada hari Senin tanggal 26 Juli 2004. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi frekuensi beli konsumen pada Supermarket Pamella I Yogyakarta. Dari hasil try out ini dapat di lihat hampir sebagian besar dari responden mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi beli konsumen adalah faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul: “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PERILAKU KONSUMEN YANG MEMPENGARUHI FREKUENSI BELI KONSUMEN PADA SUPERMAKET PAMELLA I YOGYAKARTA”



B.     Identifikasi Masalah
Pengambilan keputusan oleh konsumen beraneka ragam bergantung pada jenis keputusan pembelian. Melalui bertindak dan belajar, seseorang akan mampu mendapatkan keyakinan dan sikap, kemudian keduanya mempengaruhi perilaku pembelian mereka.
Setiap orang memiliki sikap terhadap semua hal. Sikap mendapatkan semua itu kedalam sebuah kerangka pemikiran yang menyukai atau tidak menyukai suatu obyek, bergerak mendekati atau menjauhi obyek tersebut. Sikap menyebabkan orang berperilaku secara konsisten terhadap obyek yang serupa.
Harga suatu barang atau jasa merupakan penentu bagi permintaan pasarnya. Harga dapat mempengaruhi posisi persaingan perusahaan dan juga mempengaruhi market share-nya. Bagi perusahaan, harga tersebut akan memberikan hasil dengan menciptakan sejumlah pandapatan dan keuntungan bersih. Harga suatu barang juga dapat mempengaruhi program pemasaran perusahaan.
Pelayanan yang baik dan memuaskan dapat membuat konsumen konsisten pada suatu produk awal dan mereka berusaha meningkatkan volume pembelian pada perusahaan yang mereka sukai. Konsumen akan meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk untuk jangka waktu yang lama, karena telah mendapatkan kepuasan dari produk yang sama yang telah dikonsumsinya. Dengan pelayanan yang baik membuat konsumen merasa nyaman dan betah untuk berbelanja disebuah supermarket.
Tersedianya berbagai macam produk dan merek barang membuat konsumen puas dan lebih leluasa mencari dan memilih kebutuhan sehari-hari mereka.

C.    Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan terhadap frekuensi beli konsumen?

D.    Batasan Masalah

Untuk memudahkan penganalisaan maka batasan masalah yang diambil adalah: faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan.

E.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang signifikan dari faktor harga, faktor pelayanan, faktor kelengkapan barang dan faktor kenyamanan terhadap frekuensi beli konsumen

F.     Kontribusi Hasil Penelitian

1.      Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam memperhitungkan dan mengantisipasi berbagai macam faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi beli konsumen.

2.      Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memberikan kepuasan dalam berbelanja di supermaket.
3.      Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan dan pengetahuan dalam dunia bisnis.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Deskripsi Teori
1.      Pengertian Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kagiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan mendapatkan laba. Proses pemasaran itu dimulai jauh sejak sebelum barang-barang di produksi dan tidak berakhir dengan penjualan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat juga memberikan kepuasan kepada konsumen jika mengingginkan usahanya berjalan terus, atau konsumen mempunyai pandangan yang baik terhadap perusahaan.
Menurut William J Stanton, pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusi-kan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli maupun pembeli potensial (Swasta dan Irawan, 2003:5).
Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dimulai dengan mengidentifikasikan kebutuhan konsumen yang perlu dipuaskan, menentukan produk yang hendak di produksi, menentukan harga produk yang sesuai, menentukan cara-cara promosi dan penyaluran atau penjualan produk tersebut. Jadi, kegiatan pemasaran adalah kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan sebagai suatu sistem.
Kegiatan-kegiatan tersebut beroperasi didalam suatu lingkungan yang terus menerus berkembang sebagai konsekuensi sosial dari perusahaan, tapi dibatasi juga oleh sumber-sumber dari perusahaan itu sendiri dan peraturan-peraturan yang ada. Bagi pemasaran, perubahan lingkungan dapat merupakan tantangan baru yang memerlukan cara penyelesaian yang baru pula, atau sebaliknya dapat berupa suatu peluang atau kesempatan mengembangkan usahanya.

2.      Konsep Pemasaran
Perusahaan yang sudah mulai mengenal bahwa pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai suksesnya, akan mengetahui adanya cara dan falsafah baru yang terlibat di dalamnya. Cara dan falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Sebagai falsafah bisnis, konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen, atau berorientasi pada konsumen (consumer oriented).
Hal ini secara azazi berbeda dengan falsafah bisnis terdahulu yang berorientasi pada produk (product concept), penjualan (sales concept), atau keuangan perusahaan (financial concept). Apabila orientasi dari konsep-konsep tersebut bertolak dari produk dari perusahaan, dan memandang sebagai tugas perusahaan, adalah penjualan dan promosi untuk menstimilir volume penjualan yang menguntungkan, maka konsep pemasaran mengajarkan bahwa kegiatan pemasaran suatu perusahaan harus dimulai dengan uasaha mengenal dan merumuskan keinginan dan kebutuhan dari konsumennya. Kemudian perusahaan itu harus merumuskan dan menyusun suatu kombinasi dari kebijaksanaan produk, harga, promosi dan distribusi setepat-tepatnya agar kebutuhan para konsumennya dapat dipenuhi secara memuaskan.
Konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (Swasta dan Irawan, 2003:6). Tiga unsur pokok konsep pemasaran adalah:
a.       Orientasi pada Konsumen
1)      Menentukan kebutuhan pokok (basic needs) dari pembeli yang akan dilayani dan dipenuhi.
2)      Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan sasaran penjualan.
3)      Menentukan produk dan program pemasarannya.
4)      Mengadakan penelitian pada konsumen, untuk mengukur, menilai, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta perilaku mereka.
5)      Menentukan dan melaksanakan strategi yang baik, apakah menitik beratkan pada mutu yang tinggi, harga yang murah, atau model yang menarik.
b.      Penyusunan kegiatan pemasaran secara integral
Pengintegrasian kegiatan pemasaran berarti bahwa setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan turut berkecimpung dalam suatu usaha yang terkoordinir untuk memberikan kepuasan konsumen, sehingga tujuan perusahaan dapat direalisir. Artinya, harga jual harus sesuai dengan kualitas produk, promosi harus disesuaikan dengan saluran distribusi, harga dan kualitas produk. Usaha-usaha ini perlu juga dikoordinasikan dengan waktu dan tempat.
c.       Kepuasan Konsumen
Faktor yang akan menentukan apakah perusahaan dalam jangka panjang akan mendapatkan laba adalah, adalah banyak sedikitnya kepuasan konsumen yang dapat dipenuhi. Ini tidaklah berarti bahwa perusahaan haru berusaha memeksimissikan kepuasan konsumen, tapi perusahaan harus mendapatkan laba dengan cara memberikan kepuasan kepada konsumen.

3.      Perilaku Konsumen
a.      Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen (consumer behavior) adalah kegiatan-kegiatan individu yangn secara langsung terlibat dalam memdapatkan dan mempergunakan barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Ada dua elemen penting dari arti perilaku konsumen:
1)      Proses pengambilan keputusan.
2)      Kegiatan fisik, yang semua ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa ekonomis.
Perubahan lingkungan yang tercermin pada perilaku konsumen menyebabkan manajer pemasaran dituntut untuk selalu memperbaharui pengenalan terhadap konsumennya.
Analisis pasar konsumen dalam hubungan dengan perilaku konsumen dimulai dengan meneliti hal-hal seperti:
1)      Siapa yang ada dipasar konsumen ?
2)      Apa yang dibeli konsumen ?
3)      Kapan konsumen membeli ?
4)      Bagaimana konsumen membeli ?
Dengan mengetahui hal-hal tersebut di atas, maka akan dikeahui kesempatan baru yang berasal dari terpenuhinya kebutuhan dan kemudian mengidentifikasikannya untuk mengadakan segmentasi pasar.
     
b.      Teori-Teori Perilaku Konsumen
1)      Teori Ekonomi Makro
Teori ini mempunyai asumsi:
a)      Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memeksimalkan kepuasan dalam batas kemampuan.
b)      Bahwa ia mempuyai kemampuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.
c)      Bahwa ia selalu bertindak dengan rasional.
2)      Teori Psikologis
Teori ini merupakan penerapan dari teori bidang psikologis dalam menganalisa perilaku konsumen.
Tujuan mempelajari bidang psikologis ini adalah:
a)      Mengumpulkan fakta-fakta perilaku konsumen.
b)      Psikologis berusaha meramalkan perilaku manusia.
c)      Psikologis bertujuan untuk mengontrol perilaku manusia.
3)      Teori Sosiologis
Teori ini mengarahkan analisa perilaku pada kegiatan-kegiatan kelompok, seperti: keluarga, teman, perkumpulan olah-raga dan sebagainya.
4)      Teori Antropologis
Teori ini menekankan perilaku konsumen dari kelompok masyarakat yang besar. Termasuk dalam kelompok ini antara lain, kebudayaan, sub-kultur dan kelas-kelas sosial.

c.       Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
1)      Faktor lingkungan ekstern
a)      Kebudayaan
Kebudayaan menurut ilmu anthropologi, adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kebudayaan adalah kompleks, yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dengan kata lain, kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai aggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normative, yaitu mencakup segala-gala cara atau pola pikir, merasakan dan bertindak.
Jadi, perilaku manusia sangat ditentukan oleh kebudayaan yang melingkupinya, dan pengaruhnya akan selalu berubah setiap waktu sesuai dengan kemajuan zaman dari masyarakat tersebut. Dan perilaku manusia cendrung untuk menyerap adat kebiasaan kebudayaanya.
b)      Kelas Sosial
Pengertian kelas sosial dalam hal ini adalah tanpa membedakan apakah dasar pembagian kelas itu uang, tanah, kekuasan atau dasar lainya. Ukuran untuk criteria yang biasanya dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam kelas-kelas tertentu, seperti: kekeyaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan.
Masyarakat kita pada pokoknya dapat dikelompokkan kedalam tiga golongan, yaitu: golongan atas, golongan menengah dan golongan rendah.
c)      Kelompok Sosial
Kelompok-kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang menjadi tempat individu-individu berinteraksi satu sama lain, karena adanya hubungan diantara mereka.
Kesatuan individu-individu disebut kelompok sosial, bila:setiap anggota kelompok sadar bahwa ia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan, adanya interaksi diantara kelompok, dan terdapat suatu faktor yang dimiliki bersama.
d)     Keluarga
Dalam pasar konsumen, keluargalah yang banyak melakukan pembelian. Peranan setiap anggota dalam membeli berbeda-beda menurut macam barang tertentu yang dibeli. Setiap anggota keluarga memiliki selera dan keinginan yang berbeda.
Oleh karena itu, manajer perusahaan perlu mengetahui sebenarya siapa anggota keluarga yang bertindak sebagai pengambil inisiatif, penentu, pembeli atau siapa yang mempengaruhi suatu keputusan dalam membeli.

2)      Faktor Lingkungan Intern
a)      Motivasi
Motif adalah keadaan dalam pribada seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukuan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Motif yang ada pada seeorang akan mewujudkan suatu tinggkah laku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan. Motif dapat digolongkan menjadi dua kelompok:
(1)   Motif fisiologis; yang merupakan motif alamiah (biologis), seperti lapar, haus dan seks.
(2)   Motif Psikologis; seperti motif kasih sayang, motif mempertahankan diri dan motif memperkuat diri.
Bagi manajer pemasaran penting sekali mengetahui apa yang menjadi motif pembelian seoarang terhadap suatu produk atau pada penjual tertentu, sebab hal ini dapat mempengaruhi program pemasaran perusahaan.
b)      Pengamatan
Dalam suatu lngkungan, melalui panca inderanya individu menerima bermacam-macam hal, yaitu getaran eter (cahaya dan warna) gataran akustik (suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat ringan) dan tekanan terminal (panas dingin)
Pengamatan adalah suatu proses dangan mana konsumen (manusia) menyadari dan menginterprestasikan aspek lingkungannya. Atau dapat dikatakan sebagai proses penerimaan dan adanya rangsangan (stimuli) di dalam lingkungan intern dan ekstern, sehingga pengamatan bersifat aktif. Jadi, pengamatan adalah reaksi orientatif terhadap rangsangan-rangsangan, walaupun rangsangan tersebut berupa benda asing, justru asing karena belum pernah dialami.. terjadinya pengamatan ini dipengaruhi oleh pengalaman masa lampau dan sikap sekarang dari individu.
c)      Belajar
Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan-perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil akibat adanya pengalaman. Perubahan perilaku tersebut bersifat tetap atau permanent dan bersifat lebih fleksibel. Hasil belajar ini akan memberikan tanggapan tertentu yang cocok dengan rangsangan-rangsangan dan yang mempunyai tujuan tertentu. Perilaku yang dipelajari tidak hanya menyangkut perilaku yang tampak, tetapi harus juga menyangkut sikap, emosi, kepribadian, kriteria penilaian dan banyak faktor lain yang mungkin tidak dapat ditunjuikan dengan kegiatan yang tampak.
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara manusia yang dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu. Proses belajar yang meliputi proses mencari tanggapan yang tepat danjuga proses melakukan fiksas. Fiksas adalah berhenti pada suatu tahap perkembangan tertentu yang seharusnya sudah ditinggalkan, karena melangkah ke fase yang lebih lanjut.
d)     Kepribadian
Kepribadian adalah pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan dan cara untuk bertingkah laku, terutama sebagaimana tingkah lakunya dapat dijelaskan oleh orang lain dengan cara yang cukup konsisten. Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan sifat atau watak yang khas menetukan perbedaan perilaku dari tiap individu, dan yang berkembang apabila seseorang berhubungan dengan orang lain. Ada tiga unsur pokok dalam kepribadian individu, yaitu:
(1)   Pengetahuan, yaitu unsure-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya.
(2)   Perasaan, yaitu suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang kerana pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif dan negatif
(3)   Dorongan naluri, yaitu kemajuan yang sudah merupakan naluri pada tiap mahluk manusia, yang sering disebut “drive”.

d.      Proses Pengambilan Keputusan Untuk Membeli
Setelah mempertimbangan yang ada pada dirinya maka konsumen akan melakukan proses pengambilan keputusan untuk membeli atau tidak membeli. Proses tersebut merupakan suatu pendekatan penyalesaian masalah yang meliputi beberapa tahap yang dimulai dari jarak sebelum faktor pembelian. Tahap-tahap tersebut adalah:
1)      Menganalisa kebutuhan dan keinginan
Menganalisa kebutuhan dan keinginan ini diditujukan terutama untuk mengetahui adanya keingian dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terputuskan jika kebutuhan itu diketahui, maka konsumen akan segera memahami kebutuhan yang belum terpenuhi dan atau masih tertunda kebutuhannya, serta kebutuhan yang sama-sama harus segera dipenuhi. Jadi dalam tahap inilah proses pembelian mulai dilakukan.
2)      Pencarian informasi
Pencarian informasi dapat bersifat aktif dan bersifat pasif, internal maupun eksternal. Pencarian informasi yang bersifat aktif, dapat berupa kunjungan kebeberapa toko untuk membuat perbandingan harga dan kualitas produk, sedangkan pencarian informasi pasif, mungkin dengan membaca suatu iklan tanpa mempunyai tujuan khusus dalam pikirannya tentang gambaran produk yang diinginkan. Pencarian informasi intern tentang sumber pembelian dapat berasal dari media masa dan informasi dari sumber-sumber kegiatan pemasaran perusahan.
3)      Penilaian dan seleksi terhadap alternatif pembelian
Tahap ini meliputi dua tahap, yaitu: penetapan tujuan pembelian dan penilaian serta mengadakan seleksi terhadap alternatif pembelian berdasarkan tujuan pembeliannya.tujuan pembelian dari konsumen tidak selalu sama, tergantung jenis produk dan kebutuhannya. Ada konsumen yang mempunyai tujuan pembelian sekedar untuk memenuhi jangka pendek. Setelah tujuan pembelian ditetapkan, konsumen perlu mengidentifikasikan alternatif pembelian tersebut tidak dapat dipisahkan dari sumber-sumber yang dimiliki atas dasr tujuan pembelian.
4)      Keputusan untuk membeli
Keputusan untuk membeli disini merupakan proes dalam pembelian yang nyata. Jadi setelah tahap-tahap dimuka dilakukan maka konsumen harus mengambil keputusan membeli atau tidak, bila konsumen memutuskan untuk membeli, konsumen akan mempunyai serangkaian keputusan yang harus diambil menyangkut: jenis produk, merek, penjualan, kualitas, waktu pembelian dan cara membayarnya. Setiap perusahaan dapat mengusahakan untuk menyederhankan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen, karena banyak orang yang mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Untuk memasarkan dengan cara yang lebih beik, perusahaan perlu mengetahui beberapa jawaban pertanyaan yang menyangkut perilaku konsumen dalam keputusan pembeliannya.
5)      Perilaku sesudah pembelian
Semua tahap yang ada dalam proses pembelian sampai tahap kelima adalah bersifat kooperatif. Bagi perusahaan, perasaan dan perilaku sesudah pembelian juga sangat penting, dimana perilaku mereka juga sangat mempengaruhi ucapan-ucapan pembelian pada pihak lain tentang produk perusahaan tersebut. Ada kemungkianan bahwa pembelian yang memiliki ketidak sesuaian sesudah melakukan pembelian karena harganya erlalu mahal, atau mungkin tidak sesuai dengan keinginan atau gambaran sebelumnya. Untuk perusahaan dapat bertindak dengan menentukan segi-segi tertentu atau servis tertentu dari produknya.

4.      Sikap
a.      Pengertian Sikap
Sikap adalah suatu kecendrungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah-masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsekuen (Swasta & Handoko, 1990:92). Sikap mempuyai beberapa karateristik yang penting yaitu:
1)      Sikap dapat dipelajari, mereka berkembang dari pengalaman pribadi dan berbagai macam informasi. Jadi sangat penting untuk menyadari perubahan bahwa pengetahuan dapat mendahului perubahan dan pembentukan sikap serta prinsi-prinsip pengetahuan.
2)      Sikap memiliki arah dan tujuan yang baik atau tidak baik, setuju atau tidak setuju atas objeknya.
3)      Sikap memiliki objek.
4)      Sikap harus memiliki objek yang bisa abstrak dan nyata.

b.      Komponen-Komponen Sikap
Komponen-komponen terdiri dari efektif, komponen kognitif dan komponen perilaku. Masing-masing komponen memiliki manifestasi yang berbeda-beda yang akan menghasilkan suatusikap yang menyeluruh sebagai tanggapan dari rangsangan yang diterima. Tapi tiga komponen sikap ini konsisten satu sama lain. Jika dipengaruhi satu kelompok, maka komponen yang lain akan berubah.

5.      Karateristik Konsumen
Karateristik konsumen merupakan ciri individu yang berperan sebagai pembentukan sikap dan merupakan petujuk penting mengenai nilai-nilai yang dianut oleh seorang konsumen. Sikap dalam menentukan pilihan produk dipengaruhi oleh karateristik konsumen. Adapun karateristik yang mempengaruhi sikap konsumen adalah:
a.       Kepribadian
Kepribadian merupakan pola perilaku yang konsisten dan bertahan lama, dengan memahami karateristik kepribadian tersebut dapat diketahui perilaku konsumen yang bersifat permanen guna menjadikan dasar untuk memposisikan produk dipasar.
b.      Gaya hidup
Gaya hidup didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka, apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya dan apa yang mereka fikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia sekitarnya (Sutisna, 2001:145).

B.     Kerangka Pikir
Perusahaan dalam memasarkan barang dan jasa selalu dihadapkan pada pertanyaan, mengapa konsumen membeli barang atau jasa tertentu. Jawabanya tidak dapat diterangkan secara langsung dari hasil pengamatan saja, tapi dibutuhkan analisa perilaku konsumen yang lebih mendalam. Hal ini akan banyak membantu bagi manajer pemasaran untuk memahami mengapa dan bagaimana perilaku konsumen tersebut, sehingga perusahaan dapat mengem-bangkan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barangnya secara lebih baik.
Berikut ini akan digambarkan kerangka pemikiran dari penelitian yang dapat dilihat sebagai berikut:
  Independen                                             Dependen

Frekuensi Beli Konsumen
 
-Harga
-Pelayanan
-Kelengkapan barang
-Kenyamanan
 
                                                                         
 

Gambar 2.1.
Kerangka Pikir Penelitian
C.    Hipotesis
Hipotesa adalah anggapan atau jawaban sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan. Dalam penelitian ini hipotesis yang diajukan adalah : Terdapat pengaruh signifikan dari faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan dengan frekuensi beli konsumen pada Supermarket Pamella I Yogyakarta.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.     Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas yang berupaya untuk meneliti apa dan seberapa jauh factor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi suatu variabel. Misalnya, kita ingin mengetahui apa faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi beli konsumen. Berdasarkan try out yang telah dilakukan sebelumnya, kita dapat menguji apakah faktor harga, kelengkapan barang, pelayanan dan kenyamanan berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen.     

B.    Definisi Operasional Variabel

Untuk memperjelas masalah yang diteliti, maka perlu diberikan batasan operasional terhadap variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun definisi operasional dari variabel-variabel tersebut adalah:
1.      Faktor harga
Harga suatu barang atau jasa merupakan penentu bagi permintaan pasarnya. Harga dapat mempengaruhi posisi persaingan perusahaan dan juga mempengaruhi market share-nya. Bagi perusahaan, harga tersebut akan memberikan hasil dengan menciptakan sejumlah pendapatan dan keuntungan bersih. Harga suatu barang juga dapat mempengaruhi program pemasaran perusahaan.
Mahal murahnya suatu harga barang atau produk juga bias mempengaruhi frekuensi beli konsumen, karena konsumen lebih cendrung memilih harga yang murah dari pesaing lain.
2.      Faktor pelayanan
Banyaknya kasir, keranjang belanja, kereta dorong, pramuniaga yang ramah, petugas penitipan barang dan layanan bagian informasi dapat membuat konsumen konsisten pada produk awal dan mereka akan berusaha meningkatkan frekuensi pembelian pada perusahaan yang mereka sukai.
3.      Faktor kenyamanan
Dengan kenyamanan yang diberikan seperti penataan barang yang rapi dan teratur, keadaan lantai yang bersih, keamanan parkir dan fasilitas penyejuk ruangan (AC), membuat konsumen akan meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk untuk jangka waktu yang lama.
4.      Faktor kelengkapan barang
Tersedianya berbagai macam produk dan merek barang membuat konsumen puas dan lebih leluasa dalam mencari kebutuhan sehari-harinya.

C.     Populasi dan Sampel

Populasi merupakan jumlah keseluruhan anggota subyek penelitian yang memiliki kesamaan karateristik. Populasi dalam penelitian ini yaitu konsumen yang berbelanja di Supermarket Pamella I yogyakarta. Dalam sebuah penelitian yang jumlah populasinya terlalu banyak atau besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu
Oleh karena berbagai keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka sampel yang akan dimbil yaitu konsumen yang berbelanja disupermarket Pamella I Yogyakarta dengan jumlah responden 80 orang.
Dalam penentuan jumlah sampel sebenarnya tidak ada aturan yang tegas berapa jumlah sampel yang harus diambil dari populasi yang tersedia. Tidak ada batasan yang pasti yang dimaksud dengan sampel yang besar atau kecil. Mutu suatu penelitian tidak semata-mata ditentukan oleh kokohnya dasar-dasar teori, rancangan penalitian, serta mutu pelaksanaan dan pengolahannya (Soeratno dan Arsyad, 1999:34).
Karena yang diteliti adalah sebagian dari populasi maka cara pengambilan data menggunakan teknik sampling yang merupakan wakil dari yang akan diteliti, hal ini dilakukan karena akan mengeneralisasikan hasil dari penelitian (Arikunto, 1998:42).
Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu penelitian hanya ditujukan kepada konsumen yang berbelanja di supermarket Pamella I. Purposive sampling adalah teknik-teknik penentuan sampel dengan pertimbangan dari si peneliti (Sugiono, 1999:51).
Sampel yang purposive adalah sampel yang dipilih dengan cermat sehingga relevan dengan rancangan penelitian. Peneliti akan berusaha agar dalam sampel terdapat wakil-wakil segala lapisan populasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sampel yang dipilih adalah individu yang menurut pertimbangan peneliti dapat mendukung penelitian (Soeratno dan Arsyad, 1999:38).
Dalam penyebaran angket, peneliti menggunakan teknik sampel acak (random sample) maksudnya yaitu setiap anggota dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dimasukkan sebagai sampel.

D.    Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data yang akan dilakukan dengan menggunakan kuisioner yang akan disebarkan kepada responden yang dipilih sebagai sampel dan diambil dengan menggunakan pendekatan purposive sampling. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1.      Data Primer
Yang dimaksud data primer atau data tangan pertama adalah data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan menggunakan alat pengukur atau alat pengambilan data subyek langsung pada subyek sebagai sumber informasi yang dicari (Azwar, 1998:91).
2.      Data Sekunder
Yang dimaksud data sekunder atau data tangan kedua adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung oleh peneliti dari subyek penelitiannnya (Azwar, 1998:91). Untuk mendapatkan data ini maka digunakan cara sebagai berikut:
a.       Kuesioner
Kuisioner yaitu pengumpulan data dengan cara menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun secara sistematis, dalam hal ini berupa angket yang ditujukan pada konsumen.

b.      Wawancara
Penyusun mengumpulkan data dengan cara bertanya pada orang yang bersangkutan dengan masalah yang diambil dan mencatatnya.

E.     Instrumen Penelitian dan Pengujian Instrumen

  1. Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini instrumen yang digunakan adalah angket yang berisi butir-butir pertanyaan yang diisi oleh responden. Instrumen tersebut digunakan untuk mengetahui perilaku beli konsumen terhadap factor-faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan dengan mempredik-sikan beberapa faktor yang dianggap peneliti dapat mempengaruhi perilaku belinya. Setiap variabel memilih alternatif jawaban item untuk mengetahui data dalam bentuk kuantitatif, adapun alternatif jawaban yang disediakan pada tiap-tiap item adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1.

Kode Variabel Indikator dan Item Untuk Responden


Variabel
Indikator
Item
Faktor harga
        Mahal
        Murah
1, 2, 3, 4, 5, 6
Faktor pelayanan
        Kasir
        Keranjang belanja
        Kereta dorong
        Pramuniaga
        Petugas penitipan barang
        Pelayanan informasi
7, 8, 9, 10, 11, 12
Faktor kelengkapan barang
Tersedianya berbagai macam produk dan merek
13, 14, 15, 16, 17, 18
Faktor kenyamanan
        Penataan barang
        Keadaan lantai
        Keamanan parkir
19, 20, 21, 22
Agar data yang terkumpul dapat berwujud kuantitatif, maka setiap alternatif jawaban diberikan skor atau nilai. Adapun cara pemberian skor atau nilai pada masing-masing bagian adalah sebagai berikut:
·         Jawaban SS (Sangat Setuju) diberi skor 4
·         Jawaban S (Setuju) diberi skor 3
·         Jawaban KS (Kurang Setuju) diberi skor 2
·         Jawaban TS (Tidak Setuju) diberi skor 1

  1. Pengujian Instrumen Penelitian
Dalam setiap penelitian, masalah penggunaan alat-alat ukur perlu mendapat perhatian agar hasil yang diperoleh adalah benar-benar dan dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya dari masalah-masalah yang akan diteliti. Alat ukur yang ilmiah haruslah memenuhi kriteria sahih dan terandalkan (valid dan reliabel). Sebelum instrumen penelitian (angket) digunakan dalam penelitian yang sebenarnya, terlebih dahulu diuji kesahihannya serta keandalannya. Banyaknya responden yang digunakan sebagai subyek untuk uji coba instrumen adalah sebanyak 30 responden.
a.       Uji Validitas
Kesahihan alat ukur merupakan indeks dari kegiatan dan latihan, yaitu seberapa jauh alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang perlu diukur (Djamaludin Ancok, 1985:13). Untuk mengukur validitas kuesoner yang diberikan kepada responden digunakan rumus korelasi product moment (Sutrisno Hadi, 1991:23).
rxy =
Keterangan:
rXY  = Korelasi product moment
X    = Skor total dari setiap item
Y    = Skor/nilai dari setiap item
N    = Jumlah sampel
Pengujian validitas daalam penelitian ini akan menggunakan program komputer SPSS for Windows Release 10. Untuk menentukan validitas masing-masing variabel adalah dengan melihat tabel r product moment (rXY), dengan berdasarkan taraf signifikasi (a) 5 % dan n = 30. Jika nilai rXY < r tabel maka dikatakan tidak valid dan jika rXY > r tabel maka dikatakan valid. Berdasarkan hasil uji validitas yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:


Tabel 3.2.
Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian

Variabel
No Butir
r tabel
rXY
Kesimpulan
Harga
1
0,361
0,466
Valid
2
0,361
0,523
Valid
3
0,361
0,498
Valid
4
0,361
0,507
Valid
5
0,361
0,497
Valid
6
0,361
0,586
Valid
Pelayanan
7
0,361
0,852
Valid
8
0,361
0,698
Valid
9
0,361
0,737
Valid
10
0,361
0,663
Valid
11
0,361
0,716
Valid
12
0,361
0,774
Valid
Kelengkapan barang
13
0,361
0,584
Valid
14
0,361
0,479
Valid
15
0,361
0,640
Valid
16
0,361
0,366
Valid
17
0,361
0,742
Valid
18
0,361
0,522
Valid
Kenyamanan
19
0,361
0,726
Valid
20
0,361
0,540
Valid
21
0,361
0,550
Valid
22
0,361
0,679
Valid
Sumber: Hasil pengolahan data.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai rXY dari semua butir instrumen lebih besar dari r tabel (0,361), sehingga dapat disimpulkan bahwa semua butir dalam instrumen penelitian ini valid.

b.      Uji Reliabilitas
Tujuan diadakannya reliabilitas adalah untuk mengetahui apakah data yang sudah terkumpul dapat dipercaya atau tidak. Menurut Suharsimi Arikunto (1997:160) mengatakan bahwa “reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut baik”. Dalam pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach, yang rumusnya sebagai berikut:



(Suharsimi, 1991:165)

Keterangan:
r11     =  reliabilitas instrumen
k       =  banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
Sdb²  =  jumlah varians butir
dt²     =  varians total
Dengan menggunakan taraf signifikansi () = 5 % dan n = 30 diperoleh nilai r tabel = 0,361. Apabila r11 lebih besar dari r tabel berarti kuesioner sebagai alat pengukur dikatakan reliabel dan demikian juga sebaliknya. Berdasarkan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan program SPSS for Windows Release 10 diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 3.3.
Hasil Uji Reliablitas Instrumen

Variabel
r tabel
rXY
Kesimpulan
Harga
0,361
0,4021
Reliabel
Pelayanan
0,361
0,8319
Reliabel
Kelengkapan barang
0,361
0,5472
Reliabel
Kenyamanan
0,361
0,4505
Reliabel
Sumber: Hasil pengolahan data.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai r11 dari semua butir instrumen dalam penelitian ini lebih besar dari r tabel (0,361), sehingga dapat disimpulkan instrumen penelitian ini reliabel sehingga dapat digunakan untuk melakukan penelitian.

F.     Analisis Data

1.      Analisis Kualitatif
Analisis data dilakukan berdasarkan hasil jawaban dari responden mengenai faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan di Supermarket. Jawaban tersebut kemudian disesuaikan dengan hasil jawaban dari responden sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan.

2.      Analisis Kuantitatif
Data kuantitatif yaitu suatu metode penalaran untuk menganalisis data dengan menggunakan rumus-rumus yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Adapun analisis yang digunakan sebagai berikut:
a.       Uji Asumsi Regresi Linier:
Regresi masuk kedalam kategori statistik parametric artinya bahwa sebelum melakukan analisis regresi diperlukan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Adapun beberapa asumsi-asumsi regresi linier yaitu:
1)      Distribusi data harus normal atau mendekati normal.
2)      Tidak boleh terjadi multikolinieritas.
Multikolinieritas adalah korelasi yang kuat antara variabel terikat.
3)      Tidak boleh terjadi heteroskedastitas.
Heteroskedastitas adalah jabaran data yang membentuk pola-pola tertentu.
4)      Tidak boleh terjadi autokorelasi.
Autokorelasi adalah perubahan variabel bebas yang disebabkan oleh variabel itu sendiri pada periode sebelumnya. Jika asumsi-asumsi tersebut terpenuhi, baru bias dilakukan analisis regresi.
Kriteria-kriteria uji asumsi:
1)      Kriteria uji Normalitas
a)      Menggunakan uji Kolmogorov – Smirnov
(1)   Jika p-value > 0,05 (5 %) maka distribusi normal atau mendekati normal.
(2)   Jika p-value < 0,05 (5 %) maka distribusi tidak normal.
b)      Menggunakan p-p plot
Jika distribusi ada disekitar garis diagonal maka distribusi normal.
2)      Kriteria uji multikoliniearitas
a)      Melihat nilai korelasi partial antar VI
(1)   Jika nilai masing-masing r > 0,05 maka terjadi multikolinieritas.
(2)   Jika nilai masing-masing r < 0,05 maka tidak terjadi multikolinieritas.
b)      Melihat nilai VIF
(1)   Jika nilai VIF > 1 maka tidak terjadi multikoliniearitas.
(2)   Jika nilai VIF < 1 maka terjadi multikolinieritas.
3)      Kriteria uji Autokorelasi
a)      Melihat nilai Durbin Watson
(1)   Jika nilai Durbin Watson 2 < DW < -2 maka tidak terjadi autokorelasi.
(2)   Jika nilai Durbin Watson > 2 ada autokorelasi.
(3)   Jika nilai Durbin Watson < -2 ada autokorelasi.

b.      Uji Regresi Linier Berganda
Rumus regresi linier berganda adalah sebagai berikut:
Y= a + b1X1 + b2X2 + b3X3 +b4X4
Keterangan:
Y   = Frekuensi beli konsumen
a    = Konstanta
X= Faktor harga
X= Faktor pelayanan
X= Faktor kelengkapan barang
X= Faktor kenyamanan
Sedangkan b1, b2, b3 dan b4 adalah nilai koefisien regresi dari X1, X2, X3 dan X4.
Dalam penelitian ini akan disajikan pengujian antara variabel terdekat yaitu frekuensi beli konsumen (Y) dengan variabel bebas yang terdiri dari faktor harga (X1), faktor pelayanan (X2), faktor kenyamanan (X3), faktor kelengkapan barang (X4)

1)      Uji F (Uji Simultan)
Pengujian yang dilakukan secara serempak/simultan untuk menguji pengaruh variabel-variabel bebas secara serempak/simultas terhadap variabel terikat. Rumus yang digunakan untuk uji F adalah sebagai berikut :
                    Jk reg / k
F = –––––––––––––––
                Jk res / (n-k-1)
Keterangan :
F          = Statistik Uji F
Jk reg   = Jumlah kuadrat regresi
Jk res   = Jumlah kuadrat residu
n          = Jumlah data
k          = Jumlah variabel terikat
Adapun langkah-langkah pengujiannya adalah :
a)      Menentukan hipotesis
Ho : b1, b2, b3, b4 = 0,  artinya variabel-variabel bebas secara serempak tidak berpengaruh terhadap variabel terikat
Ha : b1, b2, b3, b4 ¹ 0,  artinya variabel-variabel bebas secara serempak berpengaruh terhadap variabel terikat
b)      Menentukan besarnya nilai F tabel dengan menggunakan taraf signifikansi (a) = 0,05 dan derajat kebebasan (df) = (n-k;k-1)

c)      Kriteria pengujian :
Ho diterima apabila F hitung £ F tabel
Ho ditolak apabila F hitung > F tabel







                                                              F tabel
Gambar 3.1.
Kurva Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho
Untuk Uji F

2)      Uji t (Uji Parsial)
Pengujian yang digunakan untuk menguji koefisien regresi secara individu yaitu pengujian secara terpisah antara masing-masing variabel terikat terhadap variabel bebas, apakah pengaruh variabel tersebut signifikan atau tidak.
         b - b
t = –––––––
        SE(b)
Keterangan :
SE(b) adalah standar error dari koefisien regresi
Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
a)      Menentukan hipotesis :
Ho : bi = 0, artinya variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat
Ha : bi ¹ 0,  artinya variabel terikat berpengaruh secara signifikan terhadap variabel bebas
b)      Menentukan besarnya nilai t tabel dengan menggunakan taraf signifikansi (a) = 0,05 dan derajat kebebasan (df) = n-k
c)      Kriteria pengujian :
Ho diterima jika –t tabel £ t hitung £ t tabel
Ho ditolak jika t hitung < – t tabel atau t hitung > t tabel






–t tabel                                    t tabel
Gambar 3.2.
Kurva Daerah Penerimaan dan Penolakan Ho
Untuk Uji t




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Gambaran Umum Supermarket Pamella I Yogyakarta

  1. Struktur Organisasi Perusahaan
Suatu organisasi perusahaan tujuan utamanya tentu saja adalah profit. Untuk mencapai tujuan inilah dibentuk suatu struktur organisasi yang mengatur tugas peranan masing-masing karyawan secara efisien. Dengan efisiensi struktur organisasi dan struktur kerja diharapkan efektifitas dapat tercapai.
Untuk lebih meningkatkan optimalisasi, efektifitas dan efisiensi karyawan dan lebih memudahkan pihak manajemen dalam mengawasi karyawan maka dibuat suatu job description. Job discription ini menggambarkan dan menuntun karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Apa yang menjadi tugas, kewajiban, hak dan wewenang mereka.
Berikut ini adalah gambaran atau bagan perusahaan Pamella I:










Keterangan:
            = Garis Instruksi
            = Garis Koordinasi

Berikut ini adalah job discription (mengacu pada struktur organisasi) mereka:
a.       Pimpinan Umum
Tugas dan Kewajiban
1)      Mengusahakan pencapaian target perusahaan
2)      Menciptakan suasana yang harmonis, gembira dan dedikasi diantara karyawan.

Hak dan Wewenang
1)      Mengajukan usul dan keputusan strategis dalam usaha mencapai terget.
2)      Mengajukan usul mengenai mitasi dan promosi karyawan pada bagian personalia.

b.      Bagian Personalia
Tugas dan Kewajiban
1)      Membuat dan mengawasi jadwal kerja seluruh karyawan.
2)      Merekrut, menguji dan melatih karyawan baru.
Hak dan Wewenang
1)      Merekrut, memindahkan dan menaikkan jabatan maupun memecat karyawan sehubungan dengan kepentingan perusahaan.
2)      Menegur dan menindak karyawan sesuai dengan kesalahan.


c.       Bagian Keuangan
Tugas dan Kewajiban
1)      Membuat anggaran keuangan perusahaan.
2)      Mengawasi dan mencatat pemasukan dan pengeluaran perusahaan.
Hak dan Wewenang
1)      Menentukan anggaran pengeluaran perusahaan
2)      Membuat dan menyusun format laporan keuangan perusahaan.

d.      Bagian Gudang
Tugas dan kewajiban
1)      Mengawasi stok barang yang ada digudang
2)      Mengontrol kelengkapan dan keadaan barang
Hak dan Wewenang
1)      Meminta persediaan barang yang sudah habis.
2)      Menolak dan menerima pemasok barang.

e.       Bagian Administrasi
Tugas dan Kewajiban
1)      Membuat anggaran administrasi perusahaan.
2)      Mengawasi dan mencatat pemasukan dan pengeluaran administrasi
Hak dan Wewenang
1)      Menentukan anggaran administrasi perusahaan.
2)      Membuat dan menyusun format laporan administrasi perusahaan.


f.       Koordinasi Penjualan
Tugas dan Kewajiban
1)      Mengatur dan menyusun program-program pemasaran secara continiu untuk mencapai target perusahaan.
2)      Mengawasi besarnya mark up pricing.
Hak dan Wewenang
1)      Menolak menjual suatu produk apabila produk tersebut tidak memenuhi syarat untuk dipasarkan.
2)      Menolak pengajuan suatu program dari pihak supplier apabila program tersebut tidak menguntungkan perusahaan.

g.      Pramuniaga
Tugas dan Kewajiban
1)      Menata, mengatur dan merawat display, rak dan stand yang menjadi tanggung jawabnya.
2)      Mengawasi harga dan mutu produk yang dijual.
Hak dan Wewenang
1)      Meminta stock barang dari bagian persediaan.
2)      Mengajukan usulan order pembelian barang kepada bagian pembelian apabila stock di stand dan gudang menipis.



  1. Perkembangan Organisasi Perusahaan
a.        Perubahan Sistem Manajemen
Pada tanggal 24 April 1995 toko Pamella mendapat undangan dari Departemen Koperasi untuk mengikuti pelatihan manajemen Mini Market yang diselenggarakan oleh Dep Kop yang bekerjasama dengan HERO Supermarket dan Yayasan Prasetya Mulya (YPM). Pelatihan ini sangat berkesa dan bermanfaat besar sekali terhadap perusahaan Pamella yang telah melakukan bisnis selama 20 tahun barun sekali ini mendapatkan pelajaran bisnis terutama pelajaran yang diberikan oleh bapak Untung dan Cahyo dari HERO, karena bukan hanya teori saja yang diberikan tetapi juga praktek di lapangan bagaimana cara-cara lay out toko, penataan barang. Berawal dari pelatihan 5 hari itulah banyak mendapat masukan dan informasi bisnis swalayan serta cara pengelolaannya. Secara kebetulan walaupun sudah memiliki 4 toko tapi semua toko itu belum menjadi swalayan semua pelayanan masih menggunakan nota. Setelah pelatihan tersebut pendiri langsung mempraktekkanya pada semua toko Pamella secara bertahap. Bermula dengan memperluas Pamella pusat dijadikan 3 lantai dengan luas total 1000 m², lantai 1 untuk swalayan dibuka Desember 1995. Dengan dibuat swalayan ternyata omsetnya lebih besar.
Sebelum Pamella dirubah menjadi sistem swalayan dan sebelum mendapat pelatihan, segala urusan mulai dari menata barang, memberi harga, keuangan dan mengatur karyawan, pendiri melakukan sendiri. Sejak jadi swalayan pendiri milai menata dan mengubah sistem menajemen Pamella dengan jalan mengangkat dan membimbing para karyawan untuk memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda antara karyawan yang satu dengan yang lain dengan tujuan agar saling melengkapi dan mempermudah proses pengaturan.

b.       Ekspansi Perusahaan
Setelah mengalami perubahan manajeman sehingga sukses didunia bisnis eceran, Pamella mendirikan beberapa anak cabang antara lain:
1)      14 September 1981 : Mendirikan Pamela II di jalan pandean 16 Yogyakarta luas 60 meter saat ini November 2000 menjadi 210 meter
2)      15 Februari 1993 : Mendirikan pamella III jl. Wonocatur 377 Yogyakarta. luas 126 meter saat ini juli 2000 menjadi 712 meter.
3)      22 Januari 1996 : mendirikan Pamela IV jl. Pramuka 84 Yogyakarta. Luas 175 meter. Tahun 2000 ini baru diperluas menjadi 565 meter (2 lantai).
4)      05 Agustus 1995 : mendirikan PamelaV jl. Tegal Turi 69 Yogyakarta. Luas 73,5 meter. Tahun 1996 telah kami serahkan kepemilikannya kepada anak kami yang sudah menikah.
5)      01 Januari 1999 : mendirikan Pamela VI jl. Raya Candi Gebang Condongcatur. Luas 440 meter.



  1. Personalia Perusahaan
a.        Jumlah karyawan
Dalam melaksanakan kegiatan perusahaan, Pamella menggunakan tenaga kerja sebanyak 200 orang. Sumber daya manumur (SDM) Pamella Swalayan diklasifikasikan menurut kebutuhan perusahaan yaitu:
1)      Karyawan Tetap
Karyawan tetep adalah karyawan yang mempunyai surat keputusan dari swalayan Pamella. Sedangkan sistem penggajiannya dilakukan tiap bulan.
2)      Karyawan kontrak
Karyawan kontrak adalah karyawan yang ditetapkan masa kerjanya, sedangkan sistem penggajian dilakukan perminggu.
Saat ini jumlah perkembangan SDM pada swalayan Pamella di kelompokkan menjadi:
1)      Berdasarkan pada perkembangan SDM secara kuatitas terdiri dari 150 orang karyawan perempuan dan 50 orang karyawan laki-laki.
2)      Berdasarkan pada perkembangan SDM secara kualitas terdiri dari lulusan SMA dan sederajat.
Khusus bagi jabatan pramuniaga ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi :
1)      Bagi wanita harus berjilbab sedangkan laki-laki tidak perokok
2)      Taat beribadah
3)      Jujur dan ikhlas
4)      Lulusan SMA atau sederajat dan bukan berstatus mahasiswa
5)      Bersedia ditempatkan di Pamella dan cabang-cabangnya
6)      Diadakan tes tertulis dan wawancara

b.       Sistem Kerja Karyawan
Ada 3 shif (giliran kerja) dengan 6 hari kerja dalam seminggu yang diterapkan kepada karyawan antara lain :
1)      Shift jam pertama : 08.00 – 11.00, 17.00 – 21.00
2)      Shift jam kedua : 08.00 – 16.00
3)      Shift jam ketiga : 13.00 – 21.00

c.        Kesejahteraan Karyawan
Dalam mensejahterakan karyawan, maka Pamella memberikan jaminan kepada karyawan antara lain:
1)      Gaji sesuai UMR dan bagi yang berprestasi diberi tunjangan tambahan .
2)      Diberi THR (tunjangan hari raya ) setahun sekali
3)      Rekreasi sekali dalam setiap tahun
4)      Di ikutsertakan dalam JAMSOSTEK
5)      Cuti 12 hari dalam setahun yang apabila tidak diambil maka diganti dengan uang .

  1. Pemasaran Produk
Aspek pemasaran di Pamella tidak lepas dari unsur bauran pemasaran (marketing mix). Bauran ini terdiri dari produk, price, place,dan promotion. Di bawah ini akan dijelaskan bauran pemasaran pada swalayan Pamella:
a.        Produk
Dalam menjual dan memasarkan barang, Pamella mengutamakan:
1)      Kelengkapan barang
Ada 3 klasifikasi barang di Pamella yaitu :
a)      Produk makanan, minuman dan kebutuhan harian.
Berupa makanan dan minuman yang masih merupakan bahan maupun yang sudah siap disajikan. Digolongkan sebagai kebutuhan primer.
b)      Produk fashion
Produk pakaian untuk anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua.digolongkan sebagai kebutuhan sekunder.
c)      Produk pelengkap lainnya
Berupa barang-barang elektronik, alat tulis dan hiasan rumah. Digolongkan sebagai kebutuhan tersier.
2)      Kualitas
3)      Harga bersaing
4)      Suasana dan pelayanan

b.       Harga
Kebijakan strategi penetapan harga yang ditetapkan oleh Pamella swalayan diusahakan mengarah kepada pembentukan citra atau image bahwa perusahaan mempunyai produk-produk dengan harga yang bersaing dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan harga yang digunakan oleh Pamella swalayan berorientasi pada pasar dan margin.

c.        Tempat
Lokasi pamella swalayan terletak di kawasan Kusumanegara di Yogyakarta jadi hal ini sangat mendukung bagi strategi perusahaan, mengingat lokasi tersebut mudah di jangkau karena banyaknya sarana transportasi yang melewati swalayan tersebut. Lokasi ini memudahkan konsumen dan pemasok barang untuk mencapai Pamella swalayan
d.       Promosi
Dalam usahanya mempertahankan dan meningkatkan frekuensi penjualannya, Pamella melaksanakan promosi. Kegiatan promosi di Pamella swalayan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1)      Periklanan
a).    Pemasangan spanduk baliho di tempat-tempat strategis di wilayah kota Yogyakarta.
b).   Pemasangan spanduk di sekitar Pamella swalayan.
c).    Iklan di media cetak atau elektronik seperti radio, koran, majalah.
2)      Promosi penjualan
Diskon khusus untuk pembelian produk tertentu dan dalam jumlah tertentu.
3)      Publisitas

B.     Analisis Data dan Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi beli konsumen pada supermarket Pamella I Yogyakarta. Dalam penelitian ini digunakan responden sebanyak 80 orang. Adapun hasil dari penelitian yang telah dilakukan beserta analisisnya dapat dilihat pada uraian di bawah ini.

1.     Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap konsumen pada supermaket Pamella I Yogyakarta dapat diketahui karakteristik dari responden dalam penelitian ini sebagai berikut :
a.       Jenis Kelamin Responden
Berdasarkan jenis kelaminnya, maka responden dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut :








Tabel 4.1.
Klasifikasi Responden Menurut Jenis Kelamin

No.
Jenis Kelamin
Jumlah Responden
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
Perempuan
Laki-laki
57
23
71,25 %
28,75 %
Jumlah
80
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 57 orang (71,25 %) sedangkan sisanya sebanyak 23 orang (28,75 %) adalah laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen pada supermaket Pamella I Yogyakarta adalah perempuan.

b.      Umur Responden
Berdasarkan hasil tabulasi menurut umur, maka responden dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 4.2 di bawah :
Tabel 4.2.
Klasifikasi Responden Menurut Umur

No.
Umur (Tahun)
Jumlah Responden
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
18 – 25
26 – 35
36 – 45
45 ke atas
15
36
20
9
18,75 %
45,00 %
25,00 %
11,25 %
Jumlah
80
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini sebagian besar berumur antara 26 – 35 tahun yaitu sebanyak 36 orang (45,00 %), kemudian yang berumur antara 36 – 45 tahun sebanyak 20 orang (25,00 %) dan yang berumur antara 18 – 25 tahun sebanyak 15 orang (18,75 %). Sedangkan sisanya sebanyak 9 orang (11,25 %) berumur lebih dari 45 tahun.

c.       Tingkat Pendidikan Responden
Berdasarkan pendidikan yang ditempuhnya, maka responden dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan seperti pada tabel berikut :

Tabel 4.3.
Klasifikasi Responden Menurut Tingkat Pendidikan

No.
Tingkat Pendidikan
Jumlah Responden
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
SD
SLTP
SLTA
Perguruan Tinggi
5
12
38
25
6,25 %
15,00 %
47,50 %
31,25 %
Jumlah
80
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini telah menempuh pendidikan SLTA yaitu sebanyak 38 orang (47,50 %). Kemudian yang menempuh tingkat pendidikan di Perguruan Tinggi sebanyak 25 orang (31,25 %) dan yang menempuh pendidikan SLTP sebanyak 12 orang (15,00 %). Sedangkan sisanya sebanyak 5 orang (6,25 %) hanya menempuh tingkat pendidikan.

d.      Status Pernikahan Responden
Berdasarkan status pernikahannya, maka responden dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan seperti pada tabel 4.4 di bawah :
Tabel 4.5.
Klasifikasi Responden Menurut Status Pernikahan

No.
Status Pernikahan
Jumlah Responden
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
Sudah Menikah
Belum Menikah
51
29
63,75 %
26,25 %
Jumlah
50
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Pada tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini telah berstatus menikah yaitu sebanyak 51 orang (63,75 %), sedangkan sisanya sebanyak 29 orang (26,25 %) masih berstatus belum nikah.

e.       Pendapatan Responden
Berdasarkan pendapatan yang diperoleh responden setiap bulannya, maka responden dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan seperti tabel berikut:












Tabel 4.5.
Klasifikasi Responden Menurut Pendapatan

No.
Pendapatan (Rp)
Jumlah Responden
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
< 500.000
500.001 –750.000
750.001 – 1.000.000
> 1.000.000
5
12
45
18
  6,25 %
15,00 %
56,25 %
22,50 %
Jumlah
80
100,00 %
Sumber: Data primer yang diolah.
Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai tingkat pendapatan antara Rp. 750.001 – Rp. 1.000.000 yaitu sebanyak 45 orang (56,25 %), responden yang mempunyai tingkat pendapatan lebih dari Rp. 1.000.000 sebanyak 18 orang (22,50 %) dan responden yang mempunyai tingkat pendapatan antara Rp. 500.001 –   Rp. 750.000 sebanyak 12 orang (15,00 %) dan sisanya sebanyak 5 orang (6,25 %) mempunyai tingkat pendapatan kurang dari Rp. 500.000.

2.      Analisis Kualitatif
Selain data tentang karakteristik responden, maka dari hasil penyebaran kuesioner akan diperoleh data mengenai variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini yang meliputi frekuensi beli konsumen, harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan. Adapun data selengkapnya adalah sebagai berikut :
Frekuensi beli konsumen (Y)
Variabel ini diukur berdasarkan frekuensi beli konsumen pada supermarket Pamella I Yogyakarta dalam 3 bulan. Berdasarkan hasil jawaban yang diberikan oleh responden maka dapat disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4.6.
Frekuensi Beli Konsumen

No.
Frekuensi Beli
Jumlah Responden
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
10
11
12
13
14
3
4
17
21
35
  3,75 %
  5,00 %
21,25 %
26,25 %
43,75 %
Jumlah
80
100,00 %
Sumber: Data primer yang diolah.
Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam tiga bulan melakukan pembelian pada supermarket Pamella I Yogyakarta 14 kali yaitu sebanyak 35 orang (43,75 %), responden yang mempunyai melakukan pembelian 13 kali sebanyak 21 orang (26,25 %) dan yang melakukan pembelian 12 kali sebanyak 17 orang (21,25 %). Kemudian responden yang melakukan pembelian 11 kali sebanyak 4 orang (5,00 %) dan sisanya sebanyak 3 orang (3,75 %) melakukan pembelian 10 kali dalam 3 bulan.

Harga (X1)
Data tentang variabel harga ini diperoleh melalui kuesioner dengan pertanyaan sejumlah 6 butir dan jawaban dari responden menunjukkan tingkat kesetujuan responden terhadap harga produk yang ditawarkan pada supermarket Pamella I Yogyakarta. Adapun hasil jawaban responden selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.7.
Tanggapan Responden terhadap Variabel Harga

No.
Tanggapan Responden
Jumlah
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
Tidak Setuju
Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju
1
48
169
262
  0,21 %
10,00 %
35,21 %
54,58 %
Total
480
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan-pernyataan variabel harga yaitu sebanyak 262 jawaban (54,58 %). Kemudian jawaban setuju sebanyak 169 jawaban (35,21 %) dan jawaban kurang setuju sebanyak 48 jawaban (10,00 %). Sedangkan sisanya sebanyak 1 jawaban (0,21 %) menunjukkan tidak setuju. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga produk yang ditawarkan pada supermarket Pamella I Yogyakarta sangat sesuai dengan harapan konsumen.

Pelayanan (X2)
Data tentang variabel pelayanan ini diperoleh melalui kuesioner dengan pertanyaan sejumlah 6 butir dan jawaban dari responden menunjukkan tingkat kesetujuan responden terhadap pelayanan yang diberikan oleh supermarket Pamella I Yogyakarta terhadap konsumen yang sedang berbelanja. Adapun hasil jawaban responden selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.8.
Tanggapan Responden terhadap Variabel Pelayanan

No.
Tanggapan Responden
Jumlah
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
Tidak Setuju
Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju
0
36
95
349
  0,00 %
  7,50 %
19,79 %
72,71 %
Total
480
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan-pernyataan variabel pelayanan yaitu sebanyak 349 jawaban (72,71 %). Kemudian jawaban setuju sebanyak 95 jawaban (19,79 %) dan sisanya sebanyak 36 jawaban (7,50 %) menunjukkan kurang setuju. Kondisi ini menunjukkan bahwa supermarket Pamella I Yogyakarta telah memberikan pelayanan yang memuaskan bagi konsumennya.

Kelengkapan barang (X3)
Data tentang variabel kelengkapan barang ini diperoleh melalui kuesioner dengan pertanyaan sejumlah 6 butir dan jawaban dari responden menunjukkan tingkat kesetujuan responden terhadap kelengkapan barang produk yang ditawarkan pada supermarket Pamella I Yogyakarta. Adapun hasil jawaban responden selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.9.
Tanggapan Responden terhadap Variabel Kelengkapan Barang

No.
Tanggapan Responden
Jumlah
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
Tidak Setuju
Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju
7
18
108
347
  1,46 %
  3,75 %
22,50 %
72,29 %
Total
480
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Tabel 4.9 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan-pernyataan variabel kelengkapan barang yaitu sebanyak 347 jawaban (72,29 %). Kemudian jawaban setuju sebanyak 108 jawaban (22,50 %) dan jawaban kurang setuju sebanyak 18 jawaban (3,75 %). Sedangkan sisanya sebanyak 7 jawaban (1,46 %) menunjukkan tidak setuju. Kondisi ini menunjukkan bahwa supermarket Pamella I Yogyakarta menyediakan berbagai macam kebutuhan konsumen secara lengkap sehingga semua kebutuhannya dapat terpenuhi dengan berbelanja di supermarket Pamella I Yogyakarta.

Kenyamanan (X4)
Data tentang variabel kenyamanan ini diperoleh melalui kuesioner dengan pertanyaan sejumlah 4 butir dan jawaban dari responden menunjukkan tingkat kesetujuan responden terhadap kenyamanan produk yang ditawarkan pada supermarket Pamella I Yogyakarta. Adapun hasil jawaban responden selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10.
Tanggapan Responden terhadap Variabel Kenyamanan

No.
Tanggapan Responden
Jumlah
Dalam Angka
Persentase
1.
2.
3.
4.
Tidak Setuju
Kurang Setuju
Setuju
Sangat Setuju
0
12
66
242
  0,00 %
  3,75 %
20,63 %
75,63 %
Total
320
100,00 %
Sumber : Data primer yang diolah.
Tabel 4.10 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan-pernyataan variabel kenyamanan yaitu sebanyak 242 jawaban (75,63 %). Kemudian jawaban setuju sebanyak 66 jawaban (20,63 %) dan sisanya sebanyak 12 jawaban (3,75 %) menunjukkan kurang setuju. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen merasa sangat nyaman dalam melakukan pembelian (berbelanja) di supermarket Pamella I Yogyakarta.
3.      Analisis Kuantitatif
a.        Uji Asumsi Regresi
1)       Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi variabel terikat, variabel bebas atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah dilakukan dengan program SPSS for Windows Release 11.0 diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 4.1.
Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan gambar 4.1 di atas dapat diketahui bahwa sebaran data tersebar di sekeliling garis lurus tersebut (tidak terpencar jauh dari garis lurus) sehingga dapat dikatakan bahwa persyaratan normalitas bisa dipenuhi.

2)       Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas merupakan suatu keadaan dimana terdapat hubungan linear yang sempurna diantara beberapa atau semua variabel bebas, bila terdapat hubungan linear yang sempurna diantara beberapa atau semua variabel bebas berarti analisis persamaan regresi dalam penelitian ini dapat membahayakan interpretasi.
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala multikolinieritas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai Variance Inflation Factor (VIF). Batas dari tolerance value adalah 0,01 dan batas VIF adalah 10. Jika tolerance value di bawah 0,01 atau nilai VIF di atas 10 maka model yang dihasilkan tersebut mengandung gangguan multikolinieritas.
Dari hasil pengolahan data dengan program SPSS for Windows Release 11.0 diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.11.
Hasil Uji Collinearity Statistic

Variabel

Tolerance

VIF
Harga
Pelayanan
Kelengkapan barang
Kenyamanan
0,647
0,670
0,701
0,659
1,546
1,492
1,426
1,517
            Sumber : Hasil pengolahan data.
Berdasarkan tabel 4.11 di atas dapat diketahui bahwa tolerance value untuk masing-masing variabel lebih besar dari 0,01 sedangkan nilai Variance Inflation Factor (VIF) untuk masing-masing variabel lebih kecil dari 10. Dengan demikian dapat disimpulkan model yang digunakan dalam penelitian ini tidak mengandung gangguan multikolinieritas.

3)       Uji Homoskedasitas
Uji homoskedasitas bertujuan menguji apakah dalam sebuah model regresi, terjadi kesamaan varian residual dari satu pengamatan kepengamatan lain, maka disebut homoskedasitas dan jika berbeda disebut heteroskedasitas. Homoskedasitas dapat diuji dengan menggunakan scatterplot sebagai berikut :
Gambar 4.2.
Hasil Uji Homoskedasitas
Berdasarkan gambar 4.3 di atas dapat diketahui bahwa sebaran data berada di sekitar titik 0 (nol) serta tidak tampak adanya suatu pola tertentu yang teratur pada sebaran data tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa persyaratan homoskedasitas bisa dipenuhi.

4)       Uji Autokorelasi
Autokorelasi merupakan keadaan dimana variabel gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan variabel gangguan pada periode lain. Adanya autokorelasi bertentangan dangan salah satu asumsi dasar klasik yaitu tidak ada korelasi diantara variabel gangguan. Akibat dari adanya autokorelasi adalah parameter yang diestimasi menjadi bias dan variannya tidak minimum, sehingga tidak efisien. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan pengujiannya sebagai berikut :
a)        Membuat suatu hipotesis
Ho :  Tidak terdapat autokorelasi pada persamaan regresi
Ha :  Terdapat autokorelasi pada persamaan regresi
b)       Penentuan penolakan atau penerimaan hipotesis tersebut dilakukan dengan membandingkan antara besarnya nilai DW-hitung dengan DW-tabel. Hal ini dapat ditunjukkan dengan membandingkan nilai-nilai tersebut ke dalam gambar daerah kritis Durbin Watson yaitu :





E             D             C                   B             A




Gambar 4.3.
Daerah Kritis Durbin Watson
Daerah A dan E atau jika d lebih kecil daripada dL atau lebih besar dari (4- dL) maka hipotesis nol ditolak, dengan kata lain pada daerah tersebut terdapat autokorelasi (daerah A merupakan autokorelasi positif dan daerah E merupakan daerah autokorelasi negatif). Jika d terletak antara du dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak terdapat autokorelasi. Sedang jika nilai d terletak antara dL dan dU atau antara (4-dU) dan (4-dL), maka uji Durbin Watson tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti. Untuk daerah-daerah ini tidak dapat disimpulkan ada tidaknya autokorelasi. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
a)        Model tidak mengandung autokorelasi bila :
dU < d < (4-dU)
b)       Hasil uji Durbin Watson tidak bisa disimpulkan bila :
dL < d < (4-dU) atau (4-dU) < d < (4- dL)
c)        Model mengandung autokorelasi bila :
d < dL atau d > (4- dL)
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan program statistik SPSS for Windows Release 11.0 diperoleh nilai DW test sebesar 1,858 kemudian nilai DW test tersebut dibandingkan dengan nilai dU untuk sisi kiri serta 4-dU untuk sisi kanan. Dari tabel statistik dengan a = 5 % diperoleh hasil sebagai berikut :
n       =  80
k       =  4
dL     =  1,534
dU     =  1,743
4-dU  =  2,257
4-dL  =  2,466
Setelah dibandingkan ternyata nilai DW test terletak antara dU dan 4-dU (1,743 < 1,858 < 2,257) yang artinya nilai DW test terletak pada daerah C atau daerah non autokorelasi, sehingga dapat dikatakan bahwa model yang digunakan tidak terdapat gejala autokorelasi.

b.        Analisis Regresi Linier Berganda
Untuk mengetahui pengaruh harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan terhadap frekuensi beli konsumen maka digunakan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan program statistik SPSS for Windows Release 11.0 diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.12.
Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Variabel
Koefisien Regresi
Standar Error
t hitung
Sig.
X1
X2
X3
X4
0,239
0,115
0,130
0,164
0,050
0,048
0,052
0,076
4,764
2,393
2,507
2,161
0,000
0,019
0,014
0,034
Konstanta    =   0,262
R                  =   0,792
R²                =   0,627
F hitung       =   31,483
N                 =   100
Sumber : Data primer yang diolah.

Selanjutnya untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dilakukan uji F dan uji t. Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara simultan sedangkan uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas secara parsial/individu.
1)      Uji F (Pengujian Secara Simultan)
Untuk menguji pengaruh variabel-variabel bebas (harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan) secara simultan/serempak terhadap variabel terikat (frekuensi beli konsumen) maka digunakan uji F. Adapun langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
a)      Menentukan hipotesis :
Ho : b1, b2, b3, b4 = 0,  artinya harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan secara simultan tidak berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen
Ha : b1, b2, b3, b4 ¹ 0,  artinya harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan secara simultan berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen
b)      Dengan menggunakan taraf signifikansi 95 % (a = 0,05) dan derajat kebebasan (df) = (n-k);(k-1) = (75);(4) diperoleh F tabel sebesar 2,494
c)      Kriteria pengujian :
Ho diterima apabila  F hitung £ 2,494
Ho ditolak apabila F hitung > 2,494
d)     Hasil perhitungan diperoleh F hitung = 31,483

 




0                                                             2,494
31,483
Gambar 4.4.
Daerah Penerimaan Ho dan Daerah Penolakan Ho
Untuk Uji Koefisien Regresi Secara Serempak


e)      Kesimpulan :
Hasil perhitungan menunjukkan nilai F hitung > F tabel (31,483 > 2,494) atau mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,000 (kurang dari 0,05) sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya Ha berarti harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan secara simultan berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen pada supermarket Pamella I Yogyakarta.

2)      Uji t (Pengujian Secara Parsial)
Untuk membuktikan pengaruh variabel-variabel bebas secara parsial/individu terhadap variabel terikat maka digunakan uji t. Dalam pengujian ini digunakan taraf signifikansi (a) =  5 %, derajat kebebasan (df) = (n-k) = 75 dengan pengujian dua sisi diperoleh t tabel = 1,992. Adapun kriteria pengujiannya sebagai berikut :
·         Ho diterima jika –1,992 £ t hitung £ 1,992
·         Ho ditolak jika t hitung < –1,992 atau t hitung > 1,992
a)      Pengaruh harga terhadap frekuensi beli konsumen
Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
(1)   Menentukan hipotesis
Ho : b1 = 0,   artinya harga tidak berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen
Ha : b1 ¹ 0,   artinya harga berpengaruh signifikan terhadap frekuensi beli konsumen
(2)   Hasil perhitungan diperoleh t hitung = 4,764







–1,992                                     1,992
4,764
Gambar 4.5.
Daerah Penerimaan Ho dan Daerah Penolakan Ho
Untuk Uji Koefisien Regresi Harga
(3)   Kesimpulan :
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa t hitung > t tabel (4,764 > 1,992) atau mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,000 (kurang dari 0,05) sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya Ha berarti harga berpengaruh secara signifikan terhadap frekuensi beli konsumen pada supermarket Pamella I Yogyakarta dan pengaruhnya adalah positif, sehingga apabila harga produk yang ditawarkan oleh supermarket Pamella I Yogyakarta semakin baik maka frekuensi beli konsumen juga akan mengalami peningkatan.

b)      Pengaruh pelayanan terhadap frekuensi beli konsumen
Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
(1)   Menentukan hipotesis
Ho : b2 = 0,   artinya pelayanan tidak berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen
Ha : b2 ¹ 0,   artinya pelayanan berpengaruh signifikan terhadap frekuensi beli konsumen
(2)   Hasil perhitungan diperoleh t hitung = 2,393







–1,992                                     1,992
2,393
Gambar 4.6.
Daerah Penerimaan Ho dan Daerah Penolakan Ho
Untuk Uji Koefisien Regresi Pelayanan
(3)   Kesimpulan :
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa t hitung > t tabel (2,393 > 1,992) atau mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,000 (kurang dari 0,05) sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya Ha berarti pelayanan berpengaruh secara signifikan terhadap frekuensi beli konsumen dan pengaruhnya adalah positif, sehingga apabila pelayanan yang diberikan oleh supermarket Pamella I Yogyakarta semakin baik maka maka frekuensi beli konsumen juga akan meningkat.


c)      Pengaruh kelengkapan barang terhadap frekuensi beli konsumen
Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
(1)   Menentukan hipotesis
Ho : b3 = 0,   artinya kelengkapan barang tidak berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen
Ha : b3 ¹ 0,   artinya kelengkapan barang berpengaruh signifikan terhadap frekuensi beli konsumen
(2)   Hasil perhitungan diperoleh t hitung = 2,507







–1,992                                     1,992
2,507
Gambar 4.7.
Daerah Penerimaan Ho dan Daerah Penolakan Ho
Untuk Uji Koefisien Regresi Kelengkapan Barang
(3)   Kesimpulan :
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa t hitung > t tabel (2,507 > 1,992) atau mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,000 (kurang dari 0,05) sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya Ha berarti kelengkapan barang berpengaruh secara signifikan terhadap frekuensi beli konsumen dan pengaruhnya adalah positif, sehingga apabila barang yang disediakan oleh supermarket Pamella I Yogyakarta semakin lengkap maka maka frekuensi beli konsumen juga akan meningkat.

d)     Pengaruh kenyamanan terhadap frekuensi beli konsumen
Langkah-langkah pengujiannya sebagai berikut :
(1)   Menentukan hipotesis
Ho : b4 = 0,   artinya kenyamanan tidak berpengaruh terhadap frekuensi beli konsumen
Ha : b4 ¹ 0,   artinya kenyamanan berpengaruh signifikan terhadap frekuensi beli konsumen
(2)   Hasil perhitungan diperoleh t hitung = 2,161







–1,992                                     1,992
2,161
Gambar 4.8.
Daerah Penerimaan Ho dan Daerah Penolakan Ho
Untuk Uji Koefisien Regresi Kenyamanan


(3)   Kesimpulan :
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa t hitung > t tabel (2,161 > 1,992) atau mempunyai tingkat signifikansi sebesar 0,000 (kurang dari 0,05) sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya Ha berarti kenyamanan berpengaruh secara signifikan terhadap frekuensi beli konsumen dan pengaruhnya adalah positif, sehingga apabila kenyamanan yang diperoleh konsumen dalam berbelanja di supermarket Pamella I Yogyakarta semakin baik maka maka frekuensi beli konsumen juga akan meningkat.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi beli konsumen pada supermarket Pamella I Yogyakarta, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
  1. Hasil pengujian secara simultan/serempak (uji F) menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas (faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap frekuensi beli konsumen. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F hitung (31,483) lebih besar dari nilai F tabel (2,494).
  2. Hasil pengujian secara parsial (uji t) menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas (harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap frekuensi beli konsumen dan pengaruhnya adalah positif sehingga apabila faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan semakin baik maka frekuensi beli konsumen juga akan meningkat. Ini ditunjukkan oleh nilai t hitung untuk faktor harga (4,764), faktor pelayanan (2,393), faktor kelengkapan barang (2,507) dan faktor kenyamanan (2,161) lebih besar dari nilai t tabel (1,992).

B.    Saran

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data serta kesimpulan di atas maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut :
  1. Dengan diketahuinya pengaruh faktor harga, pelayanan, kelengkapan barang dan kenyamanan terhadap frekuensi beli konsumen, maka pihak pengelola supermarket Pamella I Yogyakarta hendaknya lebih memperhatikan faktor-faktor tersebut sehingga frekuensi beli konsumen dapat ditingkatkan.
  2. Dalam hal kenyamanan berbelanja perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi dari pengelola supermarket Pamella I Yogyakarta. Hal ini dikarenakan dalam berbelanja mereka terkadang masih was-was dengan keamanan uang yang dibawanya sehingga masalah keamanan dari para konsumen perlu lebih ditingkatkan lagi.



DAFTAR PUSTAKA

Boyd, Harper W. Jr, Orville C. Walker. Jr dan Carl McDaniel. 2001. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Kedua. Alih Bahasa: Imam Nurnawan, S.E. Jakarta: Erlangga
Husein, Umar. 2002. Metode Riset Bisnis. Jakarta: PT gramedia Pustaka Utama
J. Paul, Peter & C. Olson, Jery. 2003. Consumen Behavior: Perilaku Konsimen dan Strategi Pemasaran. Edisi Keempat. Ahli Bahasa: Damos Sihombing. Jakarta: Erlangga
Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Milenium. Alih Bahasa: Hendra Teguh, S.E., AK dan Ronny A. Rusli, S.E., AK. Jakarta: PT Prenhallindo
Kotler, Philip dan Gary Amstrong. 2001. Principles of Marketing. Edisi Kesembilan. New Jersey: PT Prenhallindo
____________________________, 2005. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Kesebelas. Alih Bahasa: Drs. Benyamin Molan. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Lamb, Charles W. Jr, Joseph F. Hair, Jr dan Carl McDaniel. 2001. Manajemen Pemasaran. Jilid Pertama. Edisi Pertama. Penerjemah: David Octarevia. Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Empat
Robbins, Stephen P. 2003. Perilaku Organisasi. Jilid Pertama. Edisi Kesembilan. Alih Bahasa: Drs. Benyamin Molan. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia
Santoso, Singgih. 2002. Buku Latihan SPSS Statistik Parametik. Jakarta: Elek Media Komputindo
Simamora, Bilson. 2004. Panahan Riset dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alvabeta
Sutisna. 2002. Perilaku Konsimen dan Komunukasi Pemasaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Tjiptono, Fandy, Yanto Chandra dan Anastasia Diana. 2004. Marketing Scale. Yogyakarta: ANDI
Warren, Keegan J. 1995. Global MarketingMangement. Edisi kelima. New Jersey: PT Prenhallindo