Mengenai Saya

Foto saya
My formal education : SMPN 4 Bekasi, SMAN 4 Bekasi. I'm a university student in Gunadarma University. Faculty of Economics. Bachelor Degree of Management. Strata 1. Class 3 EA 10 ( superior class ). NPM 10208241 Please visit http://10208241.student.gunadarma.ac.id/kursus.html http://10208241.student.gunadarma.ac.id/tugas.html My handphone number +62 856 9755 2992. Give priority to education. Competence, idea, initiative, optimist, logical, spirit. Working with professionalism. I believe with my ability..

Sabtu, 06 November 2010

PENGARUH PENAWARAN PRODUK IMITASI JENIS FASHION TERHADAP PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN PADA KONSUMEN PASAR ECERAN PEKANAN GASIBU KOTA BANDUNG


Mata Kuliah Softskill : Perilaku Konsumen.



PENGARUH PENAWARAN PRODUK IMITASI JENIS FASHION TERHADAP PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN PADA KONSUMEN 
PASAR ECERAN PEKANAN GASIBU KOTA BANDUNG



ABSTRAK


Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang. Ini juga menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena secara umum cukup meratanya pengunjung pasar Gasibu, baik itu dari asal domisilinya, tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, golongan usianya, dan jenis kelaminnya, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pendapat penduduk Kota Bandung mengenai peredaran produk imitasi jenis fashion di kotanya atau minimal pendapat pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu itu sendiri.

Dengan pemenuhan persepsi konsumen mengenai produk imitasi jenis fashion pada pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung dapat membantu konsumen dalam berperilaku. Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi. Hal ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, di mana mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa sering mereka menggunakannya.

Metoda penelitian yang digunakan adalah deskriptif verifikatif, yaitu menguji kebenaran hipotesis melalui pengumpulan, pengolahan penganalisisan data yang didapat dari hasil kuesioner, wawancara, dan data sekunder dari konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung. Pokok masalah yang diteliti menyangkut dua hal, yaitu penawaran produk imitasi jenis fashion sebagai variabel bebas atau independent (variabel X) dan proses keputusan pembelian konsumen sebagai variabel terikat atau dependent (variabel Y).

Berdasarkan analisis statistik menunjukkan bahwa penawaran produk imitasi jenis fashion mempengaruhi proses keputusan pembelian sebesar 80,5% dan sisanya sebesar 19,5% dipengaruhi oleh faktor lain.






DAFTAR ISI


ABSTRACT……………………………………………………………………
ABSTRAK……………………………………………………………………..
KATA PENGANTAR………………………………………………………...
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..
DAFTAR TABEL……………………………………………………………..
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………….
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………..
1.1  Latar Belakang Penelitian………………………………………………….
1.2  Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah……………..…………………
1.3  Maksud dan Tujuan Penelitian……………………………………………..
1.4  Kegunaan Penelitian………………………………………………………..

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN & HIPOTESIS……………………………………………...................................
2.1 Kajian Pustaka……………………………………………………………...
2.1.1 Usaha Eceran……………………………………………………………..
2.1.1.1 Pengertian Usaha Eceran dan Pengecer……………………………
2.1.1.2 Keputusan Pemasaran Pengecer (Retailer Marketing Decision)…..
2.1.2 Produk……………………………………………………………………
2.1.2.1 Level Produk……………………………………………………….
2.1.2.2 Hierarki Produk…………………………………………………….
2.1.2.3 Klasifikasi Produk………………………………………………….
2.1.2.3.1 Daya Tahan dan Keberwujudan……………………………...
2.1.2.3.2 Klasifikasi Barang Konsumen………………………………..
2.1.3 Perilaku Konsumen………………………………………………………
2.1.3.1 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen………
2.1.3.2 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen……………
2.1.3.3 Klasifikasi Peran Pembelian……………………………………….
2.1.3.4 Klasifikasi Pengambilan Keputusan Konsumen…………………...
2.1.3.5 Tipe Konsumen Dalam Mengambil Keputusan……………………
2.1.4 Model Pengambilan Keputusan Konsumen……………………………...
2.1.4.1 INPUT……………………………………………………………...
2.1.4.2 PROSES……………………………………………………………
2.1.4.3 OUTPUT…………………………………………………………...
2.1.5 Islam Sebagai Sumber Nilai……………………………………………..
2.1.5.1 Al Qur’an dan Al Hadits Sebagai Pedoman……………………….
2.1.5.2 Kewajiban Bekerja dan Mencari Penghasilan yang Dihalalkan…...
2.1.5.3 Nilai dan Moral Dalam Bidang Perdagangan……………………...
2.1.5.4 Nilai dan Moral Dalam Membelanjakan Harta…………………….
2.2 Kerangka Pemikiran………………………………………………………..
2.3 Hipotesis……………………………………………………………………

BAB III METODE PENELITIAN…………………………………………..
3.1 Metode yang Digunakan…………………………………………………..
3.1.1 Objek Penelitian……………………………………………………...
3.1.2 Metode Penelitian…………………………………………………….
3.2 Operasionalisasi Variabel…………………………………………………..
3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data………………………………………….
3.3.1 Jenis dan Sumber Data……………………………………………….
3.3.2 Metode Penarikan Sampel……………………………………………
3.4 Teknik Pengumpulan Data…………………………………………………
3.5 Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis……………………………………..
3.5.1 Instrumen Penelitian…………………………………………………..
3.5.1.1 Skala Pengukuran……………………………………………….
3.5.1.2 Uji Validitas……………………………………………………..
3.5.1.3 Uji Reliabilitas…………………………………………………..
3.5.2 Metode Analisis dan Uji Hipotesis……………………………………

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……………………..
4.1 Profil Produk…………….…………………………………………………..
4.2 Profil Responden………...…………………………………………………..
4.3 Analisa Tanggapan Responden mengenai Atribut Produk Imitasi Jenis Fashion di Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung …………………..
4.4 Analisa Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung ……………………………………………..
4.4.1 Analisa Kualitatif Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung ………………………...
4.4.2.Analisa Kuantitatif Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion Terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung …………….
4.4.2.1 Uji Validitas……………………………………………………..
4.4.2.2 Uji Reliabilitas……….………………………………………….
4.4.2.3 Analisis Korelasi Linier Sederhana…..………………………….

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………..
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………….
5.2 Saran……...………………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..

LAMPIRAN

i
ii
iii
vi
ix
xi
xii

1
1
6
8
8

10

10
10
10
12
14
14
16
17
17
17
18
19
23
26
27
28
30
32
33
35
37
37
38
39
41
43
50

51
51
51
52
52
57
57
57
58
59
59
59
59
60
62

66
66
66

73


82


82


86
86
89
91

93
93
95

96

















DAFTAR TABEL

Tabel 3.1
Tabel 4.1
Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.12 Tabel 4.13
Tabel 4.14 Tabel 4.15 Tabel 4.16
Tabel 4.17 Tabel 4.18 Tabel 4.19 Tabel 4.20 Tabel 4.21 Tabel 4.22 Tabel 4.23 Tabel 4.24 Tabel 4.25
Tabel 4.26 Tabel 4.27 Tabel 4.28
Tabel 4.29 Tabel 4.30 Tabel 4.31 Tabel 4.32 Tabel 4.33 Tabel 4.34 Tabel 4.35 Tabel 4.36 Tabel 4.37 Tabel 4.38
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Profil Responden Berdasarkan Usia
Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Profil Responden Berdasarkan Agama
Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Profil Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Profil Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Profil Responden Berdasarkan Penghasilan / Uang Saku
Profil Responden Berdasarkan Frekuensi Pembelian
Profil Responden Berdasarkan Nilai Rata-rata Pembelian
Profil Responden Berdasarkan Situasi Saat Kunjungan
Profil Responden Berdasarkan Waktu Rata-rata Kunjung
Tanggapan Responden Tentang Keragaman Produk
Tanggapan Responden Tentang Kualitas Produk Tanggapan Responden Tentang Produk SelaluUp to Date Tanggapan Responden Tentang Harga Yang Terjangkau
Tanggapan Responden Tentang Harga Sesuai Kualitas Tanggapan Responden Tentang Harga dapat Ditawar Tanggapan Responden Tentang Harga Yang Bervariasi Tanggapan Responden Tentang Tempat Yang Strategis Tanggapan Responden Tentang Lingkungan Nyaman Tanggapan Responden Tentang Ada Fasilitas Penunjang
Tanggapan Responden Tentang Ada Bonus & Hadiah Tanggapan Responden Tentang Ada Potongan Harga Konsumen Pada Tahap Pengenalan Kebutuhan Konsumen Pada Tahap Pemncarian Informasi
Konsumen Pada Tahap Penilaian Alternatif
Konsumen Pada Tahap Keputusan Pembelian
Konsumen Pada Tahap Perilaku Setelah Pembelian
Descriptive Statistics
Correlations
Variables Entered/Removed
Model Summary
ANOVA
Coefficients
Case Processing Summary Variable X
Reliability Statistics variable X
Case Processing Summary Variable Y
Reliability Statistics variable Y








DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 2.5
Lima Level Produk
Model Pengambilan Keputusan Konsumen
Lima Tahap Model Proses Pembelian Konsumen
Paradigma Penelitian
Model Kerangka Pemikiran



















DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Lampiran 2


Lampiran 3 Lampiran 4
Lampiran 5
Tanggapan Konsumen Terhadap Atribut Pemasaran Kios Gasibu
Tanggapan Konsumen Mengenai Pengaruh Atribut Pemasaran Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen
Korelasi Variabel X
Korelasi Variabel Y
Kuesioner




















BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Perilaku pembelian konsumen memang merupakan suatu pembahasan yang unik dan menarik , sebab bahasan ini akan menyangkut pada berbagai faktor di berbagai dimensi kehidupan manusia yang berbeda-beda. Selama manusia tersebut melakukan kegiatan perekonomian –pembelian- dalam kehidupan, maka selama itu kita akan selalu mendapatkan fenomena-fenomena baru dalam pola perilaku pembeliannya.
            Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena peredaran produk-produk imitasi –barang palsu- sebagai sebuah alternatif baru dalam pilihan konsumsi konsumen Indonesia. “Tiap orang di Indonesia menggunakan produk imitasi, setidaknya sekali seumur hidup” itulah sebuah satire yang mungkin pernah kita dengar. Kalau mau jujur berapa persen dari seluruh produk yang kita miliki yang benar-benar orisinal? Sisanya, bisa merupakan imitasi atau meniru sendiri. Hal seperti ini nampaknya nikmat dari sisi konsumen, tapi merupakan musibah bagi pihak perusahaan. Terlebih lagi apabila kita dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa International Intellectual Property Alliance (IIPA), sebuah organisasi independen di AS, merekomendasikan kepada Departemen Perdagangan AS dan World Intellectual Property Organization untuk tetap memasukkan Indonesia dalam peringkat yang diawasi. Sejak tahun 2000, Amerika menganggap Indonesia kurang serius dalam pelindungan HAKI. Hal itu tampak pada klaim pelanggarannya yang mencapai 668,2 juta dollar AS tahun 1997. Dari jumlah itu, pembajakan hak cipta mencapai 334,1 juta dollar AS, program komputer 256,1 juta dollar AS, serta untuk pembajakan buku, film, rekaman lagu, dan komposisi musik total sebesar 78 juta dollar AS (kompas/16 April 2002). Data tersebut, belum termasuk pembajakan terhadap karya-karya lokal.
Salah satu bukti kasar yang dapat kita lihat di lapangan yaitu semakin meningkatnya konsumen maupun produsen produk-produk imitasi di berbagai tempat. Terlepas dari legal maupun tidak legalnya kegiatan perekonomian semacam ini, kita dapat saksikan dengan jelas bahwa tempat-tempat yang menjual produk-produk imitasi tidak pernah sepi dari kegiatan perekonomian, sekalipun itu pada hari libur.
            Bahasan ini semakin menarik karena produk imitasi yang dahulunya dianggap hanya mengunggulkan harga yang murah dengan mengabaikan kualitas dari produk yang ditawarkan, ternyata saat ini tidak seluruhnya benar. Sebab dalam sebuah perbincangan, penulis menemukan sebuah pendapat baru bahwa tidak semua barang imitasi kualitasnya rendah, pada kenyataannya banyak barang imitasi sudah mulai menyamai kualitas dari barang yang diimitasinya. Bahkan ada beberapa produsen produk imitasi yang berani menyatakan bahwa produk yang ditawarkannya tidak kalah dengan produk aslinya.
Hal ini semakin masuk akal ketika ada sebuah argumen bahwa produk imitasi dapat menawarkan produknya dengan kualitas hampir menyamai bahkan sama dengan produk aslinya dengan harga yang jauh dibawah harga produk asli, disebabkan produsen produk imitasi dapat memangkas banyak biaya yang seharusnya harus dikeluarkan oleh para produsen produk asli. Sebagian produsen produk asli mematok harga yang mahal dikarenakan mereka harus menutup berbagai biaya seperti biaya promosi –dimana sebagian besar perusahaan dunia menganggarkan sepertiga dari anggaran tahunannya untuk biaya ini-, biaya penelitian dan pengembangan produk, biaya penyaluran&distribusi serta pajak yang persentasenya tidak sedikit. Selain itu, harga mahal dapat juga disebabkan karena produk tersebut telah memiliki popularitas dimata konsumen, sehingga beberapa konsumen cenderung “membeli merek” dan mengesampingkan kualitas maupun harga.
Di bidang merek, pelanggaran tidak hanya menyangkut merek-merek asing. Selain merek terkenal asing, termasuk yang telah diproduksi di dalam negeri, merek-merek lokal juga tak luput dari sasaran peniruan dan pemalsuan. Di antaranya, produk rokok, tas, sandal dan sepatu, busana, parfum, arloji, alat tulis dan tinta printer, oli, dan bahkan onderdil mobil. Kasus pemalsuan yang terakhir ini terungkap lewat operasi penggerebekan terhadap sebuah toko di Jakarta Barat yang mendapatkan sejumlah besar onderdil Daihatsu palsu. Pelakunya telah ditindak dan saat ini sedang menjalani persidangan di PN Jakarta Barat.
Dalam hubungannya dengan perekonomian, Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang. Ini juga menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena secara umum cukup meratanya pengunjung pasar Gasibu, baik itu dari asal domisilinya, tingkat pendapatannya, tingkat pendidikannya, golongan usianya, dan jenis kelaminnya, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pendapat penduduk Kota Bandung mengenai peredaran produk imitasi jenis fashion di kotanya atau minimal pendapat pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu itu sendiri.
Hal yang menarik lainnya adalah hal apa yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu?
Namun terlepas dari itu semua, pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung telah memberikan kontribusi besar dalam perekonomian setiap pekannya. Baik itu kontribusi bagi pedagangnya sebagai tempat mencari nafkah, kontribusi yang berasal dari biaya retribusi yang masuk ke kas Pemda, atau kontribusi bagi konsumen yang mendapat penawaran produk dengan harga yang relatif terjangkau. Di lain sisi keberadaan pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung banyak meresahkan pihak-pihak yang merasa terancam dengan keberadaan pasar jenis ini. Banyak hal yang harus diamati mengenai tempat ini sebab bukan hanya efek negatif saja yang ditimbulkan, namun ternyata efek positif bagi beberapa pihak juga dapat dirasakan dengan jelas.
Kembali ke masalah perilaku pembelian konsumen, untuk memahami pola perilaku pembelian konsumen yang unik ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang atribut-atribut program pemasaran sebuah produk (marketing mix). Atribut-atribut program pemasaran sebuah produk tersebut dapat menjadi sebuah obyek yang menarik dan mengundang perhatian, terutama bagi pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung dan penduduk kota Bandung pada umumnya. Selanjutnya, atribut tadi menjadi stimulus (rangsangan) yang akan diinterpretasikan hingga menjadi gambaran yang berarti dan saling berkaitan atau persepsi, berdasarkan kriteria evaluasi yang ada di benak mereka. Setiap individu memiliki kriteria evaluasi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya sehingga persepsi yang muncul pun akan berbeda-beda. Sementara itu suatu obyek akan dapat dinilai dari berbagai segi berdasarkan jumlah atribut yang melekat padanya. Kumpulan persepsi seseorang terhadap suatu obyek membentuk suatu citra tertentu atas obyek yang bersangkutan, maka dalam penelitian ini bila obyeknya adalah suatu produk imitasi jenis fashion maka citra yang terbentuk itu disebut citra produk imitasi jenis fashion.
Konsumen sebagai individu perilakunya turut dibentuk oleh faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan pendirian. Dengan demikian, perilaku pembelian yang diperagakan konsumen terhadap suatu produk imitasi jenis fashion juga dapat turut dibentuk oleh sekumpulan persepsi mereka terhadap atribut produk imitasi jenis fashion yang mereka rasakan.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh penawaran produk imitasi jenis fashion terhadap keputusan pembelian konsumen di pasar eceran dengan judul “Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen pada Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung”

1.2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
            Salah satu fenomena yang cukup menarik perhatian penulis dan mungkin pula menarik perhatian banyak orang yaitu fenomena peredaran produk-produk imitasi –barang palsu- sebagai sebuah alternatif baru dalam pilihan konsumsi konsumen Indonesia
Hal ini semakin masuk akal ketika ada sebuah argumen bahwa produk imitasi dapat menawarkan produknya dengan kualitas hampir menyamai bahkan sama dengan produk aslinya dengan harga yang jauh dibawah harga produk asli, disebabkan produsen produk imitasi dapat memangkas banyak biaya yang seharusnya harus dikeluarkan oleh para produsen produk asli.
Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu contoh sentra perdagangan produk imitasi di Kota Bandung setelah Pasar Baru dan Dalem kaum. Pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung merupakan salah satu pasar yang dikunjungi konsumen dalam jumlah yang relatif besar walaupun pasar ini hanya ada setiap hari minggu. Dari sebuah sumber pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya diperkirakan mencapai 10.000 orang yang berasal dari seluruh pelosok Kota Bandung hingga Kotif Cimahi, Kabupaten bandung, dan Kabupaten Sumedang.
Hal yang menarik lainnya adalah hal apa yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya? Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak? atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku? atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja? atau hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu?
Kembali ke masalah perilaku pembelian konsumen, untuk memahami pola perilaku pembelian konsumen yang unik ini, maka kita akan membahasnya melalui sudut pandang atribut-atribut program pemasaran sebuah produk (marketing mix). Kemudian fenomena ini akan dihubungkan dengan proses keputusan pembelian konsumen, untuk nantinya akan dapat diketahui pengaruh antara dua variabel tersebut.
Dari uraian diatas, penulis dapat merumuskan masalah-masalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana pengetahuan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.
  2. Bagaimana tanggapan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung
  3. Seberapa besar pengaruh penawaran produk-produk imitasi tersebut terhadap proses keputusan pembelian produk fashion pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
            Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengumpulkan, mengolah, dan menganalisa data serta menginterpretasikannya. Hasilnya akan digunakan sebagai bahan penyusunan skripsi yang akan diajukan sebagai salah satu syarat untuk menempuh ujian sarjana Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran.
            Penelitian bertujuan untuk:
  1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.
  2. Untuk mengetahui tentang bagaimana tanggapan konsumen yaitu konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung mengenai maraknya penawaran produk-produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung.
  3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penawaran produk-produk imitasi jenis fashion terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota bandung.





1.4. Kegunaan Penelitian
            Kegunaan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:
  1. Kegunaan Praktis
Manfaat bagi perusahaan adalah untuk mengetahui tanggapan dan pengetahuan konsumen terhadap maraknya penawaran produk imitasi jenis fashion di pasaran dan mengetahui pengaruh penawaran produk imitasi jenis fashion terhadap proses keputusan pembelian konsumen. Informasi ini diharapakan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam usaha mempertahankan eksistensi produknya dari ancaman pesaing jenis ini di masa yang akan datang.

  1. Kegunaan Akademis
Hasil penelitian ini diharapakan:
Ø  Dapat menjadi bahan masukan bagi semua pihak yang berminat terhadap bidang manajemen pemasaran terutama yang berkaitan dengan retailing (perdagangan eceran), competition (persaingan), imitasi, perilaku konsumen, dan komunikasi pemasaran.
Ø  Dapat menambah wawasan dan pengetahuan penyusun dalam bidang manajemen pemasaran yaitu yang berkaitan dengan retailing(perdagangan eceran), competition (persaingan), imitasi, perilaku konsumen, dan komunikasi pemasaran, khususnya mengenai pengaruh peng-imitasi-an produk jenis fashion terhadap keputusan pembelian konsumen.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN & HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Usaha Eceran
            Berbagai alasan teknis dan ekonomis menyebabkan tidak semua produsen mau dan mampu berhubungan langsung dengan konsumen akhir produk yang dibuatnya. Sehingga mereka membutuhkan adanya jalur distribusi yang menghubungkan antara produsen dan konsumen akhir. Konsumen pun dengan alasannya sendiri juga tidak selalu merasa perlu untuk membeli langsung dari produsen. Dengan demikian, baik produsen maupun konsumen memang membutuhkan penghubung yang memberi kemudahan dan manfaat bagi semua pihak. Dalam dunia bisnis, peran penghubung itu dijalankan oleh usaha eceran.

2.1.1.1 Pengertian Usaha Eceran dan Pengecer
            Pengertian usaha eceran telah diungkapkan oleh banyak ahli pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong (1999:390) “Retailling is all activities involves in selling goods or services directly to final consumers for their personal, non business use”. Atau usaha eceran adalah semua aktivitas yang terlibat dalam menjual barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi bukan bisnis.
            Sementara Berman (1996:8) menyatakan:
“Retailling consist of those business activities involved in the sale of goods and services to consumers for personal,family, or household use. It is the final stage of the distribution process”.

“Usaha eceran terdiri dari aktivitas-aktivitas bisnis yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa ke konsumen untuk penggunaan pribadi, keluarga atau rumah tangga. Ini merupakan tahap terakhir dari proses distribusi”.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha eceran merupakan tahap akhir dari proses distribusi atas aktivitas-aktivitas bisnis dalam menjual barang atau jasa kepada konsumen akhir yang penggunaannya untuk konsumen akhir yang penggunaanya untuk keperluan pribadi, keluarga, rumah tangga atau keperluan lainnya yang bersifat bukan bisnis.
            Bila eceran mengacu kepada aktivitas atau kegiatan maka pelaku atau yang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut disebut pengecer, hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Etzel, Walker dan Stanton (1997:372) yaitu:
“Any firm – manufacture, wholesaler, or retailer- that sells something to ultimate consumer for their non business use is making a retail sale. This is true regardless of how the product is sold (in person or by telephone, mail or vending machine) or where it sold (in a store or at the consumer’s home). However, a firm engaged primarily in retailling is called a retailer”.

“Setiap perusahaan –manufaktur, pedagang grosir atau pengecer- yang menjual sesuatu kepada konsumen akhir untuk pemakaian non-bisnis disebut melakukan penjualan eceran. Tanpa memperhatikan bagaimana produk tersebut dijual (malalui orang atau telapon, surat atau mesin penjualan) atau dimana produk itu dijual (di toko atau di rumah konsumen). Suatu perusahaan yang usaha pokoknya dalam usaha eceran disebut pengecer”.

            Berdasarkan definisi dari Etzel, Walker dan Stanton (1997:372) tersebut juga dapat disimpulkan bahwa usaha eceran dapat dilakukan dengan menggunakan toko maupun tidak menggunakan toko. Kotler (2000:595) menyatakan bahwa dalam usaha eceran tidak mempertimbangkan bagaimana produk-produk itu dijual baik melalui orang, surat, telepon atau mesin penjual, juga tidak mempertimbangkan dimana dijualnya, di toko, di pinggir jalan, atau di rumah konsumen. Penjualan eceran yang dilakukan dengan toko disebut store retailing sedangkan yang tanpa toko disebut nonstore retailing.
            Walaupun sebagian besar barang dan jasa dijual melalui toko, penjualan eceran bukan toko (nonstore retailing) telah berkembang lebih pesat dibandingkan penjualan eceran melalui toko, mencapai lebih dari 12% total pembelian konsumen. Beberapa pengamat meramalkan bahwa setengah dari barang dagangan umum akan dijual melalui eceran bukan toko pada akhir dekade ini. Penjualan eceran tanpa toko terbagi menjadi empat kategori yaitu: Penjualan langsung, Pemasaran langsung, penjualan otomatis, dan jasa pembelian.

2.1.1.2 Keputusan Pemasaran Pengecer (Retailer Marketing Decision)
            Kondisi pasar yang dinamis membuat pengecer harus terus memperhatikan strategi pemasarannya agardapat terus menarik banyak konsumen. Dalam kaitan ini para pemasar akan membuat bermacam-macam keputusan, menurut Kotler (2000:596) keputusan tersebut adalah:
1.      Keputusan pasar sasaran
Merupakan keputusan paling penting bagi seorang pengecer. Sebelum pasar sasaran didefinisikan dan diketahui profilnya, pengecer tidak dapat membuat keputusan yang konsisten mengenai ragam produk, pola pelayanan, pesan, promosi maupun harga yang pantas, dan lain-lain. Berdasarkan pasar sasaran ini pengecer akan menciptakan strategi yang sesuai.
2.      Keputusan ragam produk dan perolehan
Ragam produk (pruduct assortment) pengecer harus sesuai dengan harapan belanja pasar sasarannya. Pengecer harus memutuskan keluasan (sempit dan lebar) dan kedalaman (dangkal dan dalam) ragam produk. Dimensi ragam produk lainnya adalah kualitas barang. Pelanggan tertarik dengan kualitas produk seperti halnya dengan rentang produk.
3.      Keputusan pelayanan dan suasana
Bauran pelayanan (sevice mix) merupakan salah satu alat utama untuk mendiferensiasikan suatu eceran dengan eceran lainnya. Alat lainnya adalah suasana/lingkungan (atmosphere). Suatu eceran harus membentuk suatu suasana terencana yang sesuai dengan pasar sasarannya dan dapat menarik konsumen untuk membeli.
4.      Keputusan harga
Harga pengecer merupakan faktor utama penentuan posisi dan harus diputuskan sesuai dengan pasar sasarannya, bauran ragam produk dan pelayanan, serta persaingan. Semua pengecer menginginkan margin yang tinggi dan mencapai volume penjualan yang besar, tapi biasanya kedua hal tersebut tidak dapat berjalan bersamaan. Pengecer umumnya digolongkan menjadi kelompok margin tinggi dengan volume kecil atau kelompok margin rendah dengan volume besar.
5.      Keputusan promosi
Pengecer menggunakan berbagai macam alat promosi untuk menarik pengunjung dan menciptakan pembelian serta memperkuat penentuan posisi citranya. Bentuk promosi yang dilakukan dapat berupa advertising, obral khusus, kupon potongan harga dan lain-lain.
6.      Keputusan tempat
Para pengecer biasa mengungkapkan tiga kunci keberhasilan adalah “lokasi, lokasi, lokasi”. Hak ini menunjukkan bahwa keputusan lokasi merupakan keputusan sangat penting yang harus dibuat secara cermat. Pengecer memiliki pilihan untuk menempatkan usahanya di daerah pusat bisnis, pusat perbelanjaan regional, pusat perbelanjaan lingkungan, jalur perbelanjaan, atau pada suatu lokasi di dalam toko yang lebih besar.

2.1.2 Produk
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenihi keinginan dan kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, peristiwa, orang, tempat, properti, organisasi dan gagasan.
2.1.2.1 Level  Produk
Dalam merencanakan tawaran pasar,asar perlu berpikir melalui lima level produk. Tiap level menambahkan lebih banyak nilai pelanggan, dan kelimanya membentuk hierarki nilai pelanggan. Level paling dasar adalah manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat dasar yang sesungguhnya dibeli oleh pelanggan. Seorang tamu hotel membeli “istirahat dan tidur”, pembeli alat bor membeli “lubang”. Pemasar harus memandang dirinya sendiri sebagai pemberi manfaat.
            Pada level kedua, pemasar harus mengubah manfaat inti itu menjadiproduk dasar (basic product). Jadi sebuah kamar hotel mencakup tempat tidur, kamar mandi, handuk, meja tulis, meja rias dan lemari pakaian.
            Pada level ketiga, pemasar menyiapkan produk yang diharapkan(expected product), yaitu serangkaian atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan oleh para pembeli ketika mereka membeli produk itu. Pada level keempat, pemasar menyiapkan produk yang ditingkatkan (augmented  product) yang melampaui harapan dari pelanggan pada umumnya.
            Pada level kelima terdapat produk potensial (potential product), yang mencakup semua peningkatan dan transformasi yang pada akhirnya akan dialami produk tersebut di masa depan. Di sinilah pewrusahaan-perusahaan secara agresif mencari berbagai cara baru untuk memuaskan pelanggan dan membedakan tawarannya.


 









Gambar 2.1  Lima Level Produk
Sumber: Philip Kotler, 2000, Analyzing Consumer Markets and Buyer Behavior

2.1.2.2 Hierarki Produk
            Tiap produk berkaitan dengan produk-produk lain tertentu. Hierarki produk terentang mulai dari kebutuhan dasar sampai produk-produk khusus yang memuaskan kebutuhan khusus. Kita dapat mengidentifikasi tujuh level hierarki produk (Kotler 2000:450) sebagai berikut:
  1. Rumpun Kebutuhan (need family):Kebutuhan inti yang mendasari keberadaan suatu kelompok produk.
  2. Rumpun Produk (product family): Semua kelas produk yang dapat memenuhi suatu kebutuhan inti dengan efektivitas yang memadai.
  3. Kelas Produk (product class): Sekelompok produk dalam rumpun produk yang diakui mempunyai persamaan fungsional.
  4. Lini Produk (product line): Sekelompok produk dalam suatu kelas produk yang berkaitan erat karena produk-produk itu melaksanakan fungsi yang serupa, dijual pada kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui saluran distribusi yang sama, atau berada dalam rentang harga tertentu.
  5. Jenis Produk (product type): Sekelompok produk dalam lini produk yang sama-sama memiliki sejumlah kemungkinan bentuk produk.
  6. Merek (brand): Nama, yang diasosiasikan dengan satu atau beberapa produk dalam lini produk, yang digunakan untuk  mengidentifikasi sumber atau karakter produk tersebut.
  7. Unit Produk (item, stockkeeping unit, atau product variant) : Satu unit tersendiri dalam suatu merek atau lini produk yang dapat dibedakan menurut ukuran, harga, penampilan, atau atribut lain.

2.1.2.3 Klasifikasi Produk
Kotler (2000:451) menyatakan bahwa, Pemasar biasanya mengklasifikasikan produk berdasarkan karakteristik produk: daya tahan, keberwujudan, dan penggunaan (konsumen atau industri). Tiap jenis produk memiliki strategi bauran pemasaran yang sesuai.
2.1.2.3.1 Daya Tahan dan Keberwujudan
Produk dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok menurut daya tahan dan wujudnya sebagai berikut:
  1. Barang yang tidak tahan lama (nondurable goods): adalah barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan.
  2. Barang tahan lama (durable goods): adalah barang berwujud yang biasanya dapat digunakan berkali-kali.
  3. Jasa (services): Jasa bersifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, dan mudah habis. Akibatnya, jasa biasanya memerlukan lebih banyak pengendalian mutu, kredibilitas pemasok, dan kemampuan penyesuaian.
2.1.2.3.2 Klasifikasi Barang Konsumen
Banyaknya jenis barang yang dibeli konsumen dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaan berbelanja konsumen. Kita dapat membedakan antara barang kenyamanan (convinience), belanjaan (shopping), khusus (speciality), dan barang yang dalam kondisi normal tidak dicari (unsought).
Ø  Barang convenience adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen, segera, dan dengan usaha yang minimum.
Ø  Barang shopping adalah barang-barang yang karakteristiknya dibandingkan berdasarkan kesesuain, kualitas, harga, dan gaya dalam proses pemilihan dan pembelian.
Ø  Barang khusus (speciality goods) adalah barang-barang dengan karakteristik unik dan/atau identifikasi merek dimana untuk memperoleh barang-barang itu sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya.
Ø  Barang unsought adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau diketahui namun secara normal konsumen tidak berpikir untuk membelinya.

2.1.3 Perilaku Konsumen
            Semakin meningkatnya persaingan bisnis mendorong pengusaha eceran untuk lebih berorientasi kepada konsumen atau pelanggan. Untuk mendukung upaya tersebut diperlukan pengetahuan mengenai konsumen terutama mengenai perilakunya. Loudon dan Della Bitta (1993:5) memberi definisi perilaku konsumen sebagai berikut:
“…the decision process and phyisical activity individuals engage in when evaluating, acquiring, using, or disposing of goods and services”

Sedangkan Schiffman dan Kanuk (2004:6) sebagai berikut:
“The behavior that consumers display in searching for, purchasing, using, evaluating, and disposing of products, services, and ideas which they expect will satisfy their needs”.

            Dengan kata lain perilaku konsumen meliputi altivitas bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, memakai dan membuang barang, jasa, gagasan atau pengalaman dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka.
            Memehami perilaku konsumen dan mengenal pelanggan bukanlah hal yang sederhana. Pelanggan mungkin menyatakan kebutuhan dan keinginan mereka namun dapat bertindak sebaliknya. Mereka mungkin menanggapi pengaruh yang merubah pikiran pikiran mereka pada menit-menit terakhir. Karenanya pemasar harus mempelajari keinginan, persepsi, preferensi serta perilaku belanja dan pembelian pelanggan sasaran mereka.

2.1.3.1 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen
            Perilaku pembalian konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor. Kotler (2000:183) menyatakan bahwa perilaku pembalian konsumen dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, kepribadian dan kejiwaan.
1.      Faktor Budaya
Ø  Budaya. Budaya adalah penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar. Budaya menurut Schiffman dan Kanuk (2004:406) adalah“sum total of learned beliefs, values, and customes that serve to direct consumer behavior of members of a particular society” atau budaya merupakan sekumpulan keyakinan yang dipelajari, nilai-nilai dan kebiasaan yang mengarahkan perilaku konsumen dari anggota suatu masyarakat tertentu.
Ø  Sub-budaya. Sub-budaya terdiri daru bangsa, agama, kalompok ras dan wilayah geografis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Ø  Kelas Sosial. Pada dasarnya semua masyarakat memiliki strata sosial. Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1994:69) mengacu pada pengelompokkan orang yang sama dalam perilaku mereka berdasarkan posisi mereka di dalam pasar. Determinan dari apa yang dapat dibeli oleh konsumen ditentukan oleh kelas sosial yaitu pendapatan dan kekayaan konsumen bersangkutan.
2.   Faktor Sosial
Ø  Kelompok Acuan. Kelompok Acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung kepada sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memiliki pengaruh langsung terhadap seseorang disebut membership group. Seseorang menjadi anggota dari dua membership group yaitu pertama, primary group seperti keluarga, teman, tetangga, teman kerja yang secara informal dan berkesinambungan berinterkasi dengan seseorang, yang kedua adalahsecondary groups yaitu agama, profesi atau kelompok dagang yang cenderung berinteraksi secara formal dan kurang berkesinambungan.
Ø  Keluarga. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Terdapat dua jenis keluarga yaitu:
·         Keluarga orientasi, terdiri dari orang tua dan saudara kandung. Dari orang tua seseorang mendapatkan orientasi atas agama, politik dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta.
·         Keluarga prokreasi, terdiri dari suami, istri dan anak-anak. Pemasar tertarik pada peran dan pengaruh relatif suami, istri dan anak-anak dalam mebeli beragam produk barang dan jasa.
Ø  Peran dan Status. Peran dan status muncul sebagai konsekuensi dari keterlibatan individu dalam berbagai kelompok. Peran terdiri dari kativitas-aktivitas yang diharapkan ditampilkan atau dilakukan dari seseorang. Tiap peran menyebabkan timbulnya status. Manusia memilih produk yang dapat menunjukkan peran dan statusnya di masyarakat.
3. Faktor Pribadi
Ø  Usia dan tahap siklus hidup. Orang membeli barang dan jasa yang berbeda sepanjang hidupnya. Usia seseorang membentuk kebutuhan dan selera tertentu terhadap suatu produk.
Ø  Pekerjaan. Pola konsumsi seseorang dipengaruhi oleh jenis pekerjaan yang dijalaninya. Kebutuhan orang yang bekerja sebagai top managerberbeda dengan pekerja kasar yang berlokasi di lapangan.
Ø  Keadaan ekonomi. Keadaan ekonomi mempengaruhi pilihan produk seseorang. Keadaan ekonomi terdiri dari penghasilan yang dapat dibelanjakan, tabungan dan aktiva, utang, kemampuan untuk meminjam dan sikap terhadap belanja atau menabung.
Ø  Gaya hidup. Gaya hidup adalah pola hidupseseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opininya. Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinterkasi dengan lingkungannya.
Ø  Kepribadian dan Konsep diri . Kepribadian dan konsep diri merupakan karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Kepribadian biasanya dijelaskan dengan menggunakan ciri-ciri seperti kepercayaan diri, dominasi, otonomi, ketaatan, kemampuan bersosialisasi, daya tahan dan kemampuan beradaptasi. Yang berkaitan dengan kepribadian adalah konsep diri atau citra pribadi yang merupakan cara pandang seseorang menurut dirinya sendiri, bagaimana ia ingin dipandang orang lain dan bagaimana ia menganggap orang lain memandang dirinya.
4. Faktor Kajiwaan
Ø  Motivasi. Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu. Beberapa kebutuhan bersifat biogenis yaitu muncul dari tekanan biologis seperti rasa lapar, haus dan tidak nyaman. Kebutuhan lain bersifat psikogenis yaitu muncul dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa untuk memiliki. Suatu kebutuhan akan menjadi motivasi jika ia didorong sampai mencapai tingkat identitas yang memadai.
Ø  Persepsi. Seseorang yang termotivasi menjadi siap untuk bertindak dengan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi merupakan proses bagaimana seseorang individu memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Orang bisa memiliki persepsi yang berbeda atas obyek yang sama karena tiga proses persepsi yaitu perhatian selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.
Ø  Pengetahuan. Pembelajaran meliputi perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Para ahli yakin bahwa pembelajaran dihasilkan melalui perpaduan dari dorongan, rangsangan, petunjuk, tanggapan dan penguatan.
Ø  Keyakinan dan Kepribadian. Melalui bertindak dan belajar orang mendapatkan keyakinan dan sikap. Hal ini kemudian mempengaruhi perilku pembelian mereka. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dianut seseorang tentang suatu hal. Sedangkan sikap adalah evaluasi, perasaan emosional dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap beberapa obyek atau gagasan. Sikap mengarahkan orang berperilaku secara cukup konsisten terhadap obyek yang serupa.

2.1.3.2 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen
Salah satu keputusan penting yang diambil konsumen dan harus mendapat perhatian yang besar dari para pengecer adalah keputusan pembelian konsumen. Keputusan menurut Schiffman dan Kanuk (2004:558) adalah “selection of an option from two or more alternative choices” atau keputusan adalah sesuatu yang berasal dari dua atau lebih alternatif. Keputusan dapat didefinisikan sebagai suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Sedangkan Hobson’s choice menyatakan memilih karena tidak ada alternatif lain bukan merupakan suatu keputusan. Keputusan konsumen menurut Berman dan Evans (1998:216) meliputi keputusan untuk menentukan apakah akan membeli, apa yang dibeli, di mana, kapan, dari siapa dan frekuensi membeli barang atau jasa.
            Menurut Kotler (2000:204-206), untuk sampai kepada keputusan pembelian konsumen akan melewati lima tahap yaitu pengenalan masalah (problem recognition), pencarian informasi (information search), evaluasi alternatif (evaluation of alternatives), keputusan pembelian (purchase decision) dan perilaku pasca pembelian (postpurchase behavior).
  1. Pengenalan masalah (problem recognition). Merupakan tahap dimana pembeli mengenali masalah atau kebutuhannya. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan aktualnya dengan keadaan yang diinginkannya. Keputusan tersebut dapat dipicu oleh rangsangan internal seperti lapar dan haus yang bila mencapai titik tertentu akan menjadi sebuah dorongan dan rangsangan eksternal misalnyaseseorang yang melewati sebuah toko kue dan melihat kue yang merangsang rasa laparnya.
  2. Pencarian informasi (information search). Setelah tergerak oleh stimuli konsumen akan berusaha mencari informasi lebih banyak tentang hal yang telah dikenali sebagai kebutuhannya. Konsumen memperoleh info dari sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga dan kenalan), komersial (iklan, tenaga penjual, perantara, kemasan), publik (media massa, organisasi pembuat peringkat) dan sumber pengalaman (pengkajian, pemakaian produk).
  3. Evaluasi alternatif (evaluation of alternatives). Merupakan tahap dimana konsumen memperoleh informasi tentang suatu obyek dan membuat penilaian akahir. Pada tahap ini konsumen menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih berdasarkan besarnya kesesuaian antara manfaat yang diinginkan dengan yang bisa diberikan oleh pilihan (produk) yang tersedia.
  4. Keputusan pembelian (purchase decision), tahap dimana konsumen telah memiliki pilihan dan siap untuk melakukan transaksi pembelian atau pertukaran antara uang atau janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa.
  5. Perilaku pascapemabelian (post-purchase bahavior). Tahap ini konsumen akan mengalami dua kemungkinan yaitu kepuasan atau ketidakpuasan terhadap pilihan yang diambilnya.
Berman dan Evans (1998:216) berpendapat bahwa eceran harus memahami proses keputusan konsumen dari dua sudut pandang yaitu (a) barang atau jasa apa yang akan dibeli konsumen (“what”) dan (b) dimana mereka akan membeli barang-barang tersebut (“where”). Konsumen dapat emngambil kedua keputusan tersebut secara terpisah mauoun bersamaan. Bila dibuat bersamaan seseorang akan mengandalkan dukungan informasi ragam produk dan yang lainnya dari pengecer pada setiap tahap proses keputusan pembelian. Sedangkan apabila dibuat secara terpisah seseorang akan mencari informasi terlebih dahulu dan memandang pengecer secara sederhana hanya sebagai tempat untuk melakukan pembelian dan dengan demikian mungkin lebih mudah untuk diganti dengan jenis perusahaan lain.
Dalam memilih untuk membeli atau tidak suatu jenis produk (“what”) konsumen mempertimbangkan faktor-faktor seperti bentuk, daya tahan, keunikkan, nilai, kemudahan penggunaan, dan lain sebagainya yang ada pada suatu barang. Sedangkan pada saat memilih pengecer mana yang menjual barang tersebut konsumen mempertimbangkan faktor lokasi pengecer, keragaman barang, jam pelayanan, pelayanan untuk pelanggan dan lain-lain. Pengecer menginginkan konsumen membeli tanpa harus melihat brand suatu produk.

2.1.3.3 Klasifikasi Peran Pembelian
Seorang ibu yang berbelanja di sebuah pasar bisa jadi tidak hanya membeli untuk kebutuhan pribadinya, tetapi juga untuk suami, anak atau anggota keluarga lainnya. Pada saat itu ia memerankan beragam peran yang bisa dilakukan individu dalam keputusan pembelian. Peran yang dilakukan individu dalam keputusan pembelian dibedakan menjadi empat kelompok (Loudon dan Della Bitta, 1993:7) yaitu:
  1. Pencetus (initiator). Seorang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk membeli produk baik barang maupun jasa.
  2. Pemberi pengaruh (influencer). Seseorang yang dari ucapan maupun tindakannya secara khusus maupun tidak mempengaruhi keputusan pembelian, pembelian aktual dan penggunaan produk (barang) atau jasa.
  3. Pembeli (buyer). Individu yang benar-benar atau yang secara nyata melakukan transaksi pembelian
  4. Pemakai (user). Orang yang paling langsung terlibat dalam mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang dibeli.


2.1.3.4 Klasifikasi Pengambilan Keputusan Konsumen
Proses keputusan pembelian konsumen diterapkan secara berbeda tergantung kepada situasi. Suatu situasi, misalnya saat pembelian rumah baru, membutuhkan setiap tahap dari proses keputusan pembelian karena adanya kemungkinan diterimanya resiko yang tinggi oleh konsumen apapun golongannya. Sementara dalam situasi lain, seperti pembelian majalah, memungkinkan konsumen untuk melewatkan tahap tertentu dari proses keputusan pembelian.
            Ada tiga macam proses pengambilan keputusan oleh konsumen yaituextended decision making, limited decision making,dan routine decision making(Berman dan Evan, 1998:223)
1.      Pengambilan keputusan yang diperluas (Extended decision making)
Tipe ini terjadi ketika seorang konsumen menggunakan semua tahapan proses keputusan pembelian, namun konsumen dapat berhenti pada tahap manapun dari proses keputusan pembelian. Konsumen membutuhkan banyak waktu dalam pencarian informasi dan mengevaluasi alternatif. Karakteristik konsumen seperti umur, pendidikan, pendapatan dan status pernikahan, memiliki pengaruh besar bagi pengambilan keputusan dalam tipe ini. Kategori produk yang dibeli adalah produk yang mahal, kompleks dan konsumen memiliki sedikit atau bahkan tidak sama sekali pengalaman dengan produk tersebut, misalnya rumah baru, mobil pertama atau asuransi jiwa.
2.      Pengambilan keputusan yang terbatas (Limited decision making)
Pengambilan keputusan seperti ini berlaku apabila konsumen menjalani semua tahap keputusan pembelian namun tidak menggunakan banyak waktu untuk setiap tahapnya. Kategori produk yang dibeli adalah produk yang sudah pernah dibeli sebelumnya namun tidak secara rutin, dengan resiko yang mungkin diterima moderat dan konsumen dapat berbelanja kapan saja. Tahap keputusan dilalui dibawah pengaruh pengalaman sebelumnya. Prioritas ditetapkan pada evaluasi alternatif yang sudah diketahui dengan mengacu kepada keinginan dan standar individu. Contoh produknya adalah mobil yang kedua, pakaian, hadiah dan perjalanan wisata. Selain pengalaman, pendapatan, tingkat kepentingan untuk membeli dan motif sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan.
3.      Pengambilan keputusan yang rutin (Routine decision making)
Terjadi apabila konsumen membeli sesuai kebiasaan dan melewatkan tahapan-tahapan dalam proses pembelian. Konsumen ingin menggunakan waktu yang tersingkat untuk berbelanja, membeli produk dengan merek yang sama dan seringkali di toko yang sama. Kategori produknya adalah produk yang dibeli sacara rutin dan memberikan resiko yang kecil karena sudah ada pengalaman sebelumnya. Tahap kunci pada tipe ini adalah pengenalan kebutuhan, manakala konsumen menyadari bahwa produk dibutuhkan maka otomatis akan dilakukan pembelian. Pencarian informasi, evaluasi alternatif dan perilaku pasca pembelian sedikit dilakukan dibandingkan pada tipe pengambilan keputusan terbatas. Langkah itu tidak dilakukan selama konsumen merasa puas.

2.1.3.5 Tipe Konsumen dalam Pengambilan Keputusan
Menurut Schiffman dan Kanuk (1997:560) istilah model konsumen menunjuk pada cara pandang umum terhadap bagaimana dan mengapa individu berperilaku seperti yang ditampilkannya. Terdapat empat pandangan yaitu ekonomis (economic), pasif (passive), mengamati (cognitive) dan emosional (emotional).
1.      Economic Man. Dalam persaingan sempurna, konsumen sering digologkan sebagai economic man, yaitu seorang yang membuat keputusan secara rasional. Untuk bertindak secara rasional harus sadar akan alternatif produk yang tersedia, harus mampu mengurutkan dengan benar alternatif yang ada, menimbang keuntungan dan kerugian produk yang akan dibeli dan ia harus dapat memastikan bahwa produk yang ditawarkan itu sebagai alternatif terbaik, meskipunterkadang tidak memiliki info yang cukup dan akurat.
2.      Passive man. Sebagai lawan dari economic man, passive man digambarkan sebagai konsumen yang patuh terhadap keinginan dan promosi dari pemasar. Produsen dapat menggunakan formula yang disingkat dengan AIDA (Attention, interest, desire, dan action) sementara konsumen terkadang melakukan pembelian impulsif.
3.      Cognitive Man. Model ini memfokuskan pada proses konsumen dalam mencari dan menevaluasi merek dan eceran. Model cognitive man merupakan gambaran konsumen yang lebih realistis dan menggambarkan konsumen yang berada diantara model economic man dan passive man, yaitu konsumen yang tidak memilki cukup pengetahuan dan oleh karenanya tidak dapat membuat keputusan yang tepat, tetapi meskipun demikian mereka aktif mencari informasi dan berusaha membuat keputusan yang memuaskan.
4.      Emotional Man. Pada kenyataannya, kita mungkin menghubungkan perasaan dan emosi prestise, harapan dan kesenangan dalam melakukan pembelian. Pada saat melakukan pembelian secara emosional cenderung kurang memperhatikan dan mencari informasi, lebih memperhatikan pada perasaan dan suasana hati. Namun hal ini bukan berarti emotional man mengambil keputusan secara irasional, pengambilan keputusan itu juga rasional.

2.1.4 Model Pengambilan Keputusan Konsumen
            Schiffman dan Kanuk mengemukakan suatu model pengambilan keputusan yang dirancang untuk menghubungkan berbagai gagasan pengambilan keputusan dan perilaku konsumen. Model ini tidak dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kerumitan pengambilan keputusan konsumen. Sebaliknya dirancang untuk menyatukan dan menyelaraskan berbagai konsep yang relevan menjadi suatu keseluruhan yang berarti. Model tersebut disajikan pada gambar 2.2 yang mempunyai tiga komponen utama yaitu input, proses dan output.











Pengaruh Eksternal














Usaha Pemasaran Perusahaan
1.      Produk
2.      Promosi
3.      Harga
4.      Saluran distribusi
5.      Orang
6.      Bukti fisik
7.      Proses
 

Lingkungan Sosialbudaya
1.      Keluarga
2.      Sumber informal
3.      Sumber nonkomersial lain
4.      Kelas sosial
5.      Subbudaya dan budaya
 




Pengenalan Kebutuhan


Penelitian Sebelum Pembelian


Evaluasi
Alternatif
 

Bidang Psikologi
Motivasi
Persepsi
Pembelajaran
Keperibadian
Sikap
 




Pengalaman
 



Pembelian
1.      Percobaan
2.      Pembelian ulang
 



Evaluasi Setelah Pembelian
 





INPUT







 

Pengambilan
Keputusan Konsumen






PROSES

















 







Perilaku Setelah
Keputusan




OUTPUT




 





Gambar 2.2  Model sederhana mengenai Pengambilan Keputusan Konsumen
Sumber: Schiffman dan Kanuk, 2004, Perilaku Konsumen, hal 493

2.1.4.1 INPUT
            Komponen input dalam model pengambilan keputusan mempunyai berbagai pengaruh luar yang berlaku sebagai sumber informasi mengenai produk tertentu dan mempengaruhi nilai-nilai, sikap dan perilaku konsumen yang berkaitan dengan produk. Yang utama diantara berbagai faktor input adalah beragam kegiatan bauran pemasaran perusahaan yang berusaha menyampaikan manfaat produk dan jasa mereka kepada para konsumen potensial dan pengaruh sosial budaya di luar pemasaran, yang dihayati secara mendalam, akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

      Input Pemasaran
            Kegiatan pemasaran perusahaan merupakan usaha langsung untuk mencapai, memberikan informasi, membujuk konsumen untuk membeli dan menggunakan produknya. Input kepada proses pengambilan keputusan konsumen ini mengambil bentuk berbagai strategi bauran pemasaran khusus yang terdiri dari produk itu sendiri (termasuk kemasan, ukuran dan jaminannya); iklan di media massa, pemasaran langsung, penjualan personal, dan berbagai usaha promosi lainnya; kebijakan harga; dan pemilihan saluran distribusi untuk memindahkan produk dari pabrik ke konsumen.
            Akhirnya, dampak berbagai usaha pemasaran suatu usaha sebagian besar ditentukan oleh pesepsi konsumen terhadap semua usaha ini. Jadi para pemasar harus senantiasa mewaspadai persepsi konsumen dengan mensponsori riset konsumen, daripada bergantung kepada dampak pesan-pesan pemasaran mereka yang “diharapkan”.
      Input Sosiobudaya
            Input yang kedua, lingkungan sosiobudaya, juga mempunyai pengaruh besar terhadap konsumen. Input sosiobudaya terdiri dari berbagai macam pengaruh nonkomersial. Sebagai contoh, komentar teman, editorial di surat kabar, pemakaian di anggota keluarga, artikel pada ConsumerReports, atau pandangan para konsumen berpengalaman yang ikut serta dalam kelompok diskusi khusus di internet, semuanya itu merupakan sumber informasi nonkomersial. Pengaruh kelas sosial, budaya, dan subbudaya, walaupun kurang nyata, merupakan faktor-faktor input penting yang dihayati dan diserap serta mempengaruhi bagaimana para konsumen menilai dan pada akhirnya mengadopsi (atau menolak) sebuah produk. Aturan tingkah laku yang tidak tertulis yang disampaikan budaya dengan halus menyatakan perilaku konsumsi mana yang harus dianggap “benar” atau “salah” pada suatu waktu tertentu.
            Dampak komulatif usaha pemasaran setiap pemasaran: pengaruh keluarga, teman-teman dan para tetangga; dan aturan perilaku masyarakat yang ada, semuanya merupakan input yang mungkin mempengaruhi apa yang dibeli para konsumen dan bagaimana mereka menggunakan apa yang mereka beli.

2.1.4.2 PROSES
            Komponen proses dalam model tersebut berhubungan erat dengan cara konsumen mengambil keputusan. Untuk memahami proses ini, kita harus mempertimbangkan pengaruh berbagai konsep psikologis. Bidang psikologis mewakili pengaruh dalam diri (motivasi, persepsi, pembelajaran, keperibadian, dan sikap) yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen (apa yang mereka butuhkan atau inginkan, kesadaran mereka terhadap berbagai pilihan produk, kegiatan mereka dalam pengumpulan informasi, dan penilaian mereka mengenai berbagai alternatif). Seperti yang digambarkan pada konsumen proses dalam model keputusan, tindakan pengambilan keputusan konsumen terdiri atas tiga tahap: (1) pengenalan kebutuhan, (2) penelitian sebelum pembelian, dan (3) penilaian berbagai alternatif.
      Pengenalan Kebutuhan
            Pengenalan Kebutuhan terjadi ketika konsumen dihadapkan dengan suatu “masalah”. Sebagai contoh ketika kita merasa lapar, maka kita akan membutuhkan makanan atau sesuatu untuk mengurangi rasa lapar.
      Penelitian Sebelum Pembelian
            Penelitian sebelum pembelian dimulai ketika konsumen merasakan adanya kebutuhan yang dapat dipenuhi denagn membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Ingatan kepada pengalaman yang lalu dapat memberikan informasi yang memadai kepada konsumen untuk melakukan pilihan saat ini. Sebaliknya, jika konsumen tidak mempunyai pengalaman sebelumnya, ia mungkin harus melakukan penelitian yang mendalam mengenai keadaan dirinya untuk memperoleh informasi yang berguna sebagai dasar pemilihan.
            Konsumen biasanya mencoba untuk mengingat (bidang psikologis yang digambarkan dalam model) sebelum mencari sumber informasi eksternal mengenai kebutuhan yang berhubungan dengan konsumsi tertentu. Pengalaman yang lalu dianggap sebagai sumber informasi internal. Semakin besar kaitannya dengan pengalaman yang lalu, semakin sedikit informasi luar yang mungkin dibutuhkan konsumen untuk mencapai keputusan. Banmyak keputusan konsumen yang didasarkan kepada gabungan pengalaman yang lalu (sumber internal) dan informasi pemasaran dan nonkomersial (sumber eksternal). Tingkat resiko yang dirasakan juga dapat mempengaruhi tahap proses pengambilan keputusan. Dalam situasi resiko yang tinggi, konsumen mungkin terlibat dalam pencarian dan evaluasi informasi yang kompleks; dalam situasi resiko yang rendah, mereka mungkin menggunakan taktik pencarian dan penilaian informasi yang sederhana.
      Penilaian Alternatif
            Ketika menilai berbagai alternatif potensial, para konsumen cenderung menggunakan dua macam informasi: (1) “daftar” merek yang akan mereka rencanakan untuk dipilih (serangkaian merek yang diminati) dan (2) kriteria yang akan mereka pergunakan untuk menilai setiap merek.

2.1.4.3 OUTPUT
            Porsi output dalam model pengambilan keputusan konsumen menyangkut dua kegiatan pasca-pembelian yang berhubungan erat. Tujuan kedua kegiatan itu adalah untuk meningkatkan kepuasan konsumen terhadap pembeliannya.
      Perilaku Pembelian
            Para konsumen melakukan dua tipe pembelian: pembelian percobaan, pembelian ulangan, dan pembelian komitmen jangka panjang. Ketika konsumen membeli suatu produk untuk pertama kalinya dengan jumlah yang lebih sedikit dari biasanya, pembelian ini akan dianggap sebagai suatu percobaan. Jadi, percobaan merupakan tahap perilaku pembelian yang bersifat penjajakan dimana konsumen berusaha menilai suatu produk melalui pemakaian langsung.
            Jika suatu merek baru dalam suatu kategori produk yang sudah mapan berdasarkan percobaan dirasakan lebih memuaskan atau lebih baik daripada merek-merek lain, konsumen mungkin mengulangi pembelian. Tidak seperti percobaan, dimana konsumen menggunakan produk dalam jumlah kecil dan tanpa komitmen apapun, pembelian ulangan biasanya menandakan bahwa produk memenuhi persetujuan konsumen dan bahwa ia bersedia memakainya lagi dalam jumlah yang lebih besar.
            Percobaan tentu saja tidak selalu mungkin dilakukan. Sebagai contoh, pada barang-barang tahan lama (kulkas, mesin cuci, kompor listrik), konsumen biasanya beralih secara langsung dari penilaian terhadap komitmen jangka panjang (melalui pembelian), tanpa kesempatan untuk percobaan yang sesungguhnya.
      Penilaian Pasca-Pembelian
            Ketika konsumen menggunakan suatu produk, terutama selama pembelian percobaan, mereka menilai kinerja produk tersebut menurut berbagai harapan mereka. Ada hasil penilaian yang mungkin timbul:
Kinerja yang sesungguhnya sesuai dengan harapan yang menimbulkan perasaan netral.
Kinerja melebihi harapan, yang menimbulkan dengan apa yang disebut sebagai pemenuhan harapan secara positif (yang menimbulkan kepuasan); dan
Kinerja dibawah harapan, yang menimbulkan dengan apa yang disebut sebagai pemenuhan harapan secara negatif dan ketidakpuasan.
Untuk masing-masing hasil ini, harapan dan ketidakpuasan konsumen mempunyai hubungan erat; yaitu konsumen cenderung menilai pengalaman mereka terhadap harapan-harapan mereka ketika melakukan penilaian pasca-pembelian. Unsur penting dalam penilaian pasca-pembelian adalah berkurangnya ketidakpastian atau keraguan konsumen mengenai pemilihan.

2.1.5 Islam Sebagai Sumber Nilai
Seperti yang diungkapkan oleh Schiffman dan Kanuk (1997:146) bahwa persepsi seseorang turut dipengaruhi kebutuhan (needs), nilai-nilai (values),  dan harapan (expectation) masing-masing individu konsumen. Values atau nilai itu sendiri didefinisikan sebagai “Relatively enduring beliefs that serve as guide for what is considered ‘appropriate’ behavior and that are widely accepted by members of society”.
Nilai-nilai yang dianut oleh konsumen dapat bersumber kepada ajaran yang dianutnya. Seperti yang diungkapkan Chryssides dan Kaler (1993:84) dalam Triyuwono (2000:252).
“Ada juga sumber moralitas yang biasanya digunakan untuk menyampaikan bagaimana individu bersikap secara moral terhadap sesuatu, sumber itu adalah agama”.

Umat Islam, terutama yang sudah menerima dakwah Islam berkewajiban menjadikan Islam sebagai sumber nilai-nilai dalam kehidupannya.
2.1.5.1 Al Qur’an dan Al Hadits Sebagai Pedoman
Allah telah menetapkan Al Qur’an dan Al Hadits atau Sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai sumber atau acuan hukum bagi umat Islam. Al Qur’an merupakan kitab suci yang berisi wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Perintah untuk mematuhi Al Qur’an dan Al Hadits termuat dalam wahyu Allah dalam surat Al Imran ayat 32 yang artinya “Katakanlah: Patuhi Allah dan patuhi Rasul….” Dan surat An Nisaa’ ayat 59 dan Al Maidah ayat 48 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan pemimpin diantara kamu. Kemuadian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)….”.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran….”.

Dalam Islam dikenal juga dua sumber hukum lain selain Al Qur’an dan Al Hadits yang juga dapat digunakan sebagai acuan atau pedoman, yaitu Ijma’ danIjtihad. Manan (1997:33) menjelaskan arti Ijma’ sebagai berikut:
“Ijma’ merupakan konsensus baik dari masyarakat maupun para cendikiawan agama. Perbedaan konseptual antara sunnah dan ijma’ terletak pada kenyataan bahwa sunnah pada pokoknya terbatas pada ajaran-ajaran Nabi dan diperluas kepada para sahabat karena mereka sumber bagi penyampaiannya, sedangkan ijma’ adalah suatu prinsip isi hukum baru yang timbul sebagi akibat dalam melakukan penalaran dan logikanya menghadapi suatu masyarakat yang meluas  dengan cepat, seperti masyarakat Islam dini, yang bermula dengan para sahabat diperluas pada generasi-generasi berikutnya”.

Sementara mengenai Ijtihad dijelaskan Manan (1997:35) sebagai berikut:
“Secara teknis, ijtihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menentukan sedikit banyaknya kemungkinan suatu persoalan syariat. Pengaruh hukumnya adalah bahwa pendapat yang diberikannya mungkin benar, walaupun mungkin juga keliru”.

2.1.5.2 Kewajiban Bekerja dan Mencari Penghasilan yang Dihalalkan
Hidup adalah hak asasi setiap orang. Sehingga orang wajib mendapatkan kehidupan ini sebagai haknya, bukan sebagai hadiah, maupun belas kasihan. Salah satu sebab yang menjamin umat manusia untuk mendapatkan kekuatan agar dapat melangsungkan hidupnya adalah dengan bekerja atau berusaha. Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja dan berusaha melalui cara-cara yang adil dan halal. Allah berfirman dalam surat Al Jumu’ah ayat 10 yang artinya“Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” 
Afzalurrahman (1997:66) berpendapat bahwa kata “mencari karunia Allah” yang digunakan dalam ayat ini berarti bermacam-macam usaha yang sah, seperti berdagang, industri dan lain-lain. Sementara Rasulullah saw bersabda,“Berusaha mendapatkan nafkah yang halal adalah kewajiban disamping tugas-tugas lainnya yang telah diwajibkan” (HR.Baihaqi). Rasulullah Muhammad SAW juga pernah bersabda:
“Tidak seorangpun pernah memakan makanan yang lebih baik daripada –apa yang ia makan- dari hasil kerjanya dengan tangannnya sendiri. Nabi Daud pun biasa makan dari hasil kerja tangannya” (HR.Bukhari)

Banyak jenis pekerjaan yang boleh dilakukan oleh umat Islam. Salah satunya adalah berdagang. Allah SWT menghalalkan bagi umat manusia untuk melakukan perdagangan atau jual beli namun mengharamkan riba dalam surat Al Baqarah ayat 275:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

2.1.5.3 Nilai dan Moral dalam Bidang Perdagangan
Rasulullah Muhammad SAW mulai terlibat dalam perdagangan sejak umur beliau 12 tahun, yaitu ketika mengikuti berbagai perjalanan dagang yang dilakukan pamannya, Abu Thalib. Kemudian ketika dewasa mulai berdagang secara mandiri (wirausaha), dan dilanjutkan dengan menjadi pengelola dagangan seorang pengusaha yang kemudian menjadi istrinya yaitu Khadijah. Rasulullah Muhammad SAW selalu sukses dalam berdagang bahkan terkenak sampai ke luar negeri, dan yang merupakan kunci sukses adalah kejujuran dan keadilannya. Hal itu juga menjadi ciri kahsnya karena dalam kurun waktu saat itu dikenal dengan jaman jahiliyah, dimana praktek perdagangan sering dilakukan dengan cara tidak jujur atau curang. Salah satu tugas kenabian Beliau adalah memperbaiki keadaan yang ada.
Mengenai cara berdagang yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW, Afzalurrahman (1997:1) mengungkapkan:
“Muhammad telah melakukan transaksi-transaksi perdagangannya secara jujur, adil, dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau kecewa. Ia selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas sesuai dengan permintaan pelanggan. Reputasinya sebagai pedagang yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik sejak muda. Ia selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan. Lebih dari itu, Muhammad juga meletakkan prinsip-prinsip dasar dalam melakukan transaksi dagang secara adil”

Setelah menjadi penguasa di Madinah, Rasulullah Muhammad SAW menjalankan peran yang lebih besar daripada sebagai pedagang, Beliau menjadi pihak yang mengawasi jalannya perekonomian di Madinah. Salah satu yang menjadi perhatian Beliau adalah pasar. Yusuf Qardhawi (1997:285) menyatakan:
“Rasulullah SAW juga memperhatikan pasar dan mendirikan pasar yang independen (khusus) bagi umat Islam di Madinah yang terlepas dari pasar yang dikuasai oleh kaum Bani Qainiqa’. Beliau sering menginspeksinya dari waktu ke waktu dengan memberikan penyuluhan dan pengertian, memberikan peringatan dan teguran, dan memberikan pengawasan dan pengajaran etika”.

Sementara Afzalurrahman (1997:20) menyatakan:
“Ketika menjadi penguasa di Madinah, Ia (Muhammad) telah mengikis habis transaksi-transaksi dagang dari segala macam praktek yang mengandung unsur-unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian, keraguan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap. Ia juga melakukan standardisasi timbangan dan ukuran, dan melarang orang-orang mempergunakan standar timbangan dan ukuran lain yang kurang dapat dijadikan pegangan”.

            Berdasarkan pernyataan-pernyataan itu sangat jelas bahwa yang ditekankan adalah nilai-nilai yang mengedepankan moral dan etika. Apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW tersebut tetap relevan untuk diterapkan dalam melakukan aktivitas perdagangan modern termasuk juga dalam usaha eceran.
2.1.5.4 Nilai dan Moral dalam Membelanjakan Harta
Memiliki harta adalah sesuatu yang dibolehkan oleh Islam. Tetapi pemilikan harta itu sendiri bukanlah suatu tujuan melainkan sebagai sarana untuk menikmati perhiasan Allah yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik serta sarana menuju realisasi kepentingan umum bagi masyarakat, yang tidak akan tercapai kecuali dengan harta yang telah dijadikan Allah sebagai penegak kehidupan bagi manusia.
Islam membolehkan seorang muslim untuk menikmati berbagai karunia kehidupan dunia, dan Allah SWT senang melihat bekas nikmat yang telah diberikan kepada hamba-Nya. Firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 32:
“Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamban-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?”

Yusuf Qardhawi (1999:211) mengungkapkan bahwa Islam melarang kita untuk pelit dan memperingatkan akan hal itu dan menganggapnya sebagai sumber kerusakan yang merata.
“Hati-hatilah (hindarkan dirimu) dari pelit, sesungguhnya umat sebelum kamu itu rusak disebabkan sikap pelit. Pelit telah menyuruh mereka memutuskan hubungan, maka mereka memutuskan, memerintahkan mereka untuk kikir, maka mereka kikir dan menyuruh mereka untuk berbuat futur (penyelewengan), maka mereka pun menyeleweng” (HR Abu Dawud dan Hakim).

Islam bahkan mewajibkan kepada pemilik harta untuk menafkahkan hartanya untuk dirinya, keluarganya, orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya dan kepentingan-kepentingan di jalan Allah. Firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Hadiid ayat 7; surat Al Baqarah ayat 215:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”.

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”.

Seorang Muslim dilarang mendapatkan hartanya dari sesuatu yang haram, demikian pula dalam menggunakannya, ia dibatasi oleh aturan-aturan. Islam mengatur cara menafkahkan harta yang benar dan diridhai oleh Allah SWT. Dalam membelanjakan harta, Islam memberikan batasan berdasarkan dua kriteria (Yusuf Qardhawi, 1997:259) yaitu:
1.      Batasan pada cara dan sifat. Yang dimaksud oleh kriteria ini adalah batasan-batasan yang dirumuskan oleh Islam mengenai konsumsi yang terkait dengan cara dan macam tanpa melihat pada kuantitas sesuatu yang dibelanjakan, yaitu pembelanjaan yang berhubungan dengan hal-hal yang diharamkan Islam seperti khamr (minuman memabukkan) dengan berbagai jenis dan namanya, berbagai macam tembakau (rokok) yang merusak badan, semangat dalam membuang-buang uang, perjudian, patung-patung yang telah diharamkan dan lain sebagainya. Setiap pembelian dalam hal-hal yang diharamkan adalah suatu perbuatan yang berlebih-lebihan (melampaui batas) dan pemborosan yang dilarang Islam, meskipun yang dibelanjakan hanya satu satuan mata uang.
2.      Batasan pada kuantitas dan ukuran. Firman Allah dalam surat Al Furqan 67:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah pembelanjaan itu di tengah-tengah antara yang demikian”.

      Menurut Ibnu Katsir (Qardhawi, 1997:260)
“Mereka itu (Ibadu Rahman) bukanlah pemboros sehingga membelanjakan hartanya diluar kebutuhan, dan bukan orang-orang kikir terhadap keluarganya sehingga melalaikan hak mereka dan tidak mencukupi kebutuhan mereka, akan tetapi mereka itu berlaku pertengahan dan baik, karena sebaik-baik urusan adalah pertengahannya, dan tidak boros dan tidak kikir”.

 Yang termasuk kedalam kriteria ini adalah pembelanjaan harta yang diperlukan dalam jumlah yang tidak sesuai dengan pendapatannya, sehingga ia berhutang. Rasulullah Muhammad SAW berlindung kepada Allah SWT dari lilitan hutang dan Beliau melihatnya sebagai faktor pendorong kepada kejelekan akhlak dan perilku pelakunya. “Sesungguhnya orang apabila berhutang maka setiap kali berbicara, ia berdusta, bila berjanji ia mengingkarinya” (HR Bukhari).

2.2 Kerangka Pemikiran
            Menurut Kotler (2000) nonstore retailing berusaha agar konsumen sebagai pihak pembeli tertarik untuk membeli barang-barang yang mereka butuhkan walaupun mereka tidak harus membelinya di sebuah toko tertentu. Dengan demikian tugas pengecer non toko-lah untuk menjadikan penawaran produknya semenarik mungkin sehingga banyak mendapat perhatian, kunjungan serta pembelian dari konsumen. Untuk mencapai hal tersebut pengecer perlu memahami faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketertarikan konsumen.
            Faktor yang dapat menjadi obyek daya tarik dari suatu produk bajakan adalah atribut-atributnya, sedangkan untuk mengelola atau mengemas obyek tersebut agar memberi daya tarik yang sesuai harus dipahami perilaku dari pihak yang akan dibuat tertarik yaitu konsumen. Maka pengecer harus memahami dengan baik terlebih dahulu faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku konsumen, khususnya perilaku pembeliannya. Semakin banyak pengecer atau pemasar mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen semakin besar pula kemampuannya untuk mendesain produk atau jasa yang menarik, mendefinisikan target pasarnya, menentukan program pemasaran strategis yang sesuai, serta mengetahui pesaing atau competitor yang mengancam kelangsungan pemasaran sebuah produk.
            Konsumen akan memberi reaksi pada stimuli atau rangsangan yang dirasakannya sehingga berminat untuk membeli produk yang memiliki stimuli tertentu. Sumber rangsangan dari sebuah produk –baik itu asli maupun bajakan- adalah atribut-atribut pemasarannya yang menurut banyak ahli disingkat dengan 4P atau Kotler (2000:431) menyebutnya sebagi atribut program pemasaran yang terdiri atas:
Ø  Produk (Product)
Ø  Harga (Price)
Ø  Tempat (Place)
Ø  Promosi (Promotion) 
Apabila konsumen dapat merasakan keberadaan atribut-atribut pemasaran tersebut maka selanjutnya akan mengalami proses pemilihan, pengorganisasian dan pemberian arti sehingga sehingga menjadi suatu gambaran yang berarti dan berkaitan dalam benak konsumen. Proses ini menurut Schiffman dan Kanuk (1997:146) disebut sebagai persepsi. Pada proses ini juga terjadi pembandingan antara kenyataan atribut yang dirasakan dengan harapan atau kriteria evaluasi yang dimiliki oleh konsumen.
Persepsi yang terbentuk terhadap suatu obyek tertentu tidak selalu sama antara satu konsumen dengan konsumen yang lain, hal ini menurut kotler (2000:185) disebabkan tiga proses persepsi yaitu perhatian selektif, distorsi selektif, dan ingatan selektif yang melibatkan kebutuhan, nilai dan harapan masing-masing individu konsumen. Sementara menurut Schiffman dan Kanuk (1997:146) persepsi seseorang turut dipengaruhi oleh kebutuhan, nilai-nilai dan harapannya.
            Peranan penting persepsi terhadap pembentukan perilaku individu tercermin pada pernyataan Kottler (2000:185) yang mengungkapkan bahwa suatu tindakkan yang dilakukan seseorang (konsumen) yang sudah termotivasi dipengaruhi oleh bagaimana persepsinya terhadap suatu situasi.
            Perilaku yang diperlihatkan oleh konsumen baik individu, kelompok maupun organisasi terhadap suatu produk baik barang, jasa, gagasan atau pengalaman meliputi keputusan-keputusan bagaimana memilih, membeli, memakai dan membuangnya dalam rangka memuaskan kebutuhan dan hasrat mereka. Diantara keputusan-keputusan tersebut yang merupakan proses pemecahan masalah yang sangat penting adalah keputusan pembalian. Kebanyakan konsumen berjalan melalui proses mental yang serupa dalam memutuskan produk yang akan dibeli. Menurut Kotler (2000:2004-206) untuk sampai kepada keputusan pembelian konsumen akan melewati lima tahap yaitu pengenalan masalah (problem recognition), pencarian informasi (information search), evaluasi alternatif (evaluation of alternatives), keputusan pembelian (purchase decision), dan perilaku pasca pembelian (post-purchase behavior).
            Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi. Hal ini mencakup apa yang mereka beli, mengapa mereka membeli, kapan mereka membeli, di mana mereka membeli, seberapa sering mereka membeli, dan seberapa sering mereka menggunakannya.
            Menurut Schiffman dan Kanuk (2004:485), keputusan adalah suatu tindakan untuk memilih satu pilihan dari beberapa alternatif. Keputusan pembelian dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sosial, budaya, pribadi, dan psikologis dari konsumen. Faktor psikologis akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen, yaitu mengenai apa yang dibutuhkan atau diinginkan, perhatian terhadap berbagai pilihan produk, pencarian informasi, dan evaluasi mereka diantara berbagai alternatif yang tersedia.








            Berikut ini merupakan tahapan-tahapan yang dilalui seseorang konsumen dalam mengambil keputusan pembelian atas suatu produk atau jasa:









Text Box: Problem Recognition






Text Box: Information Search





Text Box: Evaluation of Alternatives






Text Box: Purchase Decision






Text Box: Postpurchase Decision
 























Gambar 2.3  Lima Tahap Model Proses Pembelian Konsumen
Sumber: Philip Kotler, 2000, Analyzing Consumer Markets and Buyer Behavior, hal 204

            Model ini menekankan bahwa proses membeli dimulai jauh sebelum tindakan membeli itu dan mempunyai konsekuensi yang panjang setelah membeli. Hal tersebut mendorong para pemasar untuk memusatkan perhatiannya pada proses membeli daripada keputusan untuk membeli.
            Konsumen memilih produk yang paling disukai, paling memberikan manfaat, menarik perhatiannya, sesuai dengan seleranya, serta dapat memenuhi kebutuhannya. Proses pengambilan keputusan pembelian konsumen merupakan output dari berbagai pertimbangan konsumen setelah melalui tahapan tertentu dimana hasilnya dapat merupakan purchase dan postpurchase decision. Dalam hal ini terdapat tiga kemungkinan yang dapat dirasakan dari diri konsumen adalah perasaan netral, puas, dan tidak puas. Pada saat konsumen membeli suatu produk, setelah mengkonsumsi ia akan memperoleh pengalaman atas produk yang dibeli dan dikonsumsinya itu.
            Uraian diatas dapat dituangkan kedalam paradigma penelitian pada gambar di bawah ini:







Text Box: Penawaran Produk Imitasi
(X)

Marketing Mix
• Produk (product)
• Harga (price)
• Tempat (place)
• Promosi (promotion)





 




























Keterangan:

                          = Yang Diteliti
 


Gambar 2.4  
Paradigma Penelitian
Gambar 2.5
Model Kerangka Pemikiran
STIMULUS
(Program Pemasaran)
 
 

dbfdhhfdahfkjfhjkd


 


Marketing Mix


Produk (Product)

Harga (Price)

Tempat (Place)

Promosi (Promotion) 


 








Nilai-nilai (Values)
Kebutuhan (Needs)
Harapan (Expectation)


Produk Imitasi Jenis Fashion
 





Proses Keputusan
Pembelian Konsumen
Pengenalan Kebutuhan
Pencarian Informasi
Evaluasi Alternatif
Keputusan Pembelian
Perilaku Pasca-pembelian

 
Variabel yang diteliti adalah yang dicetak tebal.
2.3 Hipotesis
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil hipotesis:
“Bahwa penawaran produk imitasi memiliki pengaruh terhadap proses keputusan pembelian produk fashion pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung”



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Metode Yang digunakan
3.1.1 Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah produk imitasi jenis fashion yang beredar di Pasar rakyat pekanan Gasibu Bandung. Produk fashion yang dimaksud penulis disini adalah segala sesuatu yang dapat menunjang bagusnya penampilan seseorang seperti baju, calana, rok, jaket, dasi, topi, tas, sepatu & kaos kaki, jam tangan, dan aksesoris tubuh lainnya. Aspek yang diteliti adalah tingkat konsumsi konsumen terhadap produk imitasi jenis fashion. Selanjutnya akan diteliti adalah alasan, selera konsumen dan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk imitasi jenis fashion. Tingkat kepuasan konsumen akan diteliti melalui responden, yaitu konsumen Pasar rakyat pekanan Gasibu Bandung dimana sebagian besar Produk fashion yang beredar disana didominasi oleh produk-produk imitasi. Lokasi penelitian terbagi atas lokasi penelitian untuk mendapatkan  data primer dan data sekunder. Untuk data Primer didapat melalui penyebaran kuesioner kepada konsumen Pasar rakyat pekanan Gasibu Bandung. Untuk data sekunder penulis akan mendapatkannya melalui penelitian pustaka yang didapat dari situs website, buku-buku dan diktat perkuliahan. Penulis juga mendapatkan data dari Pemda Jawa barat dan Biro Pusat Statistik (BPS).
Waktu yang diperkirakan akan digunakan dalam penelitian ini adalah:


Item penelitian/
Waktu pelaksanaan
April 05
Bulan Mei & Juni 05
Pekan 3&4 Juni  05
Pekan 1&2 Juli 05
Ø  Penyusunan Proposal Penelitian




Ø  Pengumpulan Data primer




Ø  Pengolahan Data




Ø  Penyusunan Draft Skripsi





3.1.2 Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 1985:63). Terdapat beberapa metode dalam metode deskriptif, dalam penelitian ini yang digunakan adalah metode survey yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok (Singarimbun, 1995:3). Sedangkan sifat penelitian ini adalah verifikatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguju kebenaran suatu hipotesis.

3.2 Operasionalisasi Variabel
            Yang akan diteliti adalah penawaran produk imitasi jenis fashion pada konsumen pasar rakyat pekanan Gasibu sebagai variabel bebas atau independen (Variabel X) dan proses keputusan pembelian konsumen sebagai variabel tidak bebas atau dependen (Variabel Y). Adapun secara lebih rinci operasionalisasi variabel dapat dilihat pada tabel 3.1 sebagai berikut



Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel Penelitian

Variabel
Sub Variabel
Konsep
Indikator
Ukuran
Skala
Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion
(Var X)

Segala informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk imitasi terutama dari jenis fashion, serta yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen



Produk
(product)
(x1)

Seorang konsumen seringkali akan melihat suatu produk yang ditawarkan berdasarkan kepada ciri-ciri atau atribut pemasaran yang melekat pada produk yang ditawarkan tersebut.
Produk yang beragam dan lengkap
Tingkat pengetahuan mengenai produk
Ordinal
Kualitas produk yang hampir menyamai produk aslinnya
Ordinal
Produk yang selalu Up to date/mengikuti perkembangan zaman
Ordinal
Harga
(price)
(x2)
Harga produk yang terjangkau
Tingkat pengetahuan mengenai harga
Ordinal
Harga produk yang sesuai dengan kualitasnya
Ordinal
Harga produk yang bisa ditawar
Ordinal
Harga produk yang bervariasi
Ordinal
Tempat
(place)
(x3)
Tempat penjualan yang strategis dan mudah dijangkau
Tingkat pengetahuan mengenai tempat
Ordinal
Situasi lingkungan yang nyaman
Ordinal
Adanya fasilitas penunjang seperti sarana olah raga
Ordinal
Promosi
(promotion)
(x4)
Pemberian bonus atau hadiah terhadap transaksi tertentu
Tingkat pengetahuan mengenai promosi
Ordinal
Intensitas promosi penjualan dengan adanya potongan harga
Ordinal
Proses Keputusan Pembelian Konsumen
(Var Y)

Memilih satu aktivitas pembelian dari dua atau lebih pilihan



Need recognition
(Pengenalan masalah)

Kesadaran akan adanya perbadaan antara keadaan sebenarnya dengan keadaan yang diinginkan
Bagaimana pengetahuan konsumen mempengaruhi kebutuhan akan pembelian produk fashion imitasi
Tingkat kebutuhan
konsumen
Ordinal
Information search
(Pencarian informasi)

Upaya konsumen untuk memperoleh informasi
Pencarian informasi untuk pemecahan masalah
Tingkat keinginan konsumen
Ordinal
Evaluation of alternative
(Penilaian alternatif)

Penilaian yang dilakukan konsumen diantara beberapa alternatif pilihan yang tersedia
Pencarian alternatif produk
Tingkat motivasi mencari alternatif
Ordinal
Kemudahan dalam memilih produk yang diinginkan
Tingkat kemudahan
Ordinal
Kesesuian harga dengan tingkat penghasilan
Tingkat kesesuaian harga
Ordinal
Kemudahan dalam mengakses tempat
Tingkat kemudahan
Ordinal
Purchase behavior
(Keputusan pembelian)

Keputusan yang menyebabkan konsumen memilih satu pulihan diantara berbagai penawaran
Keputusan produk
Tingkat kesepakatan konsumen
Ordinal
Frekuensi pembelian
Tingkat frekuensi pembelian
Ordinal
Rencana pembelian
Tingkat
frekuensi
perencanaan pembelian konsumen
Ordinal
Post purchase behavior
(Perilaku setelah pembelian)

Perilaku yang diperlihatkan konsumen setelah melakukan pembelian
Sikap konsumen setelah melakukan pembelian
Tingkat sikap konsumen setelah melakukan pembelian
Ordinal
Pembelian kembali (repurchasing)
Tingkatrepurchasing
Ordinal




3.3 Sumber dan Cara Penentuan Data
3.3.1 Jenis dan Sumber Data
            Data yang diperlukan dalam penelitian ini dapat digolongkan dalam dua kelompok, yaitu:
  1. Data primer, yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dan hasil kuesioner yang disebarkan kepada responden.
  2. Data sekunder, yaitu data yang telah ada dan tersusun secara sistematis serta merupakan hasil penelitian atau rangkuman dari dokumen-dokumen perusahaan serta literatur lain seperti buku, majalah, surat kabar, makalah dan situs web.

3.3.2 Metode Penarikan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode pengambilan sampel proporsional (purposive sampling). Dalam penelitian ini, purposive akan diarahkan agar lebih proporsional dan dalam mengambil sampel akan diambil berdasarkan proporsi jenis kelamin yakni proporsi antara pria dan wanita serta tingkat usia responden yakni proporsi dalam 6 golongan usia yang akan digambarkan pada kuesioner nantinya. Rumus yang digunakan adalah rumus dari Slovin yaitu:

            n   =         N      
                      (Nα2) + 1
Dengan :
            n       =  Jumlah Sampel
            N      =  Jumlah Populasi
            α       =  Tingkat Keyakinan
Besarnya populasi (N) diambil dari frekuensi kunjungan atau transaksi rata-rata tiap pekan. Menurut data yang diperoleh, frekuensi kunjungan atau transaksi rata-rata tiap pecan adalah 10.000 kunjungan atau transaksi, Sehingga jumlah sampel dapat ditentukan sebagai berikut:
            n =              10.000     
                        (10.000)(0,12) + 1
            n =   99 ~100 orang responden
Dengan demikian jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 100 orang

3.4 Teknik Pengumpulan Data
            Untuk mengumpulkan data mengenai obyek penelitian, maka digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
  1. Penelitian lapangan (Field Research) yang terdiri dari:
a.       Teknik wawancara (interview), yaitu dengan melakukan tanya jawab atau wawancara langsung kepada konsumen produk yaitu konsumen Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung yang menjadi obyek penelitian. Teknik ini dilaksanakan dalam jumlah sampel terbatas dan akan dijadikan salah satu rujukan dalam penyusunan kuesioner ataupun hasil akhir
b.      Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data primer yang dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada sejumlah sampel responden yang dianggap dapat mewakili seluruh populasi yang akan diteliti berdasarkan metode statistik tertentu yang akan dilaksanakan pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung di tempat tersebut dan pada hari minggu tiap pekannya selama (3) tiga pekan berturut-turut
c.       Teknik Observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan perdagangan di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung yang juga akan digunakan sebagai sumber penyusunan kuesioner.
  1. Penelitian kepustakaan (library research)
Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan pengumpulan bahan-bahan melalui buku-buku bacaan, catatan kuliah, literatur lainnya yang berhubungan dengan topik penulisan ini. Tujuan penelitian kepustakaan ini adalah untuk memperoleh data teoritis untuk membangun landasan teori yang kuat untuk mendukung penelitian ini.

3.5 Rancangan Analisis dan Uji Hipotesis
3.5.1 Instrumen Penelitian
3.5.1.1 Skala Pengukuran
Data yang dihasilkan dari penyebaran kuesioner ini berskala ordinal mengingat kuesioner yang disebarkan menggunkan skala Likert dengan kisaran 1-5. Penggunaan skala ordinal tidak memungkinkan untuk memperoleh nilai mutlak (absolut) dari objek yang diteliti.

3.5.1.2 Uji Validitas
                  Uji Validitas digunakan untuk menguji ketetapan setiap item dalam mengukur instrumennya, teknik uji yang digunakan adalah teknik korelasi item total melalui Koefisien Korelasi Pearson. Skor setiap item pertanyaan yang diuji kevalidannya dikorelasikan dengan skor total seluruh item (Sugiyono, 2000:106). Jika koefisienan korelasi Pearson positif dan signifikan maka item valid, jika nonsignifikan, nol, atau negatif maka item tidak valid (Singrimbun, 1995:139). Item yang tidak valid disisihkan dari kuesioner dan digantikan dengan item perbaikan.
r      =               nΣYX - (ΣX)(ΣY)              
              √((nΣX2 – (ΣX)2) (nΣY2 – (ΣY)2))

 
                  Rumus Koefisien Korelasi Product Moment Pearson:


 


Keterangan:
rs = Koefisien Korelasi
n = Jumlah responden
Y = Jumlah skor total seluruh item
X = Jumlah skor tiap item

3.5.1.2 Uji Reliabilitas
            Uji Reliabilitas dilakukan untuk menguji kehandalan atau konsistensi instrumen. Item-item yang dilibatkan dalam uji reliabilitas ini adalah seluruh item yang valid atau setelah setelah item yang tidak valid disisihkan. Taknik uji yang digunakan adalah Teknik Belah Dua (Split Half) melalui Koefisien Reliabilitas Spearman-Brown (Singarimbun, 1998). Skor item valid berurutan ganjil (dijumlahkan sehingga diperoleh belahan ganjil). Sementara skor item-item valid berurutan genap juga dijumlahkan sehingga diperoleh skor total belahan genap. Selanjutnya, skor total belahan ganjil dan belahan genap dikorelasikan melalui Koefisien Korelasi Pearson. Nilai Koefisien Korelasi yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengukur reliabilitas instrumen dengan menstransformasikannya ke dalam rumus Kefisien Reabilitas Spearman-Brown sebagai berikut:
ri =     2 rb              Keterangan:
        1 + rb             rb = Koefisien Korelasi Pearson antara skor total belahan ganjil dengan genap
            Jika Koefisien Reliabilitas Spearman-Brown positif dan signifikan maka instrumen reliabel, jika nonsignifikan, nol, atau negatif maka instrumen tidak reliabel (Singarimbun, 1995:139). Item yang tidak valid disisihkan dari kuesioner atau digantikan dengan item perbaikan.
            Signifikansi Koefisien Korelasi Pearson untuk uji validitas maupun Koefisien Korelasi Spearman-Brown untuk uji reliabilitas diuji melalui statistik t. Hubungan antara nilai r dengan statistik t dirumuskan sebagai berikut:
t = r √ n - 2
           1 - r2

 
                                             (Sugiyono, 2005:215)

            Uji Signifikansi mengikuti sebaran t- studen dengan derajat bebas db= n-2 dan dengan taraf kesalahan dua sisi α = 0,10 Penentuan signifikansinya dilihat melalui peluang kesalahan (   = value) atau tabel-r yang sesuai denga sebaran t- studen. Untuk jumlah data n =…., maka nilai r tabel = …..yang bersesuaian dengan r tabel = …..  Jika –value < atau r hitung > tabel maka Koefisien Korelasi Pearson atau Koefisien Korelasi Spearman-Brown signifikan dan sebaliknya.


3.5.2 Metode Analisis&Uji Hipotesis
            Untuk menjawab masalah dan mengungkap tujuan penelitian, pertama digunakan metode analisis dekriptif berdasarkan kuesioner dan wawancara. Pelaksanaan meliputi pengumpulan data, penyusunan data, dan interpretasi tentang arti data tersebut.
            Metode analisis yang digunakan untuk menjawab masalah dan mengungkap tujuan penelitian kedua yaitu pengaruh peredaran produk bajakan jenis fashion terhadap keputusan konsumen adalah metode kualitatif dan kuantitatif dimana:
Ø  Metode kualitatif, mengemukakan data-data yang didapat dengan mengelompokkan, mentabulasi, dan memberikan penjelasan.
Ø  Metode kuantitatif, dilakukan dengan menggunakan alat bantu statistik. Metode statistik yang digunakan untuk menganalisis hubungan variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:
1. Metode Succesive Interval (MSI) Langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengolah data yang diperoleh dari kuesioner yang telah diisi oleh para responden dengan mengubah dari skala ordinal menjadi skala interval adalah sebagai berikut:
1.      mengolah setiap jawaban dari kuesioner yang telah disebar, kemudian menghitung frekuensi dan persentasinya.
2.      Memberikan pembobotan untuk setiap jawaban berskala ordinal. Pertanyaan positif atau mendukung penelitian akan diberi skor 5-4-3-2-1 dan pertanyaan negative atau pertanyaan yang tidak mendukung penelitian diberi skor 1-2-3-4-5 (menggunakan skala Likert).
Karena data yang diperoleh melalui kuesioner berskala pengukuran ordinal, maka skala ukuran tersebut harus diubah terlabih dahulu menjadi skala interval dengan menggunakan Method of Successive Interval (MSI). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1.      Perhatikan setiap butir pertanyaan.
2.      Untuk setiap butir tersebut, tentukan berapa orang yang mendapat skor 1,2,3,4 dan 5 yang disebut frekuensi.
3.      Untuk setiap frekuensi dibagi dengan banyaknya responden dan hasilnya disebut proporsi.
4.      Tentukan proporsi kumulatif dengan menjumlahkan proporsi tadi secara berurutan.
5.      Dengan menggunakan tabel distribusi normal, tentukan nilai Z untuk masing-masing proporsi kumulatif.
6.      Tentukan nilai densitas untuk nilai Z yang diperoleh dengan menggunakan tabel densitas.
7.      Tentukan nilai skala dengan menggunakan rumus:
SV =    Density of Lower Limit – Density of Upper Limit
   Area Under Upper Limit – Area Under Lower Limit

8.      Tentukan nilai transformasi skala dengan menggunakan rumus:
Y = SV +      SVterkecil 


2. Analisis Korelasi Linier Sederhana
Digunakan untuk mengetahui derajat korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat yang akan diuji dengan menggunakan SPSS (Statistic Pruduct and Service Solution) versi 12.0 for Windows.
Koefisien Korelasi terletak antara -1 dan 1, dimana:
rxy = 1, artinya hubungan Linier Positif Sempurna antara X dan Y. Jika Nilai X bertambah besar, maka nilai Y juga bertambah besar dan demikian pula sebaliknya.
rxy = -1, artinya hubungan Linier Negatif Sempurna antara X dan Y. Jika Nilai X bertambah besar, maka nilai Y bertambah kecil dan demikian pula sebaliknya.
rxy = 0, artinya tidak ada hubungan Linier antara X dan Y.
               Untuk mencari Koefisien Korelasi yang mengukur besarnya kontribusi X terhadap Y adalah menggunakan Product Moment Method Correlation Analysis:
                  r      =               nΣYX - (ΣX)(ΣY)
√((nΣX2 – (ΣX)2) (nΣY2 – (ΣY)2))

            Data yang digunakan untuk menguji konseptual yang dikemukakan dalam suatu penelitian merupakan data yang berasal dari suatu sampel yang berukuran n, maka harus diuji keberartian koefisien korelasi dengan menggunakan uji statistik t sebagai berikut:


t = r √ n - 2
           1 - r2
          
            Pada akhirnya, nilai t hitung yang didapat dibandingkan dengan t tabeldengan df = n-2, pada taraf kesalahan α = 0,10 dua sisi dan kriteria penolakannya adalah:
Tolak Ho dan Hi diterima apabila t hitung > t tabel atau t hitung < t tabel maka Ho diterima dan Hi ditolak.
Ho : Penawaran Produk imitasi jenis fashion tidak berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota bandung
Hi : Penawaran Produk imitasi jenis fashion berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Profil Produk
            4.1.1. Profil Produk Imitasi Jenis Fashion
            Produk imitasi jenis fashion yang beredar di pasar eceran pekanan gasibu Kota Bandung berjumlah sangat banyak dan beragam. Dalam penelitian ini yang menjadi sorotan penulis adalah produk jenis fashion yang diproduksi oleh industri yang relatif kecil dengan meniru dengan sempurna atau meniru bagian tertentu dari sebuah produk yang sudah ada sebelumnya. Atau dengan kata lain penulis akan menyebutnya  sebagai Produk fashion imitasi.
            Untuk memudahkan responden mengerti akan objek penlitian yang diteliti oleh penulis, maka penulis memberikan contoh objek penelitian adalah produk fashion yang sering dikonsumsi oleh responden seperti baju, celana, rok, kaos, T-Shirt, topi, jam tangan, sepatu, dan produk-produk fashion lainnya yang meniru produk sejenis yang pernah ada atau sedang dipasarkan. Kesemuanya penulis kategorikan menjadi satu kategori yaitu produk imitasi jenis fashion, sehingga dalam penyebutan selanjutnya produk-produk tersebut disebut sebagai produk imitasi jenis fashion.

4.2. Profil Responden
Responden dalam penelitian ini adalah konsumen pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung yang mengkonsumsi produk-produk fashion yang ditawarkan disana. Hal ini didasari berdasarkan kenyataan bahwa pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung merupakan salah satu pusat peredaran produk-produk imitasi jenis fashion di Kota Bandung. Selain itu Pasar ini juga dipadati tidak kurang dari 10.000an pengunjung setiap pekannya Oleh karena itu penulis menetapkan bahwa yang paling berkepentingan dengan konsumsi produk-produk imitasi jenis fashion adalah konsumen dari produk fashion imitasi yang dijual disana. Sebab tidak semua dari pengunjung pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung adalah konsumen dari produk imitasi jenis fashion tadi. Dipilihnya konsumen produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung  sebagai target responden adalah disebabkan karena tempat yang starategis, jumlah pengunjung yang besar dalam satu hari, beragamnya jenis produk fashion yang ditawarkan dan anggaran penelitian. Disamping itu, secara sepintas menurut beberapa orang konsumen produk imitasi jenis fashion pasar Gasibu Kota Bandung juga dikenal loyal terhadap pasar jenis ini serta sacara teknis juga memiliki kemampuan memilah dan memilih informasi yang cukup sehuingga akan mampu menyerap dan memproses draft pertanyaan kuesioner. Namun semua anggapan itu akan penulis telusuri dan buktikan dalam kuesioner yang dijelaskan selanjutnya sebagai berikut:
            Informasi yang dapat diberikan oleh tabel 4.1 adalah bahwa jumlah responden yang diteliti mayoritas berusia muda, yaitu yang berusia dibawah 18 tahun sebanyak 35%, berusia 18 sampai 24 tahun sebanyak 30% dan yang berusia 25 sampai dengan 29 tahun sebanyak 23% Hal ini merupakan indikasi bahwa konsumen didominasi oleh orang-orang yang cenderung dapat menerima sesuatu yang baru dan mau merubah kebiasaannya termasuk dalam hal berbelanja. 
Tabel 4.1
Profil Responden Berdasarkan Usia
Usia
f Responden
Persentase
…< 18 tahun
35
35%
18-24 tahun
30
30%
25-29 tahun
23
23%
30-44 tahun
7
7%
45-54 tahun
4
4%
55 <….
1
1%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
           
            Pada tabel 4.2 menunjukkan cenderung seimbangnya proporsi antara pria dan wanita yang menjadi konsumen pasar eceran pekanan Gasibu membuktikan bahwa aktivitas berbelanja atau membeli sendiri kebutuhan pribadi tidak lagi didominasi oleh kaum wanita. Kaum pria pun ternyata telah banyak yang melakukan sendiri pembelian kebutuhan pribadinya dan tidak lagi selalu mewakilkannya kepada wanita yang ada di keluarganya.
Tabel 4.2
Profil Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
f Responden
Persentase
Wanita
54
54%
Pria
46
46%
Jumlah
100
100
Sumber : Data primer yang diolah
            Sedangkan dari tabel 4.3 dapat terlihat proporsi yang seimbang antara konsumen yang beragama Islam dengan yang bukan beragama Islam. Seimbang yang dimaksudkan penulis disini adalah proporsi yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini yaitu 87:13 cenderung sesuai dengan jumlah populasi dan proporsi agama yang dianut oleh Warga Negara Indonesia (WNI) yakni berkisar sekitar angka yang ditunjukkan pada tabel tersebut. Hal ini juga mengindikasikan bahwa pasar Gasibu Kota Bandung tidak didominasi agama tertentu dan cenderung tidak eksklusif.
Tabel 4.3
Profil Responden Berdasarkan Agama
Agama
f Responden
Persentase
Islam
87
87%
Non Islam
13
13%
Jumlah
100
100
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.4 menunjukan bahwa konsumen mayoritas di Pasar Gasibu Kota Bandung adalah kalangan yang telah atau mengenyam pendidikan menengah baik lanjutan pertama (29%) maupun lanjutan atas (43%). Sementara yang sampai pada jenjang pendidikan tinggi program Diploma yakni 17% dan pendidikan program Sarjana 10%, sedangkan sisanya 1% hanya mengenyam pendidikan dasar. Hal tersebut memiliki arti bahwa konsumen di Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung belum memiliki bekal yang matang untuk membantunya dalam mempertimbangkan dan mengambil keputusan dari berbagai alternatif yang tersedia, sehingga apapun keputusan yang dilaksanakannya belum melalui proses pemikiran dan pertimbangan rasional dan masih tercampur dengan sifat emosional.
Tabel 4.4
Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
f Responden
Persentase
SD
1
1%
SLTP/sederajat
29
29%
SLTA/sederajat
43
43%
Program D1, D2, D3
17
17%
Program Sarjana
10
10%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Kalangan pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok yang paling besar persentasenya dari seluruh konsumen produk fashion imitasi pasar Gasibu, hal ini dapat dilihat pada tabel 4.5 yang menyebutkan bahwa kalangan pelajar SLTP/SLTA memiliki proporsi 39% dan mahasiswa 27% dari total responden. Selanjutnya disusul dengan kalangan Pegawai Negeri Sipil dan TNI serta Ibu Rumah Tangga dengan proporsi masing-masing 12% dan 14%. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli di Pasar Gasibu mayoritas dari kalangan yang membeli kebutuhan hanya untuk dirinya sendiri.





Tabel 4.5
Profil Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Pekerjaan
f Responden
Persentase
Pelajar SLTP / SLTA
39
39%
Mahasiswa
27
27%
PNS /TNI
12
12%
Ibu Rumah Tangga
14
14%
Pegawai Swasta
4
4%
Profesi (dokter,……)
0
0
Wirausaha
1
1%
Tidak Bekerja
3
3%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
Tabel 4.6 menyebutkan bahwa 78% dari konsumen produk fashion imitasi jenis fashion di pasar Gasibu Kota Bandung adalah kalangan yang masih melajang, 22% sudah menikah dan tidak menemukan adanya responden yang menjalani hidup menjanda atau menduda. Hal ini berarti bahwa mayoritas konsumen produk fashion imitasi jenis fashion di pasar Gasibu adalah kelompok yang menjalankan berbagai peran pembeliannya sendiri. Pembelian sering dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek karenanya jumlahnya tidak relatif banyak, terutama untuk pria.
Tabel 4.6
Profil Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Status Pernikahan
f Responden
Persentase
Belum Menikah
78
78%
Menikah
22
22%
Lain-lain (janda/duda)
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.7 menunjukkan profil responden yang sebagian besar berasal dari kelompok yang berpenghasilan menengah dan menengah kebawah. Kondisi ini memberikan gambaran tentang berapa besar bagian dari penghasilan yang dapat mereka sisihkan untuk keperluan belanja kebutuhan. Alokasi dana belanja yang relatif terbatas mendorong mereka untuk berhati-hati (sensitif) dalam memilih barang yang akan dibeli baik jumlahnya, pilihan merek maupun harga barang.
Tabel 4.7
Profil Responden Berdasarkan Penghasilan atau Uang SakuPerbulan
Penghasilan
f Responden
Persentase
…< 500.000
13
13%
500.000-1.000.000
22
22%
1.000.001-1.500.000
6
6%
1.500.001-3.000.000
2
2%
3.000.001<….
0
0%
Tidak tetap
4
4%
Jumlah
47
47%
Uang Saku


….< 100.000
0
0
100.000-250.000
3
3%
250.001-500.000
27
27%
500.001<…….
19
19%
Tidak tetap
4
4%
Jumlah
53
53%
Sumber : Data primer yang diolah
            Dalam tabel 4.8 dapat dilihat bahwa minimal sebagian besar responden dalam 1 bulan telah mengunjungi gasibu sebanyak 1 kali atau 57% sedangkan 31% dari reesponden menyatakan mengunjungi gasibu lebih dari 1x setiap bulannya. Bahkan ada 5% responden yang sangat loyal dalam kunjungannya sehingga tiap pekannya ia selalu mengunjungu gasibu. Dan hanya 7% responden yang tidak tentu dalam jumlah kunjungannnya dalam 1 bulan. Ini menunjukkan bahwa ternyata Pasar Gasibu cukup diminati oleh banyak penduduk untuk didatangi kembali.
Tabel 4.8
Profil Responden Berdasarkan Frekuensi Pembelian
Frekuensi Pembelian
f Responden
Persentase
Tiap pekan 1X
5
5%
Lebih dari 1X Tiap bulan
31
31%
Tiap bulan 1X
57
57%
Tidak tentu
7
7%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Seperti ditunjukkan pada tebel 4.9 sebagian besar responden atau sebanyak 81% responden hanya hanya berbelanja dalam jumlah di bawah Rp. 30.000, ini menggambarkan bahwa responden tersebut tidak membeli banyak item atau tidak juga membeli sejenis produk dalam jumlah yang banyak. Dengan demikian konsumen tersebut pada umumnya relatif berhati-hati dalam memilih produk yang akan dibelinya sebab anggaran yang mereka sediakanpun terbatas. Sedangkan hanya sejumlah 19% saja konsumen yang menyediakan anggaran diatas Rp. 30.000 untuk dihabiskan pada pasar semacam ini.
Tabel 4.9
Profil Responden Berdasarkan Nilai Rata-rata Tiap Pembelian
Nilai Pembelian
f Responden
Persentase
Rp 0-Rp 30.000
81
81%
Rp 30.001-Rp 50.000
15
15%
Rp 50.001<……
4
4%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.10 dapat dilihat bahwa sebagian besar dari reponden, mengunjungi Pasar Gasibu Kota Bandung sebanyak 69% dilakukan bersama teman, ini berarti mayoritas konsumen menjadikan ajang pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung ini selain untuk berbelanja juga sebagai tempat untuk melepas kejenuhan bersama teman-teman yang pada umumnya berusia muda. Dan mayoritas mereka adalah kelompok yang menjalankan berbagai peran pembeliannya sendiri. Sedangkan orang yang berkunjung bersama segmen lain selain teman rata-rata mengunjungi untuk sekedar berbelanja dan lebih realistis dan terencana dalam kunjungannya.





Tabel 4.10
Profil Responden Berdasarkan Situasi Saat Kunjungan
Situasi Saat Kunjungan
f Responden
Persentase
Sendiri
5
5%
Bersama teman
69
69%
Bersama keluarga
19
19%
Bersama suami/istri, anak
7
7%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Cenderung lamanya waktu yang digunakan oleh responden tiap kali kunjungannya seperti ditunjukkan pada tabel 4.11 menunjukkan bahwa banyak diantara responden atau 51% responden ingin menghabiskan waktunya tidak hanya dengan berbelanja namun juga diselingi dengan rekreasi atau sekedar hanya melepas kejenuhan pada hari kerja. Persentase besar selanjutnya yakni 37% atau 1-2 jam juga menunjukkan bahwa responden tidak hanya setelah mendapatkan keinginannya langsung pulang, namun juga diselingi dengan aktivitas lainnya diluar berbelanja.
Tabel 4.11
Profil Responden Berdasarkan Waktu Rata-rata Tiap Kunjungan
Waktu Kunjungan
f Responden
Persentase
…..< 1 jam
13
13%
1-2 jam
37
37%
2-3 jam
51
51%
3 jam <……
9
9%
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah

4.3. Analisa Tanggapan Responden mengenai Produk Imitasi Jenis Fashion di Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung
              Untuk pertanyaan pertama penulis menanyakan kepada responden tentang keragaman dan kelengkapan produk imitasi jenis fashion yang diperdagangkan di pasar pekanan Gasibu Kota Bandung. Berdasarkan hasil kuisioner hanya terdapat tiga tipe jawaban dari pertanyaan ini seperti ditunjukkan pada tabel 4.12, yaitu “Sangat setuju”, “Setuju”dan “ragu-ragu”. Untuk responden yang menjawab “Sangat setuju” menduduki jumlah yang paling besar yaitu 68%. Hal ini menandakan bahwa responden sepakat bahwa produk imitasi jenis fashion yang diperdagangkan di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung memiliki keragaman dan kelengkapan produk tang baik. Artinya mereka menyetujui bahwa produk imitasi jenis fashion yang diperdagangkan di Pasar Gasibu dapat memenuhi berbagai keragaman dan kelengkapan yang dibutuhkan, baik itu berupa pakaian maupun aksesoris pelengkapnya. Responden yang menjawab “tidak setuju” dan “sangat tidak setuju” membutuhkan produk fashion imitasi berjumlah “0”. Artinya tidak ada responden yang tidak mengakui keragaman dan kelengkapan produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana. Sebagian responden menjawab “setuju” dengan jumlah yang hampir seimbang dengan yang menjawab “ragu-ragu”. Hal ini menandakan bahwa mereka juga memiliki keyakinan tentang beragamnya dan lengkapnya jenis produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana. Tabel berikut menggambarkan hasil kuisioner mengenai tanggapan responden tentang keragaman dan kelengkapan produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana.
Tabel 4.12
Tanggapan Responden Tentang Keragaman dan Kelengkapan Produk
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
68
68%
Setuju
22
22%
Ragu-ragu
10
10%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.13 penulis menanyakan pada responden tanggapan mereka tentang kualitas produk imitasi terhadap produk aslinya. Berdasarkan hasil kuesioner terdapat jumlah yang merata pada tiga pilihan jawaban yaitu “sangat setuju”, “setuju” dan “ragu-ragu” yang jumlahnya berturut-turut 28%, 37%, dan 26%. Hal ini berarti, mayoritas responden mengakui kebaikan kualitas dari produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana. Namun kemerataan jumlah dari tiga pilihan jawaban ini juga berarti bahwa adanya perbedaan yang merata dalam tingkat kepuasan yang diterima diantara para responden. Sedangkan ada 9% responden yang menyatakan “tidak setuju” yang berarti ada responden yang tingkat kepuasannya tidak dapat dipenuhi dengan baik oleh produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana. Namun pilihan jawaban “sangat tidak setuju” ternyata berjumlah “0”.
.Tabel 4.13
Tanggapan Responden Tentang Kualitas Produk yang Menyamai Produk Asli
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
28
28%
Setuju
37
37%
Ragu-ragu
26
26%
Tidak setuju
9
9%
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Dari data yang penulis dapat seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.14 terlihat dengan jelas adanay jawaban yang sangat merata antara tiga jawaban mengenai Tanggapan Responden Tentang Produk yang Selalu Up to date yaitu yaitu “sangat setuju”, “setuju” dan “ragu-ragu” yang jumlahnya berturut-turut 36%, 32%, dan 32%. Hal ini menunjukkan bahwa responden secara umum ingin menyatatakan bahwa produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana selalu up to date. Dan memang dari observasi yang dilakukan oleh penulis sendiri bahwa produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana telah dapat digolongkan mengikuti dengan baik perkembangan mode yang bergerak cepat di kota Bandung yang digolongkan pusat mode Indonesia ini. Sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada sama sekali.


Tabel 4.14
Tanggapan Responden Tentang Produk yang Selalu Up to date
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
36
36%
Setuju
32
32%
Ragu-ragu
32
32%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Hampir 90% responden menyatakan bahwa harga produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana terjangkau oleh mereka sangat setuju dan setuju. Data yang menmunjukkan hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15. Ternyata harga yang ditawarkan disana secara umum dinyatakan terjangkau oleh kemampuan dan daya beli mereka. Namun masih ada 13% reponden yang masih ragu untuk menyatakan bahwa harga produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan disana terjangkau oleh daya beli mereka, responden yang menjawab demiukian kemungkinan besar berasal dari golongan yang berpenghasilan menengah kebawah. Sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada sama sekali.
Tabel 4.15
Tanggapan Responden Tentang Harga Produk yang Terjangkau
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
64
64%
Setuju
23
23%
Ragu-ragu
13
13%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Dari tabel 4.16 diketahui sebanyak 38% responden menyatakan sangat setuju pelaksanaan atribut tersebut di pasar Gasibu Kota Bandung dan yang menyatakan setuju adalah sebanyak 21%. Hal ini menunjukkan pelaksanaan atribut ini sudah sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sebagian besar dari responden. Sementara itu, yang menjawab ragu-ragu juga mencatat jumlah yang cukup besar yakni 41% yang berarti bahwa terdapat sebagian responden yang menganggap tidak ada yang istimewa dalam pelaksanaan atribut ini. Sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada sama sekali.
Tabel 4.16
Tanggapan Responden Tentang Harga yang Sesuai dengan Kualitas Produk
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
38
38%
Setuju
21
21%
Ragu-ragu
41
41%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.17 lebih dari separuh dari responden yakni sebesar 51% menyatakan mereka sangat setuju bahwa harga produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan di Pasar Gasibu memang mudah ditawar. Sedangkan ada yang menyatakan setuju dan ragu-ragu dengan atribut ini berturut-turut sebesar 33% dan 16%. Ini berarti secara umum mereka sepakat bahwa harga disana memang dapat mudah untuk ditawar namun, mereka menemukan di beberapa tempat harga yang dipatok oleh produsen atau pedagang sudah merupakan “harga pas” yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, atau dengan kata lain tidak sebuah hal yang mutlak bahwa harga produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan di Pasar Gasibu seluruhnya mudah ditawar. Sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada sama sekali.





Tabel 4.17
Tanggapan Responden Tentang Harga yang Dapat Ditawar
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
51
51%
Setuju
33
33%
Ragu-ragu
16
16%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.18 mayoritas responden atau sebanyak 46% responden mengakui bahwa daya tarik harga yang bervariasi merupakan hal yang penting bagi mereka. Sementara itu dalam menanggapi pelaksanaan atribut ini terdapat porsi yang tidak terlalu berbeda antara yang menjawab setuju dengan yang menjawab ragu-ragu, hal ini disebabkan karena pada beberapa produsen dan pedagang terdapat sebuah kesepakatan harga yang harus dipatuhi oleh semua pedagang produk yang sejenis. Jadi, dapat disimpilkan pula bahwa harga yang bervariasi memang sangat mungkin namun, pada kenyataannya di beberapa lokasi terdapat keseragaman harga yang tidak dapat dihindari untuk mencegah persaingan yang tidak sehat antar pedagang itu sendiri.
Tabel 4.18
Tanggapan Responden Tentang Harga yang Bervariasi
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
46
46%
Setuju
22
22%
Ragu-ragu
32
32%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Bagi mayoritas responden atau sebesar 58% seperti ditunjukkan pada tabel 4.19 menyatakan bahwa tempat perdaganagan pasar Gasibu sudah sangat baik dalam hal tempat yang strategis. Dan 29% menjawab setuju dengan atribut ini  sedangkan ragu-ragu dengan atribut ini ada 13%. Konsumen yang menyatakan ragu-ragu terhadap atribut ini dimungkinkan berasal dari kosumen yang berdomosili cukup jauh dari wilayah Gasibu yang berada di Kecamatan Coblong. Sementara tidak ada sama sekali responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
Tabel 4.19
Tanggapan Responden Tentang Tempat yang Strategis
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
58
58%
Setuju
29
29%
Ragu-ragu
13
13%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Jawaban yang paling banyak dipilih pada atribut yang ditunjukkan pada tabel 4.20 adalah setuju dengan anggapan bahwa tempat perdagangan produk imitasi jenis fashion di pasar Gasibu memiliki lingkungan yang nyaman. Sedangkan yang menjawab sangat setuju tergolong dan ragu-ragu cenderung memiliki proporsi yang seimbang hal ini dimungkinkan karena kondisi Gasibu saat ini memang sangat ramai dan berdesakkan sehingga kenyamannnya cukup dipertanyakan. Sehingga untuk atribut yang satu ini ternyata jumlah yang menyatakan tidak setuju sebesar 14% tidak dapat dikatakan sedikit, sedangkan tidak ada sama sekali yang menyatakan sangat tidak setuju.
Tabel 4.20
Tanggapan Responden Tentang Lingkungan yang Nyaman
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
23
23%
Setuju
34
34%
Ragu-ragu
29
29%
Tidak setuju
14
14%
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Pada tabel 4.21 sebagian besar responden yaitu yang menyatakan sangat setuju atau 46% dan yang menyatakan setuju atau 33% hampir secara pasti menyatakan bahwa keberadaan fasilitas penunjang seperti adanya fasilitas olah raga dan senam pagi yang hampir tiap pekan dilaksanakan adalah salah satu alasan mereka untuk datang ke pasar pekanan Gasibu dan melakukan transaksi disana. Sedangkan yang menyatakan ragu-ragu sebesar 21% menandakan bahwa memang terkadang adanya fasilitas olah raga dan senam pagi yang hampir tiap pekan dilaksanakan adalah salah satu alasan mereka untuk datang ke pasar pekanan Gasibu dan melakukan transaksi disana namun tidak sepenuhnya itu menjadi alasan meraka. Sedangkan tidak ada sama sekali responden yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju.
Tabel 4.21
Tanggapan Responden Tentang Adanya Fasilitas Penunjang
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
46
46%
Setuju
33
33%
Ragu-ragu
21
21%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
            Atribut pemberian bonus atau hadiah ternyata dikomentari secara merata oleh para responden. Seperti ditunjukkan pada tabel 4.22 terlihat jawaban yang cenderung merata pada jawaban sangat setuju, setuju, ragu-ragu dan tidak setuju secara berurutan yaitu sebesar 26%, 30%, 30% dan 14%. Hal ini menunjukkan bahwa atribut ini tidak memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perilaku konsumen, hal ini dimungkinkan adanya responden yang tidak pernah mendapatkan pemberian bonus maupun hadiah atau bonus atau hadiah tadi tidak menjadi tujuan utama responden dalam bertransaksi di pasar Gasibu Kota Bandung. Namun, atribut ini sudah dapat dikatakan signifikan dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Sedangkan tidak ada sama sekali yang menyatakan sangat tidak setuju.

Tabel 4.22
Tanggapan Responden Tentang Adanya Pemberian Bonus atau Hadiah
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
26
26%
Setuju
30
30%
Ragu-ragu
30
30%
Tidak setuju
14
14%
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah
Pada tabel 4.23 lebih dari separuh dari responden yakni sebesar 79% menyatakan mereka sangat setuju dan setuju bahwa adanya potongan harga yang ditawarkan di sana sebagai bagian dalam proses promosi menjadi alasan mereka untuk bertransaksi. Sedangkan ada yang menyatakan ragu-ragu dengan atribut ini sebesar 21%. Ini berarti secara umum mereka sepakat bahwa adanya potongan harga yang ditawarkan di sana menarik perhatian mereka namun, sangat dimungkinkan mereka menemukan di banyak tempat hal tersebut tidak berlaku. Sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju tidak ada sama sekali.
Tabel 4.23
Tanggapan Responden Tentang Adanya Potongan Harga
Tanggapan
f Responden
Persentase
Sangat setuju
43
43%
Setuju
36
36%
Ragu-ragu
21
21%
Tidak setuju
0
0
Sangat tidak setuju
0
0
Jumlah
100
100%
Sumber : Data primer yang diolah








4.4. Analisis Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung
4.4.1. Analisa Kualitatif Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung
          Semakin bertambahnya pengetahuan seseorang akibat berkesinambungannya interaksi atau hubungan dengan aktivitas pembelian, kesadaran dan keinginannya untuk dapat melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhannya cenderung semakin besar. Tidak terkecuali dalam hal memilih produk fashion sebagai pilihan kebutuhan primernya.
Tabel 4.24
Konsumen Pada Tahap Pengenalan Kebutuhan
Atribut
SS
S
R
TS
STS
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Merasa membutuhkan produk Imitasi jenis fashion setelah mendapat informasi
52
52
21
21
27
27
0
0
0
0
Sumber : Data primer yang diolah
            Tabel 4.24 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berdasarkan informasi yang mereka dapatkan merasakan atribut pemasaran produk fashion imitasi Pasar Gasibu Kota Bandung mengarahkan mereka pada kebutuhan. Informasi awal yang mereka dapatkan mengenai kelebihan atribut produk fashion imitasi di pasar Gasibu Kota Bandung seperti dalam hal produk, harga, tempat penjualan maupun metode promosinya menyebabkan mereka mulai mengenali kebutuhan mereka dan mulai mempertimbangkan produk imitasi jenis fashion yang ditawarkan di Pasar Gasibu Kota Bandung.



Tabel 4.25
Konsumen Pada Tahap Pencarian Informasi
Atribut
SS
S
R
TS
STS
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Mencari informasi lebih mengenai produk imitasi jenis fashion
29
29
39
39
23
23
9
9
0
0
Sumber : Data primer yang diolah
            Konsumen yang selama ini telah terbiasa membeli barang di pasar, warung, atau kios yang seluruh atributnya dikelola secara konvensional. Adanya realitas seperti ini seharusnya menjadi salah satu keuntungan bagi Pasar Gasibu Kota Bandung untuk memasarkan produknya, karena masyarakat sudah tidak asing lagi dengan pasar model ini. Oleh karena itu pula mungkin yang menyebabkan hanya 68% dari responden terarahkan kepada tahap pencarian informasi tambahan. Hal ini ditunjukkan oleh tabel di atas (4.25), yang memperlihatkan bahwa mayoritas responden menyatakan setuju dan sangat setuju bahwa mereka melakukan pencarian informasi tambahan yang berkaitan dengan atribut-pemasaran pemasaran produk fashion imitasi Pasar Gasibu Kota Bandung. Adanya responden yang menjawab ragu-ragu disebabkan reponden bersangkutan tidak memperhatikan apakah tahap pencarian informasi mereka lakukan dalam hal pembelian produk fashion imitasi. Sementara yang tidak setuju disebabkan bagi mereka keputusan pembelian merupakan aktivitas rutin mereka yang dilakukan dengan cara yang sama dari waktu ke waktu.
            Tahap evaluasi alternatif merupakan tahap dimana seorang konsumen akan membndingkan sejumlah produk, merek atau pasar lain berdasarkan informasi yang telah didapatkan sebelumnya untuk mendapatkan kriteria tertentu seperti yang diinginkan. Berdasarkan informasi yang terdapat pada tabel 4.26 dapat dikatakan sebagian besar responden merasakan bahwa informasi yang mereka dapatkan mengenai produk fashion imitasi yang ditawarkan di pasar Gasibu Kota Bandung mendorong mereka untuk membandingkannya dengan bebrapa alternatif produk fashion atau produk fashion imitasi lain yang sebelumnya pernah mereka kunjugi dan konsumsi baik itu dipertimbangka dari sisi keragaman produk, harga, maupun tempat penjualan produk. Masing-masing responden memilih alternatif produk dan tempat yang mungkin berbeda dengan responden yang lain.
Tabel 4.26
Konsumen Pada Tahap Penilaian Alternatif
Atribut
SS
S
R
TS
STS
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Mencari alternatif membeli produk imitasi jenis fashion
33
33
30
30
26
26
11
11
0
0
Mudah mencari produk yang imitasi jenis fashion yang diinginkan
56
56
31
31
13
13
0
0
0
0
Harga sesuai dengan penghasilan
63
63
27
27
10
10
0
0
0
0
Tempat yang mudah diakses
46
46
33
33
21
21
0
0
0
0
Sumber : Data primer yang diolah
            Dari lima tahap proses keputusan pembelian konsumen, tahap pembelian merupakan merupakan tahap yang paling penting baik bagi konsumen maupun bagi pedagang atau retailer. Pada saat menentukan pilihan tempat yang diambil sebagi tempat berbelanja atau membeli produk sesuai dengan kebutuhan, persepsi konsumen terhadap pelaksanaan atribut program pemasaran yang diketahuinya menjadi sangat penting. Hal ini ditunjukkan oleh tabel 4.27, yang berisi informasi bahwa sebagian besar responden menyatakan setuju dan sangat setuju bahwa persepsi mereka terhadap pelaksanaan atribut program pemasaran produk fashion imitasi di pasar Gasibu mengarahkan mereka kepada keputusan untuk memilih pasar Gasibu sebagi tempat berbelanja dan produk fashion imitasi sebagi pilihan konsumsi.
            Kecuali pada hal perencanaan pembelian, terdapat beberapa responden (4%) yang menyatakan bahwa mereka tidak setuju persepsi mereka terhadap pelaksanaan atribut program pemasaran produk fashion imitasi di pasar Gasibu mendorong mereka untuk mrencanakan terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian. Hal ini lebih disebabkan responden yang bersangkutan cenderung melakukan pembelian spontan dan untuik kepentingan individu.
Tabel 4.27
Konsumen Pada Tahap Keputusan Pembelian
Atribut
SS
S
R
TS
STS
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Pengetahuan mendorong untuk membeli produk fashion imitasi
52
52
32
32
16
16
0
0
0
0
Produk fashion imitasi yang dibeli dalam 3 bulan terakhir
49
49
24
24
27
27
0
0
0
0
Merencanakan dulu sebelum membeli
31
31
37
37
28
28
4
4
0
0
Sumber : Data primer yang diolah
            Pengalaman yang diperoleh konsumen saat melakukan pembelian pada suatu tempat akan menimbulkan rasa puas atau tidak puas terhadap tempat maupun produk yang bersangkutan. Perlaksanaan atribut program pemasaran produk membentuk persepsi- persepsi dalam benak konsumen, jika persepsi yang terbentuk sesuai dengan pelaksanaan yang diharapkan oleh konsumen, maka konsumen akan merasa puas dan jika tidak, akan menimbulkan ketidakpuasan. Data pada tabel 4.28 di bawah menunjukkan bahwa mayoritas responden setuju dan sangat setuju bahwa pelaksanaan atribut program pemasaran produk fashion imitasi di pasar Gasibu Kota Bandung yang mereka rasakan telah mendatangkan kepuasan bagi mereka.
Tabel 4.28
Konsumen Pada Tahap Perilaku Setelah Pembelian
Atribut
SS
S
R
TS
STS
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Merasa puas dengan produk imitasi jenis fashion
27
27
30
30
33
33
10
10
0
0
Membeli produk imitasi fashion yang lain (mengulang pembelian)
27
27
34
34
35
35
4
4
0
0
Sumber : Data primer yang diolah

4.4.2. Analisis Kuantitatif Pengaruh Penawaran Produk Imitasi Jenis Fashion terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen Pasar Eceran Pekanan Gasibu Kota Bandung
                 4.4.2.1. Uji Validitas
Tabel 4.29
Descriptive Statistics


Mean
Std. Deviation
N
Y
46,3020
5,28309
100
X1
12,6768
1,96499
100
X2
17,2137
2,45876
100
X3
12,5897
2,24175
100
X4
7,9621
1,48870
100

                                                                                                  
Tabel 4.30
Correlations

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Y
X1
X2
X3
X4
Pearson Correlation
Y
1,000
,789
,829
,832
,750
X1
,789
1,000
,804
,709
,669
X2
,829
,804
1,000
,819
,745
X3
,832
,709
,819
1,000
,668
X4
,750
,669
,745
,668
1,000
Sig. (1-tailed)
Y
.
,000
,000
,000
,000
X1
,000
.
,000
,000
,000
X2
,000
,000
.
,000
,000
X3
,000
,000
,000
.
,000
X4
,000
,000
,000
,000
.
N
Y
100
100
100
100
100
X1
100
100
100
100
100
X2
100
100
100
100
100
X3
100
100
100
100
100
X4
100
100
100
100
100

            Rata-rata Proses pengambilan keputusan konsumen adalah 46,3020 dengan standar deviasi sebesar 5,28309.
Rata-rata Produk adalah 12,6768 dengan standar deviasi sebesar 1,96499.
Rata-rata Harga adalah 17,2137 dengan standar deviasi sebesar 2,45876.
Rata-rata Tempat adalah 12,5897 dengan standar deviasi sebesar 2,24175.
Rata-rata Promosi adalah 7,9621 dengan standar deviasi sebesar 1,48870.
Besar hubungan antar variabel Y dengan variabel X1 yang dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,789, sedangkan variabel Y dengan variabel X2 adalah 0,829, kemudian variabel Y dengan variabel X3 adalah 0,832, dan variabel Y dengan variabel X4 adalah 0,750. Secara teoritis, karena korelasi antara variabel Y dengan variabel X3 paling besar, maka variabel X3 lebih berpengaruh terhadap variabel Y dibanding variabel X yang lainnya.
Terjadinya korelasi yang cukup kuat antara variabel-variabel X menandakan adanya multikolinearitas atau korelasi diantara variabel bebas. Tingkat signifikansi koefisien korelasi satu sisi dari output menghasilkan angka 0,000 atau praktis 0. Karena probabilitas jauh di bawah 0,05, maka korelasi diantara variabel Y dengan variabel X1, X2, X3, dan X4 sangat nyata.
                 Tabel 4.31
                      Variables Entered/Removed(b)

Model
Variables Entered
Variables Removed
Method
1
X4, X3, X1, X2(a)
.
Enter
a  All requested variables entered.
B  Dependent Variable: Y
                                             Tabel 4.32
                                                                                                                Model Summary

     
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Change Statistics
R Square Change
F Change
df1
df2
Sig. F Change
1
,897(a)
,805
,796
2,38383
,805
97,813
4
95
,000
a  Predictors: (Constant), X4, X3, X1, X2

                Tabel Variables Entered menunjukkan bahwa tidak ada variabel yang dikeluarkan (removed), atau dengan kata lain keempat variabel bebas dimasukkan ke dalam perhitungan regresi.
            Angka R squere adalah 0,805. Hal ini berarti 80,5% proses keputusan pembelian konsumen dapat dijelaskan oleh variabel X1, X2, X3 dan X4. Sedangkan sisanya  (100% - 80,5% = 19,5%) dijelaskan oleh sebab-sebab lainnya.
                                                           Tabel 4.33
                                                                                ANOVA(b)

Model

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
2223,342
4
555,836
97,813
,000(a)

Residual
539,851
95
5,683



Total
2763,194
99



a  Predictors: (Constant), X4, X3, X1, X2
b  Dependent Variable: Y

Tabel 4.34
Coefficients(a)

Model

Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig.
Correlations


B
Std. Error
Beta


Zero-order
Partial
Part
1
(Constant)
14,668
1,729

8,483
,000




X1
,673
,210
,250
3,206
,002
,789
,312
,145

X2
,327
,216
,152
1,512
,034
,829
,153
,069

X3
,920
,190
,390
4,846
,000
,832
,445
,220

X4
,740
,247
,209
2,993
,004
,750
,294
,136
a  Dependent Variable: Y

Dari uji ANOVA atau F test, didapat F hitung adalah 97,813 dengan tingkat signifikansi 0,0000. Karena probabilitas (0,000) jauh lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksikan proses keputusan pembelian konsumen. Atau dapat dikatakan, atribut-atribut marketing mix pada penawaran produk imitasi jenis fashion di pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung secara bersama-sama berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian konsumen.
Tabel selanjutnya menggambarkan persamaan regresi:
Y = 14,668 + 0,673 X1 + 0,327 X2 + 0,920 X3 + 0,740 X4
Dimana:
Y   = Proses Keputusan Pembelian Konsumen
X1 = Produk
X2 = Harga
X3 = Tempat
X4 = Promosi
Uji t untuk menguji signifikansi konstantadan variabel dependent (X1, X2, X3, X4). Di sini akan dicontohkan uji koefisien regresi dari variabel X1 (Produk)
Hipotesis untuk kasus ini:
Ho: Koefisien regresi tidak signifikan
Hi: Koefisien regresi signifikan
Dasar Pengambilan keputusan, berdasarkan probabilitas:
Ø  Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima.
Ø  Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak.
 Keputusan:
Terlihat bahwa pada kolom Sig/significance adalah 0.002, atau probabilitas jauh di bawah 0,05, maka Ho ditolak, atau koefisien regresi signifikan , atau produk benar-benar berpengaruh secara signifikan terhadap Proses keputusan pembelian konsumen. Uji yang sama, jika diterapkan pada variabel X2, X3 dan X4, akan menghasilkan kesimpulan yang sama, yaitu variabel X2, X3 dan X4 benar-benar berpengaruh secara signifikan terhadap Proses keputusan pembelian konsumen.
               
 4.4.2.2. Uji Reliabilitas

                                Tabel 4.35
            Case Processing Summary Variable X

 
 

N
%
Cases
Valid
100
100,0
Excluded(a)
0
,0
Total
100
100,0
a  Listwise deletion based on all variables in the procedure.

                                                                        







                                                              Tabel 4.36

                                             Reliability Statistics Variable X

  
 
  
 
 
Cronbach's Alpha
Part 1
Value
1,000
N of Items
1(a)
Part 2
Value
1,000
N of Items
1(b)
Total N of Items
2
Correlation Between Forms
,791
Spearman-Brown Coefficient
Equal Length
,883
Unequal Length
,883
Guttman Split-Half Coefficient
,879
a  The items are: Genap, Genap.
b  The items are: Ganjil, Ganjil.


                                Tabel 4.37
            Case Processing Summary Variable Y

 
 

N
%
Cases
Valid
100
100,0
Excluded(a)
0
,0
Total
100
100,0
a  Listwise deletion based on all variables in the procedure.

                                                              Tabel 4.38
                                             Reliability Statistics Variable Y

  
 
  
 
 
Cronbach's Alpha
Part 1
Value
1,000
N of Items
1(a)
Part 2
Value
1,000
N of Items
1(b)
Total N of Items
2
Correlation Between Forms
,648
Spearman-Brown Coefficient
Equal Length
,787
Unequal Length
,787
Guttman Split-Half Coefficient
,787
a  The items are: Genap, Genap.
b  The items are: Ganjil, Ganjil.

            Instrumen realibel jika Koefisien Reliabilitas Spearman-Brown bernilai positif dan signifikan (Singarimbun 1995:139). Signifikan jika sig-2-tailed (ρ-value) < α = 0,05 atau r > r tabel = 0,195. Koefisien korelasi Pearson antara skor total belahan ganjil dengan skor total belahan genap = rb
Penawaran produk imitasi jenis fashion, rp = 0,883 (signifikan)
Proses keputusan pembelian konsumen, rk = 0,787 (signifikan)
Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen penawaran produk imitasi jenis fashion dan proses keputusan pembelian konsumen adalah reliabel. Semakin tinggi nilai koefisien reliabilitas suatu instrumen menunjukkan semakin tingginya kehandalan instrumen tersebut.
            Tabel hasil uji reliabilitas tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap variabel penelitian yang dipergunakan telah memnuhi kriteria reliabel. Hal ini memberikan informasi bahwa jawaban responden terhadap kuesioner yang dipergunakan memperlihatkan kekonsistenan, sehingga hasil perolehan skor jawaban kuesioner dapat dipergunakan dan dianalisis lebih lanjut.
Dari kedua tabel reabilitas di atas (Variabel X dan Y) dapat dilihat bahwa koefisien reabilitas Spearman-Brown positif dan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan realibel sehingga tidak diperlukan adanya penyisihan item dari kuesioner atau tidak perlu ada pergantian dengan item perbaikan.
          4.4.2.3. Analisis Korelasi Linier Sederhana
          Setelah angka korelasi didapat, maka bagian selanjutnya dari output SPSS adalah menguji apakah angka korelasi yang didapat benar-benar signifikan atau dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan dua variabel.
Hipotesis:
Ho: Tidak ada hubungan (korelasi) antara dua variabel atau angka korelasi 0.
Hi: Ada hubungan (korelasi) antara dua variabel atau angka korelasi tidak 0.
Uji dilakukan dua sisi karena akan dicari ada atau tidak ada hubungan / korelasi, dan bukan lebih besar / lebih kecil.
Dasar pengambilan keputusan :
a.       Berdasarkan probabilitas
Ø  Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima.
Ø  Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak.
Keputusan:
            Pada bagian kedua output (kolom Sig. (2-tailed)) didapat serangkaian angka probabilitas. Terlihat pada tabel korelasi X maupun tabel korelasi Y menunjukkan bahwa lebih dari 90% dari bagian kedua output (kolom Sig. (2-tailed)) memiliki korelasi secara signifikan (probabilitas yang lebih kecil dari 0,05). Karena itu, dapat disimpulkan bahwa mayoritas dari variabel pada tabel korelasi X maupun tabel korelasi Y berkorelasi secara signifikan.
b.      Berdasarkan tanda ** yang diberikan SPSS
            Signifikan tidaknya korelasi antar variabel dapat dilihat dari adanya tanda ** pada pasangan data yang dikorelasikan (lihat Flag significant correlationpada proses perhitungan korelasi). Dari output variabel pada tabel korelasi X maupun tabel korelasi Y terlihat bahwa lebih dari 90% variabel mendapatkan tanda **, hingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas dari variabel pada tabel korelasi X maupun tabel korelasi Y berkorelasi secara signifikan.Perhatikan bahwa kedua cara diatas menghasilkan kesimpulan yang sama.
            Mengenai jumlah data yang berkorelasi dari output variabel pada tabel korelasi X maupun tabel korelasi Y terlihat bahwa tidak ada satupun data yang hilang dari variabel X maupun variabel Y. Sehinggadapat disimpulkan bahwa semua data yang di-input ke dalam SPSS seluruhnya dapat diolah secara utuh dan dapat dikorelasikan.
           

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Pengunjung Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung berasal dari kalangan yang luas dan sangat kompleks, sehingga dibutuhkan sebuah manajemen pemasaran yang baik dan sistematis untuk dapat “mengcover” semuakarakteristik konsumennya yang beragam tersebut.
  2. Banyak hal menarik yang membuat banyak orang yang mengunjungi pasar eceran pekanan Gasibu kota Bandung tiap pekannya. Apakah karena faktor produk yang ditawarkan disana memiliki variasi produk yang banyak, atau karena harga produk yang ditawarkan disana relaitif dibawah harga normal yang berlaku, atau tempat penjualan dimana terdapat korelasi antara olah raga pagi dengan berbelanja, dapat juga hanya sebuah trend untuk mengunjungi Gasibu tiap hari minggu.
  3. Berdasarkan pengolahan data dari kuesioner yang disebarkan kepada konsumen Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung, diperoleh informasi bahwa pelaksanaan keempat atribut program pemasaran produsen dan konsumen Pasar eceran pekanan Gasibu Kota Bandung sudah cukup baik. Namun tetap saja masih ada kesenjangan yang bernilai negatif. Kesenjangan yang paling lebar walaupun tetap dinyatakan signifikan karena jauh dari 0,05 adalah pada variabel harga sedangkan yang paling sempit ada pada variabel tempat.
  4. Berdasarkan perhitungan statistik, secara bersama-sama variabel bebas memiliki hubungan searah (positif) dengan variabel terikatnya atau dengan kata lain terdapat hubungan searah antara penawaran produk imitasi jenis fashion di Pasar Gasibu dengan proses keputusan pembelian yang dibuat oleh konsumen.  Dan setelah dilakukan perhitungan korelasi linear sederhana, juga didapatkan variabel bebas memiliki hubungan searah (positif) dengan variabel terikatnya.
  5. Penawaran produk imitasi jenis fashion di Pasar Gasibu memiliki pengaruh terhadap proses keputusan pembelian yang dibuat oleh konsumen. Berdasarkan nilai Adjusted R Squere yang diperoleh dapat dikatakan bahwa pengaruh yang diberikan antar variabel ini kuat yaitu 79,6%. Selanjutnya setelah dilakukan uji signifikansi diketahui bahwa seluruh atribut program pemasaran memiliki pengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian konsumen. Hanya saja nilainnya saja yang berbeda.

5.2. Saran
            Berdasarkan kesimpulan di atas, maka berikut ini saran-saran yang dapat diberikan dari penelitian ini:
  1. Karena konsumen menilai pelaksanaan atribut program pemasaran produk fashion imitasi di pasar Gasibu sudah cukup baik. Demikian juga dengan fungsi yang seharusnya dapat diberikan atribut-atribut tersebut sudah dapat dirasakan secara baik oleh konsumen, namun tetap saja ada beberapa bagian responden yang tidak sepaham dengan hal tersebut, sehingga pihak produsen dan pedagang harus terus memperbaiki kinerjanya dengan memberi prioritas pada atribut-atribut yang memiliki kesenjangan yang paling lebar agar persepsi yang terbentuk selanjutnya serta kepuasan yang akan dirasakan dapat lebih baik.
  2. Faktor produk dan tempat dinyatakan berpengaruh signifikan terhadap proses keputusan pembelian konsumen disusul dengan dua faktor selanjutnya. Oleh karena itu, produsen dan pedagang Pasar Gasibu harus benar-benar memanfaatkan segala potensi yang mampu diberikan oleh kedua atribut tersebut serta terus mengoptimalkan potensi dari dua atribut yang lainnya. Seperti harga yang murah harus diikuti dengan kualitas produk yang ditawarkan.
  3. Pengemasan suasana transaksi yang seharusnya dilakukan oleh produsen perlu disesuaikan dengan profil dan karakteristik mayoritas konsumen, karenanya produsen dan pedagang pasar Gasibu perlu lebih banyak mengenal konsumennya.

DAFTAR PUSTAKA


Afzalurrahman, Muhammad sebagai Pedagang (Muhammad as A Trader). 1997. Yayasan Swarna Bhumy: Jakarta

Al Qur’an, terjemahan

Bakrie, Aburizal. Muhammad Tokoh Sejarah, Analisa Pengantar Kamar Dagang dan Industri. 1997. Yayasan Swarna Bhumy: Jakarta

Berman, Berry and Joel R. Evans, Retail Management: A Strategic Aproach. 7thedition. 1998. Prentice-Hall, inc: New Jersey

Davidson, William R. Daniel J. Sweeney and Ronald W. Stampfl, Retailing Management 6th edition. 1988. John Wiley and Sons: Canada

James F. Engel, Rogers D. Blackwell, Paul W. Miniard. Perilaku Konsumen. 1994. Binarupa Aksara: Jakarta.

John C. Mowen, Michael Minor, Consumer Behavior fifth edition. 1998. Prentice- hall: Upper Saddle River, New Jersey.

J. Paul Peter dan C. Olson. Consumer Behavior & Marketing Strategy. 1999. McGraw Hill: USA.

Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran jilid I. 2003. Prentice Hall: Jakarta.

Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran jilid II. 2003. Prentice Hall: Jakarta.

Leon G. Schiffman dan Leslie Lazar Kanuk. Perilaku Konsumen. 2004. PT Indeks Kelompok Gramedia: Jakarta.

Qardhawi, Yusuf. Anatomi Masyarakat Islam. 1999. Pustaka Al Kautsar: Jakarta

Robbins, Stephen P. and Mary Coulter, 1999. Marketing 6th Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc

Shabir, Muslich. Terjemah Riyadush Shalihin. Jilid I. 1980. CV Toha Putra: Semarang

Shabir, Muslich. Terjemah Riyadush Shalihin. Jilid II. 1980. CV Toha Putra: Semarang

Singarimbun, Masri. Metode Penelitian Survey. Cetakan Kedua. 1997. PT Pustaka LP3ES Indonesia: Jakarta.


Sudjana. Statistik untuk Ekonomi dan Niaga. 1997. Tarsito: Bandung.

Sugiyono. Statistik Untuk Penelitian. Cetakan ketujuh Januari 2005. CV Alfabeta: Bandung