Mengenai Saya

Foto saya
My formal education : SMPN 4 Bekasi, SMAN 4 Bekasi. I'm a university student in Gunadarma University. Faculty of Economics. Bachelor Degree of Management. Strata 1. Class 3 EA 10 ( superior class ). NPM 10208241 Please visit http://10208241.student.gunadarma.ac.id/kursus.html http://10208241.student.gunadarma.ac.id/tugas.html My handphone number +62 856 9755 2992. Give priority to education. Competence, idea, initiative, optimist, logical, spirit. Working with professionalism. I believe with my ability..

Minggu, 26 Desember 2010

Persepsi Konsumen



Persepsi Konsumen

Mata Kuliah Softskill : Perilaku Konsumen.

Persepsi Konsumen


BAB I
PENDAHULUAN

Persepsi Konsumen

Ries dan trout (1987) mengatakan bahwa pemasaran adalah peperangan antar produsen untuk merebutkan persepsi konsumen. Demikian pentingnya persepsi di benak konsumen, sehingga bermacam-macam sterategi dirancang perusahaan supaya produk dan mereknya bisa menjadi nomor satu di benak konsumen.

Konsep persepsi

Schifmann dan kanuk (2000) mentebutkan bahwa persepsi adalah cara orang memandang didunia ini. Dari definisi yang umum dapat dilihat bahwa persepsi seseorang akan berbeda dari yang lain.cara memandang dunia sudah pasti dipengaruhi oleh sesuatu dari dalam maupun luar orang itu.
Solomon (1999) mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana sensasi yang diterima oleh seseorang dipilah dan dipilih, kemudian diatur dan diinterpretasikan. Untuk memahami definisi ini, pertama harus diketahui dulu apa yang dimaksud dengan sensasi. Sensasi datang dan diterima oleh manusia melalui panca indra. Input sensorik atau sensasi yang diterima oleh system sensorik manusia disebut juga dengan stimulus. Stimulus ini membangkitkan pengalaman sensorik orang tersebut dalam menggunakan produk serupa, maka walaupun sia tidak bisa membaui wewangian yang ada diiklan, dia ingat wewangian yang dipakai pacarnya dan juga kelembutan rambutnya yang digerai, sensasi yang pernah dialami pada waktu pertemuan dengan sang pacar diminggu yang lalu.

Dapat disimpulkan bahwa ada faktor-faktor yang mempengarui pembentukan persepsi orang. Faktor-faktor itu adalah:
 

> Faktor internal :
pengalaman
kebutuhan saat itu
nilai-nilai yang dianut
ekspektasi/pengharapanya


> Faktor eksternal :

tampakan produk
sifat-sifat stimulus
situasi lingkungan

Jadi,  reaksi individu terhadap suatu stimulus akan sesuai dengan pandanganya terhadap dunia ini terhadap realitas yang dibentuk dari faktor-faktor di atas.



BAB II
PEMBAHASAN
Pengaruh Komunikasi Pemasaran terhadap Sistem Sensorik

Penglihatan
Pemasaran sangat mengandalkan fungsi penglihatan konsumen dalam hampir sama kiat pemasarannya. Berbagai bentuk periklanan yang digunakan, kemasan produk, rancangan oko, etalase, front office hotel, sangat memperhatikan efek warna, sinar, bentuk, gaya, tata letak, ukuran, dan sebagainya. Semua itu dimaksudkan untuk memberikan ransangan pada pengliahatan konsumen atau prospek. Warna seringkali diasosiasikan juga dengan kejadian – kejadian tertentu. Asosiasi ini berhubungan dengan suatu yang dipelajari, seperti budaya, tradisi dan kebiasaan. Contoh: putih mencerminkan keadaan duka dan kematian di Cina dan beberapa Negara – Negara Asia,Sedangkan merah melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan. Dinegara barat, hitam adalah warna duka dan kematian. Warna lampu pijar dipercayai dapat mempengaruhi suasana, seperti misalnya, lampu putih (lampu neon) menimbulkan suasana dinamis, lampu pijar yang berwarna kuning memberikan kesan kehangatan, dan lain – lain. Jadi, konsumen membentuk ekspektasi akan kinerja produk dari warna produk dan kemasannya. Hal ini sangat penting bagi pemasar.

Bau/Aroma
Bau tertentu dapat mempengaruhi emosi seseorang, mengingatkan pada pwngalan di masa lampau dan mengurangi stress. Ini yang disebut sebagai “aroma therapy” yang dewasa ini sangat digemari orang. Seperti warna, bau pun menciptakan sensasi yang berhubungan dengan budaya atau sesuatu yang dipelajari. Sabun mandi dengan aroma buah yang sekarang banyak isukai, sepuluh tahun lalu diasosiasikan dengan sirup sehingga menimbulkan kesan lengket.

Bunyi/Suara
Musik terbukti mempunyai kekuatan tersendiri dalam kehidupan manusia. Musik hadir di setiap peristiwa, mewakili suasana hati (mood) manusia dari kesedihan, persahabatan maupun perayaan. Di kantor – kantor pun dialunkan musik dengan warna tertentu untuk mempengaruhi mood karyawan, mengurangi stress dan memberi semangat. Dalam komunikasi pemasaran untuk mempengaruhi konsumen, terutama terhadap suasana hati, musik memegang peranan yang penting, baik berupa musik latar maupun sebagai jingle yang dominant. Pengiklanpun mencari orang dengan suara yang sesuai untuk mengkomunikasikan pesannya. Kecepatan bicara pun ditentukan dalam tempo terbaik supaya bisa diterima konsumen atau prospek dengan baik.

Raba
Konsumen meraba perabot atau kain (bahan pakaian) dan menasosiasikan hasil rabaan itu dengan kualitas produk.

Rasa
Rasa terutama penting untuk produk – produk makanan dan obat – obatan. Selera konsumen dalam hal rasa pun berbeda. Sejalan dengan upaya pembedaan yang dilakukan produsen makanan, selera daerah maupun Negara menjadi objek yang menarik. Di Indonesia mulai popular masakan – masakan yang ke bart – baratan. Bermacam – macam keju mulai menjadi menu masakan di Indonesia. Begitu pula selera Thailand, dengan Tom Yamnya, telah dipakai produsen supermie untuk ekspansi produknya.. Sebaliknya, Indomie mulai merambah pasar internasional.

Eksposur
Sistem sensorik manusia mempunyai keterbatasan. Tidak semua sensasi atau stimulus bisa diterima system sensorik ini. Seringkaili konsumen kagum mendengar informasi bahwa ikan paus dapat mendeteksi bahaya dengan alat pendengarannya atau hiu mendeteksi mangsa dengan alat penciumannya, walaupun bahaya atau mangsa itu jauh sekali. Ini membuktikan bahwa binatang – binatang tersebut mempunyai kemampuan sensorik yang lebih tinggi dari manusia. Kemampuan system sensorik untuk menerima stimulus di pengaruhi factor – factor berikut:

Faktor fisik:
apakah alat – alat sensorik atau reseptor sensorik itu sehat.
Faktor intensitas stimulus, termasuk pengulangan stimulus.


Lefton (1982) menyebut keterbatasan sensorik ini dengan sensitivity, sedangkan batas itu sendiri disebut oleh Solomon (1999) sebagai sensory thresholds atau ambang rangsang sensorik. Ada dua macam ambang ransang yang perlu diperhatikan seorang pemasar.

a. Absolute Threshold (Ambang Rangsang Absolute)

Absolute Threshold adalah intensitas stimulus yang terendah yang dapat dideteksi oleh sitem sensorik. Dengan kata ain, absolute threshold adalah titik di mana seseorang dapat membedakan antara ‘ada’ dan ‘tiada’ nya suatu stimulus. Penelitian ambang rangsang panca indera menghasilkan data sebagai berikut:

Nilai Absolute Threhold dari Panca – Indera (Kindra dkk, 1994)

> Penglihatan Nyala lilin yang dapat dilihat dari jarak 30 mil pada malam yang
gelap tapi cerah.
> Bunyi Detak jarum jam tangan dalam kondisi yang tenag pada jarak 20 kaki.
> Rasa Satu sendok the gula dalam 2 galon air.
> Bau Setetes parfum disebar di suatu apartemen tiga kamar.
> Sentuhan Sayap kumbang yang jatuh pada pipi seseorang dari jarak 1 cm.

Bila seseorang sudah menyesuaikan diri terhadap intensitas stimulus tertentu, maka ambang rangsangnya akan meningkat karena dia sudah terbiasa dengan stimulus tersebut.
Billboard yang tidak pernah diganti atau diperbaharui, tidak akan menarik perhatian orang lagi. Pemahaman tentang ambang rangsang absolute ini dimanfaatkan oleh iklan sampo Clear. Clear tahu bahwa ambang rangsang pemirsa pada gambar iklan sampo yang menonjolkan rambut hitam tergerai indah seperti yang ditampilkan oleh hampir semua iklan sampo telah membuat ambang rangsang pemirsa terghadap gambar dan tema tersebut meningkat. Clear tidak menonjolkan rambut yang tergerai indah, tetapi menggunakan tema kekerasan.
Dengan demikian, stimulus yang diberikan mudah diterima system sensorik pemirsa.

b. Differential Threshold

Differential Threshold adalah perbedaan minimum antara dua stimulus yang dapat dideteksi oleh system sensorik manusia, yang sering disebut juga: ‘just noticeable difference’ (j.n.d.). Jadi, j.n.d. adalah titik di mana perubahan suatu stimulus menyebabkan perubahan sensasi. Kapasitas seseorang untuk mendeteksi perubahan dua stimulus yang berbeda adalah fungsi intensitas stimulus terdahulu. Semakinkuat stimulus yang pertama, maka dibutuhkan stimulus tambahan yang lebih besar supaya perbedaan antara keduanya terdeteksi.

PERSEPSI   SUBLIMINAL

Lefton (1982) mengartikan persepsi subliminal sebagai persepsi terhadap stimulus yang diberikan dibawah tingkat ambang rangsang sehingga penerima tidak sabar akan adanya stimulus itu. Pada umumnya, pemasar ingin mempengaruhi dengan memberikan stimulus sensorik diatas ambang rangsangnya. Akan tetapi, tidak semua stimulus/komunikasi pemasaran dibuat supaya jatuh diatas ambang rangsangnya. Beberapa iklan justru memberikan stimulis dibawah ambangnya yang disebut subliminal (kata lain untuk ambang rangsang adalah limien). Misalnya, dengan menampilkan gambar atau tilisan dalam ukuran kecil atau dengan memakai video seperti ilkan televisi , dalam menampilkan gambar dalam sekejap saja, atua gambar dengan berkecepatan tinggi. Stimulus dengan seperti ini akan meniggalkan pemirsa atau pembaca dengan imajinasinya sendiri. Dengan demikian, ia akan terdorong untuk memperhatikan gambar atau tulisan tadi dan cenderung mengingatnya karena adanya usaha untuk memuaskan keinginannya.
Pengaruh melalui persepsi tidak mudah karena pemasar tidak mau menanggung risiko yang terlalu besar. Risiko itu termasuk kalau pemirsa tidak bisa menangkap gambar atau tulisan yang cepat atau samar-samar. Kemampuan menangkap pesan pemasar yang demikian tergantung banyak faktor, seperti jarak TV dengan pemirsa, posisi pemirasa dihadapan televisi, dan masih banyak yang bersifat individual.


Perhatian
Perhatian berhubungan dengan sejauh mana usaha dicurahkan untuk malakukan aktivitas pemrosesan stimulus.karena kemampuan pemroses stimulus itu terbatas., maka tidak semua stimulus diproses. Perlu juga dikaji bahasan tentang selektivitas yang selanjutnya berakibat pada persepsi yang terbenak di benak konsuman.

Persepsi dan Selektivitas
Persepsi adalah fenomena yang selektif. Karena kapasitas memori dalam otak manusia terbatas,maka seseorang cenderung menyaring stimulus yang dihadapi, memilih dan memilih stimulus yang mana yang akan disimpan dalam memori. Dengan berkembangnya teknologi informasi, hamper semua orang mengalami kelebihan beban informasi. Hal ini juga terjadi dalam pemasaran. Konsumen dan prospek juga mengalami kelebihan beban informasi. Setiap hari mereka membaca, mendengar, dan menonton beratus-ratus iklan di berbagai media masa. Oleh karena itu, selektivitas sensorik manusia menjadi semakin meningkat.

Selective exposure : orang cenderung mengabaikan stimulus yang menyebabkan kekuatiran, ketidaknyamanan dan kepenatan. Pada umumnya, orang hanya tertarik pada stimulus yang dapat membantunya untuk mencapai tujuan (memenuhi kebutuhannya). Bila konsumen terekspos iklan di televisi, mereka sering bermain dengan remote control, memilih eksposur yang mendukung pemuasan kebutuhannya.istilah-istilah yang perlu dalam eksposur yang selektif ditelevisi ataupun media massa, antara lain :
Zipping : memindahkan saluran pada saat iklan dalam interlube sebuah film atau acara kesayangan
Zapping : sama sekali tidak mau melihat iklan , missalnya pada saat membaca jajalah.
Mutting : mengecilkan atau mematikan volume televisi ataupun radio pada waktu iklan.
Selective attention : orang yang cenderung selektif dalam perhatiannya pada atau keterlibatan dangan stimulus-stimulus yang berbeda.
Selective interpretation : stimulus yang diterima akan di interpretasikan secara aktif subyektif.
Selective retention : untuk efisiensi orang melupakan, menyaring atau gagal untuk
menyimpan stimulus yang di prioritasnya rendah atau tidak penting.


Perhatian juga selektif dalam hal cara konsumen merspon stimulus yang dihadapi, seperti konsumen berada digerai dengan banyak kategori produk yang dipajang. Berikut ini adalah gambaran perilaku mereka.

Evaked set : adalah urutan merek-merek yang spesifik dalam suatu kategori produk tertentu yang dipertimbangkan oleh konsumen pada waktu memilih produk untuk membeli. Merek yang berada di deretan paling depan, pastilah produk yang pernah dibeli dan memuaskan dan paling sering digunakan.
Inept set : adalah merek-merek yang dikeluarkan dari pertimbangan konsumen.
Inert set : adalah merek-merek yang dianggap tidak menarik karena tidak memiliki manfaat-manfaat tertentu.
Dewasa ini, beberapa saluran televisi menayangkan apa yang dinamakan informersial, dimana iklan suatu produk disajikan dalam bentuk cerita, kesaksian, dan demonstrasi. Komunikasi pemasaran yang satu ini sering kali dapat mengatasi selektivitas dalam eksposur, perhatian, interpretasi maupun proses penyimpanan data, karena apa yang dilihat/didengar oleh konsumen lebih merupakan informasi yang syarat akan logika (kognitif) dan unsure efektif sehingga informasi itu lebih mudah masuk ke dalam sensory store untuk kemudian dipasangkan dengan data yang sudah ada (pengalaman), diinterpretasi dan dienkode, lalu disimpan kedalam memori untuk kemudian menjadi persepsi.

Dinamika Persepsi

Stimulus mana yang akan lulus seleksi oleh seorang individu tergantung pada :

1.Sifat-sifat stimulus
Stimulus pemasaran termasuk cirri-ciri produk, atribut-atributnya, rancangan kemasan, nama merek dan iklan. Faktor stimulus yang paling penting persepsi konsumen adalah :
> Contrast, merupakan atribut yang paling kuat. Contrast menguatkan persepsi dengan menonjolkan perbedaan intensitas stimulus itu. Jadi konsumen menerima stimulus yang berhubungan dengan konteksnya. Hal ini mendasari prinsip sosok dan latar (figure and ground). Konsumen mempersepsi suatu sosok dalam konteksnya dengan latar. Prinsip sosok dan latar dalam iklan dikatakan gagal bila konsumen ingat pernah melihat iklan tersebut tetapi tidak dapat menyebabkan nama produknya. Mana yang sebenernya berfungsi sebagai sosok dan yang mana latar.
> Closure, pengetahuan adalah kecenderungan orang untuk mengisi, secara persepsi, bagian yang hilang dari stimulusyang tidak lengkap.
> Proximity, menurut prinsip kedekatan, benda atau artikel yang berdekatan satu sama lain dalam wawasan waktu maupun ruang akan di presepsi sebagai bagian-bagian yang berhubungan dari suatu pola atau konfigurasi.
> Similarity, dalam suatu konglomerasi stimulus, orang akan mempersepsi objek-objek yang kelihatan sama menjadi satu kelompok. Ada kecenderungan konsumen tidak mengelompokan produk-produk karena kemasan warna, kemasan, dan bahkan pada penempatan rak.
Ukuran, warna, posisi, dan usia dari stimulus itu. Ukuran, warna, dan posisi produk dalam stimulusatau dalam hal ini iklan harus sesuai dengan positioning produk; sedangkan stimulus yang baru tentu saja akan lebih menarik perhatian dari pada yang sudah usai.


2.Expectation (harapan) konsumen
Orang biasanya mempunyai harapan tentang apapun yang dihadapi, baik produk maupun orang. Harapan ini di bentuk dari pengalaman sebelumnya dari informasi yang dia peroleh melalui mendia masa dan dari kenalannya atau juga apa yang dia lihat, di raba dan di dengar saat itu. Itulah sebabnya pemirsa selalu disuguhi dengan preview film yang bakan ditayangkan di TV, peserta seminar selalu di beri informasi data pribadi dan pendidikan si pembicara, bahkan produkpun diberi kemasan dengan bahan, warna dan gambar tertentu. Semua itu merupakan suatu yang mengkondisikan prospek untuk membentuk expektasi. Expektasi konsumen terhadap sirup yang berwarna merah pastilah sirup dengan rasa rosen atau frambos, dan pasti bukan rasa jeruk. Sampo yang transparan membentuk expektasi tentang kemurnian dan kebersihan.

3.Motive
Motive adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan ini orang lebih memperhatika sesuatu yang menurut dia dapat memenuhi kebutuhan. Orang cenderung memasukan stimulus yang cocok dengan mitifnya ke dalam persepsi. Semakin kuat kebutuhan, semakin besar kecenderungan untuk mengabaikan stimulus yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan itu. Orang yang membutuhkan mobil akan tertarik pada iklan-iklan mobil, informasi tentang mobil, majalah atau tabloid otomotif, dan mengabaikan iklan dan informasi yang lain. Sebaliknya, orang yang memiliki motif melindungi diri, tidak akan bergeming dengan iklan rokok semenarik apapun, tetapi dia justru sangat tertarik pada keterangan tentang kandungan nutrisi pada kemasan makanan.

Pengaruh yang Mendistorsi Persepsi

Physical Appearance.
Orang cenderung suka pada kualitas yang mereka asosiasikan dengan orang-orang tertentu yang mirip dengan mereka dalam hal-hal tertentu yang relevan (dipersepsi sebagai orang yang mirip dia). Seleksi model iklan akan besar peranannya dalam mempengaruhi. Oleh karena itu, nasehat tentang cara memasak, untuk iklan-iklan makanan, sering menggunakan ibu-ibu dari berbagai profesi dan kelas social supaya dapat menarik kembali pasarnya yang telah di rebut oleh deterjen-deterjen lain. Bintang iklan yang menarik dan terkenal lebih persuasive dibandingkan yang lain.

Stereotype
Gambaran yang selalu ada dalam benak seseorang (stereotype) merupakan harapan orang tersebut akan terjadinya situasi-situasi khusus atau munculnya orang-orang tertentu atau kejadian-kejadian tertentu dalam suatu situasi. Hal ini penting dalam menentukan persepsi konsumen terhadap suatu stimulus. Misalnya, perempuan adalah stereotip dari ibu rumah tangga walaupun sekarang sudah banyak berubah. Jadi. Iklan bahan pencuci/pembersih alat-alat rumah tangga selalu menggunakan model wanita bukan pria. Untuk produk-produk yang berhubungan dengan mobil, pengiklanan menggunakan figure pria.

Sumber-sumber yang dihormati biasanya member bobot persepsi yang lebih.
Beberapa waktu yang lalu Mandala Airlines menggunakan figur business man dalam iklannya. Subronto Laras pun tampil mendukung iklan Suzuki Karimun. Rhenald Kasali tampil memperkuat persepsi tentang Antangin JRG. Sedemikian pentinganya pemasaran sehingga orang-orang penting dan orang-orang pintar pun bisa digaet untuk menjadi endorser.

Irrelevant Cues
Orang membeli sesuatu dengan atribut produk yang sebetulnya bukan atribut inti dari produk, misalnya, membeli mobil karena tertarik pada aksesorisnya. Membeli produk dalam jumlah banyak karena tertarik pada hadiahnya yang imut.

First Impressions atau kesan pertama
Sesuatu yang sangat berkesan sulit untuk diubah, bahkan cenderung bersifat selamanya. Perkenalan produk adalah tahap sangat penting yang akan masuk dalam persepsi konsumen. Oleh karena itu, harus didahului dengan perancangan yang hati-hati. Bila kesan pertama ini positif, maka pemasar sudahmemperoleh keuntungan besar dalam positioning dan repositioning produk tersebut.

Jumping to Conclusions
Seringkali orang menyimpulkan, terutama dalam hal kinerja produk, sebelum melihat bukti-bukti yang relevan. Bila seseorang mendengar bahwa memakai mesin cuci dari suatu merk, rusak dalam satu bulan, dia menyimpulkan bahwa merk itu kualitasnya buruk. Dapat dikatakan bahwa dia sudah jumped into conclusion.

Halo Effect
Kesan umum (baik maupun buruk) yang diberikan pada interpretasi stimulus yang tidak penat. Persepsi tentang orang yang berbicara dengan tidak menatap mata lawan bicaranya bahwa orang tersebut tidak jujur. Jika Rinso ternyata hebat, maka produk-produk Unilever yang lain juga hebat.

Kualitas yang Dipersepsi
Pada umumnya, konsumen menentukan kualitas suatu produk berdasarkan pada berbagai macam isyarat informasi yang dihubungkan dengan produk tersebut.

Isyarat Intrinsik
Ukuran, warna, rasa, atau aroma. Isyarat ini dianggap lebih rasional dan obyektif karena atribut itu merupakan stimulus yang dapat diterima oleh panca indera.

Isyarat Ekstrinsik
Bersifat diluar (eksternal) produk seperti harga, citra toko, atau citra produsennya. Disinilah peran peran positioning menjadi penting sekali. Penelitian mengungkapkan bahwa konsumen sangat mempercayai harga sebagai indicator kualitas. Terapan ini sering digunakan untuk positioning produk.


Resiko yang Dipersepsi Konsumen (Perceived Risks)

Risiko selalu mengikuti setiap pengambilan keputusan; demikian juga keputusan beli. Ada atau tidaknya risiko itu seringkali tidak begitu obyektif, hanya saja orang. Risiko yang dipersepsi adalah risiko yang mempengaruhi perilaku konsumen risiko yang dipersepsi konsumen mencakup:

> Function risk atau performance risk, yaitu risiko bila produk tidak dapat memberikan kinerja seperti yang diharapkan.
> Physical risk, yaitu risiko pada diri sendiri atau orang lain yang mungkin akan diakibatkan oleh produk.
> Financial risk, yaitu risiko bila produk tidak sesuai dengan harganya.
> Social risk, yaitu risiko yang ditimbulkan bila ternyata produk yang dipilih malah menimbulkan penghinaan dan menyebabkan perasaan malu.
> Psychological risk, yaitu risiko bila produk malah melukai ego konsumen.
> Time risk, yaitu risiko bila waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan produk akan sia-sia karena kinerja produk tidak seperti yang diharapkan.
> Risiko legal, yaitu risiko terjadinya tuntutan hukum oleh pihak ketiga.

Persepsi tentang risiko ini tergantung pada banyak faktor.
Pertama, persepsi tentang risiko bias tegantung pada kategori produk. Kategori produk tentang risiko Kedua, persepsi tentang risiko tergantung pada situasi waktu belanja. Ketiga, persepsi tentang risiko tergantung pada kebudayaan.

Bagaimana Konsumen Mengatasi Risiko?

Pengaruh dari risiko-risiko yang dipersepsi oleh konsumen itu tidak boleh diabaikan pemasa. Risiko tersebut akan semakin besar pada produk-produk yang harganya mahal, mudah dilihat orang lain, atau sangat menentukan status seseorang. Persepsi tentang resiko hanya bisa diperkecil namun tidak dapat dihilangkan. Konsumen yang mempersepsi risiko lebih besar cenderung (demi kemudahan) mengelak dari produk yang ditawarkan. Bila motifasi untuk mendapatkan produk cukup besar, untuk menghilangkan ketegangan (disharmoni) yang dialami mereka akan berusaha meyakinkan diri bahwa risiko itu tidak sedemikian besarnya dengan perilaku-perilaku berikut ini.

Konsumen mencari informasi
Informasi - informasi yang didapat akan digunakan untuk mempertimbangkan penentuan alternatif-alternatif dan akhirnya dalam mengambil keputusan beli.

Brand  loyalty
Konsumen memilih produk berdasarkan pengalaman penggunaan atau konsumsi produk di waktu-waktu yang lalu, yang pernah memberikan kepuasan.

Konsumen memilih berdasarkan brand-image atau citra produk/merek
Konsumen membeli model yang paling mahal. Konsumen mempersepsi adanya korelasi positif antara harga dan kualitas.
Konsumen mencari jaminan, mencoba sebelum membeli, dan sebaliknya, perilaku ini banyak digunakan oleh pemasar, terutama untuk produk-produk yang dipersepsi mengandung risiko cukup tinggi.


BAB III
KESIMPULAN


Persepsi konsumen adalah obyek yang sangat penting dalam permasaran. Yang perlu diketahui disini adalah bahwa persepsi konsumen adalah proses yang rumit, tidak hanya melibatkan panca indra, tetapi juga melibatkan factor-faktor psikologis. Dalam menangkap sensasi, system sensorik mempunyai batas-batas yang disebut ambang rangsang. Dalam hubungannya denngan ambang rangsang ini, pemasar harus memperhitungkan dengan cermat supaya pesan yang disampaikan bisa diterima secara efektif dan optimal oleh konsumen.


Pemasar, seperti yang dikatakan oleh Ries dan Trout (1987) harus melandasi pemikirannya pada persaingan yang terjadi antar produk dan antar merek, dalam memeperebutkan persepsi konsumen
yang positif.





SUMBER DAN DAFTAR PUSTAKA

James F. Engel, Rogers D. Blackwell, Paul W. Miniard. Perilaku Konsumen. 1994. Binarupa Aksara: Jakarta.

John C. Mowen, Michael Minor, Consumer Behavior fifth edition. 1998. Prentice- hall: Upper Saddle River, New Jersey.

J. Paul Peter dan C. Olson. Consumer Behavior & Marketing Strategy. 1999. McGraw Hill: USA.

Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran jilid I. 2003. Prentice Hall: Jakarta.

Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran jilid II. 2003. Prentice Hall: Jakarta.

Leon G. Schiffman dan Leslie Lazar Kanuk. Perilaku Konsumen. 2004. PT Indeks Kelompok Gramedia: Jakarta.

Peter, J. Paul and Jerry C.Olson. 2000. Consumen Behavior : Perilaku Konsumen dan Strategi Perusahaanan. Jilid 1,2. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Rangkuti, Freddy. 1997. Riset Perusahaanan. PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Rewaldt, dkk. 1991. Stategi Promosi Pemasaran. Rineka Cipta. Jakarta

Sutisna. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Perusahaanan. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung.



Mata Kuliah Softskill : Perilaku Konsumen