Mengenai Saya

Foto saya
My formal education : SMPN 4 Bekasi, SMAN 4 Bekasi. I'm a university student in Gunadarma University. Faculty of Economics. Bachelor Degree of Management. Strata 1. Class 3 EA 10 ( superior class ). NPM 10208241 Please visit http://10208241.student.gunadarma.ac.id/kursus.html http://10208241.student.gunadarma.ac.id/tugas.html My handphone number +62 856 9755 2992. Give priority to education. Competence, idea, initiative, optimist, logical, spirit. Working with professionalism. I believe with my ability..

Minggu, 07 Agustus 2011

Bahasa Indonesia 2 : Tugas Kelima

Bahasa Indonesia 2 : Tugas Kelima

Kajian Mengenai Resensi   










  1.  1. Pengertian dan Tujuan Resensi adalah tulisan timbangan suatu hasil karya atau wawasan tentang baik dan kurang baiknya kualitas suatu tulisan yang terdapat dalam suatu karya. Resensi dapat pula diartikan sebagai suatu tulisan yang memberikan penilaian terhadap suatu karya baik fiksi maupun nonfiksi dengan cara mengungkapkansegi keunggulan dan kelemahannya secara objektif.Tujuan penulisan resensi adalah:
  2. a. Menimbang agar suatu hasil karya memperoleh perhatian dari orang-orang yang belum mengetahui atau membutuhkannya.
  3. b. Memberikan penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu hasil karya sehingga penilaian itu diketahui khalayak.c. Melihat kesesuaian latar belakang pendidikan/penguasaan ilmu pengarang dan kesesuaian karakteristik tokoh, penokohan, atau setting dengan bahan yang disajikannya.d. Mengungkapkan kelemahan suatu tuisan dan sistem penulisan atau alur suatu hasil karya.e. Memberikan pujian atau kritikan yang konstruktif terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra karya tulis seseorang.
  4. Cara Membuat ResensiPada saat kita akan membuat resensi nalar kita harus siap bahwa bahan-bahan yang akan diresensi betul-belul diketahui dan dikuasai. Dengan demikian hasil resensi kita bukan hanya mengungkapkan segalasesuatu yang terdapat dalam karya tersebut, melainkan mencakup pula uraian perbandingan dengan karya-karya lain yang sejenis. Hal-hal yang harus mendapat perhatian dari seorang resentator untuk membuat resensi:a. Resentator harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan meninggalkan sepenuhnya sikap subjektif.b. Resensator mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi.c. Resensaor harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian dengan bahan yang akan diresensi.d. Resensator harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara resensator dengan penulis.e. Resensator harus mengungkapkan data yang diresensi secara jelas dan lengkap agar dapat dengan mudah dihibung-hubungkan di antarra keduanya oleh pembaca.f. Resensaor harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang resensi dengan jalanmengetahul tujuan dan arah penulis karya tersebut.Bentuk resensi yang paling populer adalah resensi buku atau timbangan buku. Untuk meresensi buku pertama-tama kita harus membaca buku itu sampai selesai dan memahaminya. Setelah membaca buku tersebut kita akan dapat mengetahui bagaimana penulis buku mengungkapkan gagasannya sesuai dengan tujuan yang digariskannya.Bagian yang harus ada dalam karangan resensi adalah identitas buku, jenis buku, kutipan singkat/ikhtisar buku, penilaian resensator terhadap kualitas buku, dan ajakan kepada khalayak untuk mengetahui isi buku secara keseluruhan dengan jalan membaca atau memiliki buku tersebut.a. Identitas bukuIdentitas buku meliputi: foto copy jilid luar buku atau foto buku tersebut, judul buku, pengarang, penerbit,tahun terbit, kota terbit, ukuran buku, jumlah halaman, dan harga buku.b. Jenis BukuPada bagian jenis buku, resensator mengelompokkan jenis buku tersebut berdasarkan ciri-ciri yangterdapat di dalam buku itu. Misalnya kita mengenal jenis fiksi, nonfiksi, ilmiah, nonilmiah (hiburan), buku remaja, anak-anak, dewasa, keagamaan, psikologi, dan sebagainya.c. Kutipan Singkat atau Ikhtisar BukuBagian yang mengungkapkan kutipan singkat atau ikhtisar buku tersebut adalah bagian yang menjadi idesentral buku itu. Hal itu akan diketahui jika resensator memahami seluruh isi buku itu danmenghubungkannya dengan isi buku yang diresensi. Gambaran umum tentang isi buku pun dapat digunakanuntuk mengisi bagian buku lain, tentama gambaran yang dapat “ditangkap” oleh resensator tetapi bukanmenginterpretasi.d. Penilaian Kualitas BukuPenilaian terhadap kualitas suatu buku tentu saja bertolak dari pengungkapan beberapa bagian yang dapatdiunggulkan dari isi buku tersebut dan bagian yang melemahkan kualitas buku tersebut dengansikap/wawasan yang sangat luas dan sikap objeklivitas tinggi. Pada bagian ini dapat pula dimasukkan kritikterhadap isi buku.e. AjakanAjakan dalam resensi adalah ajakan kepada pembaca yang belum memiliki atau membaca buku tersebut.Ajakan yang dimaksud bertolak dari ungkapan kualitas suatu buku yang diharapkan dapat dibaca dandipahami bagi khalayak yang belum mengetahuinya.f. JudulResensiJudul yang digunakan untuk karangan resensi merupakan gambaran kesimpulan isi buku itu secarakeseluruhan atau ciri khas dari buku yang resensi agar tampak lebih menonjolkan eksitensi isi bukutersebut. Cara lain dalam memberikan judul resensi adalah menggambarkan suatu hal yang “kecil” tetapimempunyai citra tersendiri dari buku itu dengan argumentasi yang kuat dari resensator tentang hal yangkecil itu. Dapat dikatakan judul tulisan resensi adalah “nama” atau “julukan” yang diberikan oleh seorangresensator terhadap buku yang diresensinya.                 





     

    Judul Novel : Tempurung
    Penulis : Oka Rusmini
    Tebal Halaman : 459 halaman
    Penerbit : Grasindo, 2010

    Oleh : Kendar Umi Kulsum

    Bicara tentang perempuan akan selalu menjadi topik yang menarik. Entah dari sudut pandang manapun perempuan adalah subyek sekaligus obyek diskusi maupun pergunjingan yang tidak akan habis. Apalagi jika bicara tentang seksualitas perempuan, topik selalu menjadi wacana dengan beragam perspektif baik itu agama, sosial atau pun akademis.
    Perbincangan tentang perempuan melampaui seluruh diskursus itu yang dikisahkan oleh Oka Rusmini dalam novelnya berjudul Tempurung. Penulis membicarakan seluruh persoalan yang dihadapi oleh perempuan, baik itu agama, budaya dan tradisi. Penulis sangat jeli dan kritis melihat persoalan yang paling mendera perempuan, yaitu tubuhnya. Tubuh, terutama tubuh perempuan adalah sasaran utama dari sebuah kekuasaan, dan dari tubuh- tubuh itulah persoalan perempuan bermula.
    Kisah novel ini diawali dengan cerita narator sebagai tokoh yang bercerita tentang dirinya sendiri maupun tokoh – tokoh lain dalam novel ini. Adalah tokoh Aku seorang perempuan penulis dengan satu anak bersama suaminya yang juga penulis. Dia mengisahkan perempuan – perempuan lain dengan saling menjalin satu sama lain, meski bukan merupakan hubungan sebab akibat.
    Adalah Kecombrang, bunga yang dipersonifikasi sebagai liar, eksotis dan seksi. Anatomi Kecombrang yang seperti lingga dengan kelopak dan batangnya yang keras mampu melambungkan imajinasi perempuan. Personifikasi akan Kecombrang menunjukkan keliaran imajinasi penulis sekaligus kritis melihat suatu fenomena. Kesan itu sangat terlihat dalam seluruh bagian novel ini. “Aku berpikir tentang tubuhku, maka aku ada”, adalah tulisan Simone de Beauvoir seorang feminis Perancis. Seperti ungkapan penulis tentang perempuan, “Kadang aku berpikir, perempuan tak hanya perlu genit, kadang harus sedikit seronok, sedikit nakal dan berani. Bukankah tubuh mereka adalah rajutan keindahan sejati?” (hl : 3). Oka telah menerabas tabu tentang tubuh perempuan, dia tidak patuh pada pandangan dominan bahwa tubuh perempuan harus diatur sesuai kultural dan dogma agama.
    Kisah dalam novel ini berisi berbagai karakter dan tokoh yang masing-masing memiliki persoalan hidup sendiri dan tidak selalu berkaitan satu dengan lainnnya. Yang terjadi hanyalah pertemuan atau pertalian yang tidak sengaja antara satu dengan lainnya hingga seperti potongan gambar yang bertemu. Puzzle tentang perempuan! Mungkin ini kata yang paling tepat untuk menggambarkan kisah beberapa perempuan dalam novel itu.
    Persoalan seksualitas menjadikan tubuh perempuan seperti terpenjara oleh berbagai aturan budaya dan stereotip pandangan dominan. Kenyataan itu membuat perempuan asing dengan tubuhnya sendiri. Kekerasan yang terjadi pada seorang perempuan kadang melahirkan sebuah kekerasan baru, rantai kekerasan seperti berpola dan menimbulkan korban lain. Dalam hal ini budaya patriarki menjadi palu godam kekerasan bagi perempuan, penulis mengisahkannya dengan kuat dan tajam.
    Oka sangat kritis menampilkan budaya masyarakat Bali, tidak sekedar memaparkan saja juga menampilkan benturan kepentingan dan hasrat serta mimpi individu. Ini menunjukkan Oka mampu menjaga jarak dengan tradisi dan kebudyaan tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Sebagai keturunan Ida Ayu, tidak membuat Oka terhanyut dengan status sosial dan berbagai keramahan tradisi pada darahnya.
    Persoalan perempuan tidak mengenal kasta, demikian kisah Oka Rusmini. Meski tidak dipungkiri perempuan dari kasta rendah lah yang paling menderita. Seperti kisah Songi yang dijadikan pelacur oleh Rimpig ibunya sendiri agar mereka lepas dari kemiskinan. Songi hanya menjalani garis kehidupannya tanpa berbicara, bahkan ketika sang suami menghabiskan seluruh harta untuk berfoya-foya hingga dia jatuh miskin kembali. Tanpa ada penghargaan, sang suami justru memaki dan menyalahkan Songi karena pernah menjadi pelacur.
    Pandangan dominan masyarakat cenderung bersifat patriarkal dan membenci perempuan, bahkan memarjinalkan perempuan. Nasib inilah yang terjadi pada tokoh Sipleg, Songi dan Ni Luh Wayan Rimpig. Meski Rimpig mencoba bangkit dan melawan dominasi komunitasnya dengan caranya sendiri, yaitu melacurkan anaknya! Dalam hal ini Oka mampu mengeksplorasi kemiskinan menjadi kisah yang kuat dan memilukan. Karakter tokoh-tokoh yang diam seolah membisu adalah salah bentuk protes dan pemberontakan ketiga tokoh di atas pada masyarakatnya.
    Perkawinan tidak selalu melahirkan kebahagiaan! Demikian kisah Oka. Hal itu pun dapat menimpa semua perempuan dari berbagai kelas sosial. Ini ditampilkan Oka melalui tokoh Rosa, yang berdarah Bali dan Perancis. Ayah yang dingin dan ibu seorang intelektual yang selalu menjaga dan bahwa perkawinan mereka harmonis. Sedemikian kuatnya ibu menjaga martabat keluarga agar tampak harmonis membuat Rosa gamang akan arti perkawinan.
    Selain perempuan yang nyaris tidak berdaya kecuali menyimpan dendam, sosok Bu Barla pemilik warung menampilkan ketabahan. Bu Barla adalah perempuan mandiri penuh semangat yang bekerja keras demi kedua anaknya. Tetap menghargai suami meski sang suami hanyalah benalu, “Tiang (saya) tidak ingin anak-anak tahu bahwa ayahnya tidak dapat dibanggakan”, demikian ujar Bu Barla. Bagian kisah Bu Barla inilah yang dialami oleh banyak perempuan dalam perkawinannya. Perempuan akan selalu tampil kuat demi anak-anak dan mengabaikan peran suami
    Penulis mencoba jujur melihat realitas perempuan di Indonesia, Seperti komentar narator cerita, “ Aku melakukan ritual bagi diri sendiri sebelum aku melakukan tugas perempuanku : menjadi ibu, menjadi koki, menjadi pembantu (memasak, memandikan anak, memyiapkan ini-itu dan membersihkan rumah), menjadi buruh ditempat kerja, kadang menjadi pelacur untuk suamiku (hl :4).
    Ketika berbicara tentang novelnya yang kritis pada mitos dan tradisi Bali, Oka hanya menjawab, “Saya ingin mendokumentasikan budaya Bali agar tidak dilupakan orang”. Inilah kisah perempuan Bali versi Oka Rusmini. Dia mengetengahkan identitas dan posisi tawar perempuan dalam lingkungan yang sangat patriarki. Dan mempertanyakan kembali stigma seksualitas perempuan dalam masyarakatnya.                     





    Daftar Pustaka :




    Arifin, Zaenal dan Tasai, S. Amran. 2009. “Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan tinggi.” Jakarta : Akademika Presisindo.
    Wahyu. R.N., Tri 2006. “Bahasa Indonesia.” Jakarta : Universitas Gunadarma.
    Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.
    Arifin, E. Zaenal dan Junaiyah H.M. 2007. Morfologi untuk strata satu. Jakarta : Grasindo.
    Hakim, Lukman dkk. 2005. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Seri Penyuluhan 9. Jakarta : Pusat pembinaan dan pengembangan bahasa.
    Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2004. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Edisi Kedua. Jakarta : Balai Pustaka.
    Kridalaksana, Harimurti. 1975. “Beberapa Ciri Bahasa Indonesia Standar.” Dalam Majalah Pengajaran Bahasa dan Sastra. Tahun I Nomor 1. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
    Widjojo Hs. 2005. Bahasa Indonesia : Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo.
    Sugono, Dendy. 1978. “Kesalahan Tata Bahasa”. Dalam Majalah Suara Guru. Tahun XXVIII. Jakarta : Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia.